KONFERENSI GAZA BAHAS ANCAMAN ISRAEL

Gaza, 14 Rabiul Akhir 1434/24 Februari 2013 (MINA) – Sejumlah lembaga penelitian dan organisasi hak asasi manusia Sabtu (23/2) hingga Ahad (24/2) menghadiri konferensi berserjarah di Jalur Gaza dengan tema “Konsekuensi dan Prospek Masa Depan, Pasca Perang di Gaza”.

Lebih dari 300 spesialis, peneliti, ahli strategi dan analis politik dan militer dari seluruh dunia berada di wilayah Palestina untuk menghadiri konferensi tersebut. Para peserta akan membahas  konsekuensi dari serangan Israel terhadap warga sipil di Jalur Gaza pada November lalu dan mempertimbangkan prospek serangan lanjutan di masa mendatang, demikian menurut yang dilaporkankan MEMO.

Diharapkan, hasil konferensi termasuk rekomendasi mengenai konfrontasi di masa depan antara Palestina dan pasukan penjajah Israel dan bagaimana rakyat Gaza seharusnya berhubungan dengan dunia luar untuk meminta dukungan regional dan internasional.

Di antara peserta yang hadir pada acara tersebut adalah ahli pemikir Palestina Moneer Shafiq, intelektual Mesir dan Fahmi Howaidi seorang jurnalis dan akademik Palestina-Inggris Azzam Tamimi, kepala Institut Inggris Pemikiran Politik Islam.

Pada hari pertama dari program dua-hari tersebut, para pembicara membahas hasil yang belum pernah terjadi sebelumnya dari serangan Israel terhadap Gaza. Mereka mencatat bahwa selama perang Israel, Arab menghadapi lingkungan baru yang benar-benar mendukung Palestina dan pertahanan mereka dalam menghadapi serangan. Mereka menekankan bahwa perubahan strategis baru telah terjadi di wilayah di mana Israel menjadi takut.

“Berkat perlawanan Palestina, Jalur Gaza sekarang menjadi lokasi yang strategis di Timur Tengah. Kemenangan perlawanan pada November tahun lalu mendorong banyak pihak untuk kembali menilai pendekatan mereka dalam membangun kembali infrastruktur Palestina,” kata Kepala Pusat Studi Timur Tengah di Yordania, Jawad Al-Hamad.

Yordania menggambarkan kontrol Hamas atas Jalur Gaza pada Juni 2007 sebagai pembersihan jasa keamanan yang bersekongkol melawan pemimpin Palestina Yasser Arafat, mengatakan Israel terkejut menemukan bahwa intelijen tidak akurat dalam melakukan analisis perang 2008-2009. “Oleh karena itu, ia diwajibkan untuk menyatakan gencatan senjata sepihak,” tambahnya.

Kepala Dewan Agung Urusan Islam, Salah Sultan, mengatakan kepada peserta, penting bagi semua negara-negara Arab untuk menyatukan seluruh posisi perusahaan yang bertentangan dengan penjajahan Israel.

Kepala Baheth Centre Waleed Ali di Beirut mengatakan proyek penjajah Zionis berada dalam kemunduran, buktinya Israel menargetkan warga sipil dan terlibat dalam perang propaganda. Waleed menegaskan, konflik yang terjadi di Palestina bukan hanya militer, tapi juga politik, lingkungan, budaya dan sejarah. Semua ini akan menjadi penentu bagi ideologi Palestina, termasuk sejarahnya sekarang dan masa yang akan datang.

Mengenai solusi dua-negara, Ali menyarankan bahwa hal itu bukan hal yang baik untuk Palestina. “Ini buang-buang waktu, mana perbatasan negara Palestina? Dimana lahan pertanian, dan di mana jembatan darat antara Jalur Gaza dan Tepi Barat?” katanya. (T/P08/R2). 

Mi’raj News Agency (MINA)

 

 

 

 

 

 

 

 

Rate this article!

Leave a Reply