MASYARAKAT PERLU EDUKASI IMUNISASI

Jakarta, 14 Rabiul Awal 1434/23 Februari 2013 ( MINA ) – Wakil Komisi Fatwa Majelis UIama Islam (MUI), Asrorun Niam Sholeh mengatakan masyarakat perlu pendidikan (edukasi) mengenai imunisasi yang selama ini masih menjadi kontroversi bagi sebagian masyarakat.

“Setelah tahu, masyarakat punya hak untuk memilih mlakukan imunisasi atau tidak,” kata sholeh saat menjadi pembicara untuk seminar tentang imunisasi di Jakarta Sabtu (23/2).

Seminar yang bertema “Imunisasi Halal dan Thayib” itu diselenggarakan Halal Corner (HC) dalam upaya memberikan wadah bersama untuk berdialog seputar kehalalan imunisasi yang selama ini meresahkan warga, kata ketua HC Aisha Maharani.

Dalam sesi tanya jawab, Sholeh bercerita tentang pengalaman kekecewaannya terhadap petugas kesehatan yang mengimunisasi anaknya tanpa memberitahu terlebih dahulu isi vaksin yang disuntikkan, di mana setelahnya ditemukan kandungan vaksin tersebut haram. 

Hal yang sama juga disampaikan Tryandro Bantara, dokter yang menjadi salah satu pembicara dalam sharing tersebut.  Bantara mengatakan selama ini penyuluhan maupun edukasi tentang imunisasi sendiri masih kurang untuk masyarakat, terutama pers sebagai media informasi yang selama ini diandalkan.

“Media memiliki peran besar dalam menyampaikan imunisasi yang sebenarnya kepada warga, selama ini pemberitaan imunisasi yang lebih dalam masih kurang,” katanya menjawab pertanyaan salah satu peserta yang mengeluhkan praktek imunisasi di daerah.

Dialog tentang Imunisasi yang selama ini masih menjadi perdebatan dikalangan masyarakat sendiri.  Masyarakat muslim Indonesia khawatir vaksin-vaksin yang selama ini diberikan kepada masyarakat mengandung bahan yang haram, salah satunya pada vaksin meningitis yang sempat ramai di pemberitaan.

Lembaga Pengkajian Pangan Obat-Obatan dan Kosmetika MUI Sumsel bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (Unsri) Palembang, melalui hasil penelitian mereka, menemukan kandungan enzim babi pada vaksin meningitis meningokokus ACYW 135.

MUI sumsel juga menemukan vaksin polio untuk anak-anak terbuat dari ginjal kera, sel kanker manusia, serta cairan tubuh hewan tertentu termasuk serum dari sapi, bayi kuda, dan ekstrak mentah lambung babi, yang notebene hukumnya haram.

Kasus ini meresahkan warga, apalagi bagi yang akan melakukan haji. Salah satu peserta seminar kepada Mi’raj News Agency (MINA) mengatakan dirinya merasa tidak tenang dengan vaksin meningitis, karena jika meningitis mengandung hal yang haram, ia khawatir  hajinya tidak sah.

Di samping Sholeh dan Bantara, hadir sebagai pembicara lainnya perwakilan dari Bio Farma dan Kemenkes (Direktorat Bina Layanan Anak), serta Dr Pimprim B. Yanuarso, di mana menurut ketua HC ini merupakan forum ‘besar’ karena menghadirkan tokoh yang kompeten dibidangnya masing-masing.

“ini akan menjadi PR bersama pihak-pihak yang berkompeten tadi untuk menyelesaikan keresahan warga dengan cara berdialog,” katanya seusai acara.

Aisha mengatakan HC bertugas memediasi dialog pihak berwenang dengan masyarakat guna memberikan penjelasan tentang hal yang dipermasalahkan. “tidak hanya imunisasi, HC akan menjadi mediator dan terbuka bagi setiap permasalahan halal lainnya yang ditemui masyarakat,” kata wanita asal Bogor itu.(L/P03/P07/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Rate this article!

Leave a Reply