JELANG PEMILU, MASALAH KEBEBASAN DI TEPI BARAT HARUS DISELESAIKAN

Gaza, 8 Rabiul Akhir 1434/18 Februari 2013 (MINA) – Anggota Biro Politik Hamas, Dr. Khalil al Hayya, menegaskan permasalah kebebasan di Tepi Barat yang terjajah harus diselesaikan untuk menghilangkan hambatan utama pencapaian rekonsiliasi Palestina dalam menyelenggarakan pemilu presiden dan legislatif Palestina.

“Hamas belum siap dan belum setuju untuk menyelenggarakan pemilu jika masalah kebebasan tidak diselesaikan di Tepi Barat yang terjajah”, kata Hayya seperti dilansir AlResalah yang dipantau Mi’raj News Agency (MINA).

Hayya mencatat, masalah kebebasan itu mencakup penangkapan tokoh politik dan penyitaan properti (harta/kekayaan). Ia juga menunjukkan, penangkapan tokoh politik di Gaza benar-benar telah dihentikan. Tercatat sekitar 95 anggota Fatah telah diizinkan untuk kembali ke Gaza.

Ia menekankan, kesepakatan yang terjadi antara Fatah dan Hamas mencakup semua permasalahan, termasuk masalah keamanan dan menegaskan hal itu menyepakati untuk menonjolkan koordinasi keamanan dan tentang peran perlawanan sebagai sebuah hak bagi setiap warga Palestina.

Para Pemimpin Palestina menunjukkan, kunjungan presiden AS Barack Obama dan sekretaris kenegaraan AS John Kerry ke kawasan itu pada bulan maret mendatang akan memicu terhambatnya rekonsiliasi Palestina.

“Saat Khaled Misy’al berbicara kepada Mahmoud Abbas tentang masalah ini, ia secara tegas mengatakan Amerika Serikat akan menekan otoritas Palestina,” Hayya menambahkan.

Pendaftar Pemilih Pemilu Palestina Meningkat

Sementara itu, Komite Pemilu Palestina melaporkan hasil pencatatan data pemilih pemilu Palestina hingga Jum’at (15/2), mencapai total 202.457 pemilih.

Jumlah hasil pendaftaran pemilih pemilu Palestina tersebut merupakan jumlah yang belum pernah terjadi pada pemilu Palestina sebelumnya. Komite pemilu Palestina pada pusat pendaftaran pemilih pemilu Palestina mencatat sekitar 155.469 pendaftar berada di Jalur Gaza dan sekitar 46.988 pendaftar berada di Tepi Barat.

“Perbedaan dalam dua persentase yang menonjol antara Tepi Barat dan Jalur Gaza tersebut dikarenakan pendaftaran pemilih di Tepi Barat diperbarui setiap tahunnya (pembaharuan pendaftaran terakhir bulan Agustus 2012), sementara itu pendaftaran pemilih di Jalur Gaza belum pernah diperbarui sejak 2007,” kata petugas Komite Pemilu Palestina seperti diberitakan Kantor Berita Palestina WAFA.

Sejak Juni 2007, gerakan Islam Hamas, yang mendominasi wilayah Jalur Gaza, belum memungkinkan Komite Pemilu Palestina untuk melakukan pendaftaran pemilih di daerah Palestina itu.

Kesepakatan pada awal tahun 2013 telah dicapai antara Presiden Mahmoud Abbas dan pemimpin Hamas Khaled Misy’al yang memungkinkan Komite Pemilu Palestina untuk melakukan pendaftaran pemilih di Jalur Gaza sebagai langkah awal untuk menyelenggarakan pemilihan presiden dan legislatif.

Pemilu tersebut direncanakan akan dilaksanakan tiga bulan setelah Komite Pemilu Palestina  menyelesaikan pendataan pemilih pemilu Palestina. Komite Pemilu Palestina membuka pendaftaran pemilih di Tepi Barat dan Gaza dengan menempatkan sebanyak 347 tempat pendaftaran di Tepi Barat dan 257 lainnya di Gaza yang dimulai pada 11 Februari sampai 19 Februari.

Komite Pemilu Palestina juga melaporkan, statistik menunjukkan jumlah pendaftar pemilih pemilu Palestina terendah berada di kota Hebron, Tepi Barat selatan dengan hanya 66% dari jumlah penduduk kota itu dari pendaftar yang baru terdaftar dan memenuhi syarat. (T/P02/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply