JERMAN DESAK TURKI BUKA AKSES KE SIPRUS

Ankara, 17 Rabiul Akhir 1434/27 Februari 2013 (MINA) –  Kanselir Jerman, Angela Merkel memulai kunjungannya ke Turki selama dua hari untuk mendesak negara itu membuka pelabuhan dan bandara ke Siprus. Pembukaan jalur transportasi ini dianggap dapat memfasilitasi akses pembicaraan dengan Uni Eropa. 

Dalam jumpa pers, Merkel mengutarakan solusi dari masalah Siprus adalah kunci bagi kemajuan Turki untuk masuk ke Uni Eropa, dan Turki harus menepati janji-janji di bawah protokol Ankara yang berisi persetujuan tahun 2005 dimana Turki bersedia membuka pelabuhan dan bandara untuk lalu lintas Siprus.

Desakan dari Jerman mendapat tanggapan Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan yang menekan negaranya untuk tidak berbelok dari tujuan akhir menjadi keanggotaan penuh Uni Eropa. Namun Ergodan menegaskan, Turki tidak mendukung sanksi terhadap Iran, menolak seruan Merkel untuk posisi dalam persatuan dengan AS dan Eropa.

Siprus adalah pulau di Mediterania yang dibagi dua sejak 1974, ketika militer Turki campur tangan dan menduduki bagian utara pulau yang banyak dihuni warga keturunan Turki, setelah kudeta dari sekelompok perwira Yunani. Sementara di bagian selatan pulau banyak dihuni warga keturunan Yunani. 

Sikap kedua pemimpin pemerintah ini sangat berbeda menanggapi sanksi terhadap Iran. Erdogan menyatakan, masalah atom harus diselesaikan melalui jalan diplomasi. Ia juga menyinggung kawasan lain di wilayah itu terdapat senjata nuklir dan tidak ada sanksi untuk itu.

Merkel mengatakan, Jerman akan kembali memberi sanksi jika Iran meneruskan program nuklirnya yang kontroversial dan tidak lebih transparan. “Kami akan senang jika Turki dinilai bersama-sama dengan AS dan Uni Eropa pada masalah Iran April mendatang,” katanya, merujuk pada KTT Keamanan Nuklir Internasional yang akan diselenggarakan di Washington.

Sementara Erdogan mengatakan, pemberian sanksi terhadap Iran sebelumnya dinilai telah gagal. Turki tercatat sudah lama membangun persahabatan dengan Iran. Turki merupakan partner terbesar kedua setelah Rusia yang berkerjasama di bidang energi dengan Iran. “Mengenakan sanksi bukanlah jalan keluar yang sehat. Solusi yang terbaik adalah diplomasi,” kata Erdogan saat konferensi pers kepada xinhua yang diterima kantor berita mi’raj news agency. (T/P014/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Leave a Reply