IRAN DAN IAEA SEPAKATI PROGRAM NUKLIR

Teheran, 4 Rabiul Akhir 1434/14 Februari 2013 (MINA) – Iran dan badan nuklir PBB, International Atomic Energy Agency (IAEA) telah mencapai kesepakatan dasar untuk bekerja sama dalam menyelesaikan isu yang beredar tentang program energi Republik Islam tersebut.

“Beberapa perbedaan dapat diselesaikan dan kesepakatan tentang beberapa permasalahan di awal telah dicapai,” kata Ali Asghar Soltanieh, utusan Iran untuk Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rabu (13/2). Ali menambahkan, proposal baru telah diajukan dalam pembicaraan tersebut tetapi mereka akan membahas hal itu pada pertemuan selanjutnya.

IAEA diharapkan bisa menjembatani perbedaan dengan Iran untuk memulai kembali penyelidikan yang sempat terhenti dalam meneliti proyek senjata nuklir yang diduga sedang dikembangkan oleh Teheran. Namun Iran telah secara konsisten menolak tuduhan tersebut.

Sementara itu, Catherine Ashton, diplomat tinggi Uni Eropa mengatakan Iran harus menunjukkan fleksibilitas dalam negosiasi mendatang untuk menyelesaikan sengketa atas kegiatan nuklirnya.

Catherine mengatakan kepada Dewan Keamanan PBB dalam sebuah pertemuan di New York bahwa isu nuklir Iran tetap menjadi perhatian utama Uni Eropa.

“Kami berharap Iran akan datang ke negosiasi ini secara lugas dan kita dapat membuat kemajuan substansial,” kata Catherine, yang merupakan Perwakilan Tinggi Uni Eropa untuk Urusan Luar Negeri dan Kebijakan Keamanan.

Misi Iran untuk PBB di New York adalah untuk mengeluarkan pernyataan seperti yang disampaikan oleh Catherine kepada DK PBB yang mengatakan bahwa Iran benar-benar berkomitmen untuk mematuhi Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir dan bekerja sama dengan IAEA.

Iran bersikap serius terhadap pembicaraan tersebut dan mengharapkan yang lain juga harus serius sehingga negosiasi berikutnya akan mengarah pada hasil yang positif dan bermanfaat.

Sanksi AS sebabkan beberapa masalah

Sebuah laporan terbaru yang diterbitkan oleh Woodrow Wilson International Center for Scholars setelah melakukan wawancara terhadap beberapa perusahaan farmasi Amerika dan Eropa yang mengekspor obat-obatan ke Iran menyebutkan, sanksi yang dipimpin AS terhadap Iran telah mengakibatkan penurunan hidup dan kekurangan obat-obatan di negara itu.

Laporan ini mencatat bahwa sanksi sepihak oleh Amerika Serikat dan Eropa memang menyebabkan gangguan dalam penyediaan obat-obatan penting dan peralatan medis di Iran. Menurut kesaksian oleh perwakilan perusahaan farmasi Amerika, sanksi telah membuat penjualan obat penting dalam transplantasi organ menjadi tidak mungkin.

“Tanpa pengganti yang layak untuk obat ini, penerima transplantasi organ di Iran tidak akan memiliki alternatif lain”.

Laporan tersebut menyimpulkan, sanksi AS telah menutup dana perbankan dalam mengekspor obat untuk Iran dan larangan mata uang Euro dan Dolar AS dalam perdagangan dengan Iran telah menyebabkan kekurangan obat-obatan di negara itu.

Sanksi yang dikenakan tanpa alasan ini menyebutkan Iran sedang melakukan program energi nuklir militer. Iran menolak tuduhan tersebut karena mereka telah menanda tangani dan berkomitmen pada Perjanjian Non-Proliferasi dan sebagai anggota Badan Energi Atom Internasional (International Atomic Energy Agency/IAEA), Iran memiliki hak menggunakan teknologi nuklir untuk tujuan damai.

Banyak pihak telah menyerukan agar Presiden AS, Barack Obama dipidanakan karena telah melakukan pembatasan ilegal dan pembunuhan anak-anak Iran.(T/P01/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

Rate this article!

Leave a Reply