MENGAPUNG DI LAUT SELAMA 25 HARI, 97 MUSLIM ROHINGYA TEWAS

Korban selamat pengungsi Rohingya beristirahat di kapal Angkatan Laut Sri Lanka

Colombo, 15 Rabiul Akhir 1434/ 25 Februai 2013 (MINA) – Sedikitnya 97 pengungsi Rohingya meninggal karena kelaparan setelah mereka terapung selama 25 hari di lautan akibat kapal mereka dirusak Angkatan Laut Thailand ketika hendak melakukan perjalanan dari Bangladesh ke Malaysia.

Angkatan Laut Sri Lanka menyelamatkan 32 korban selamat dan membawa mereka ke pusat penahanan imigrasi Colombo, ibu kota Sri Lanka, Sabtu lalu. Mereka tidak ingin kembali ke Myanmar karena tidak ingin menjadi korban kekejaman militer Myanmar.

Salah satu korban selamat, Shofiulla, 24, mengatakan ada sekitar 130 orang di atas kapal ketika perjalanan ke Malaysia yang dimulai pada 10 Januari.

Setelah 10 hari perjalanan, perahu mencapai perbatasan Thailand ketika dua perahu dari Angkatan Laut Thailand mencegat mereka. Shofiulla mengatakan Angkatan Laut tersebut mengambil mesin mereka dengan paksa.

“Kami kehabisan persediaan makanan dan tidak ada air. (Selama 25 hari itu) kita hanya minum air laut,”kata Shofiulla. Mahasiswa yang hanya menempuh kuliah sampai tingkat kedua akibat perguruan tinggi tempatnya belajar tutup setelah perselisihan antara Muslim Rohingya dan ekstrimis Buddha meletus Juli tahun lalu itu menambahkan mayat 97 korban yang meninggal selama 25 hari tersebut harus dibuang ke laut.

Para korban menderita dehidrasi serius ketika mereka diselamatkan sekitar 250 km lepas pantai timur Sri Lanka. Angkatan Laut Sri Lanka mengatakan, sebelumnya mereka telah diberi tahu oleh nelayan akan ada kapal yang tenggelam.

Juru Bicara Kementerian Pertahanan Thailand, Kolonel Thanathip Sawangsaeng, menyangkal tuduhan tersebut. “Ini sama sekali tidak benar. Para petugas Angkatan Laut Thailand tidak akan melakukan hal itu,” ungkap Thanatip yang mengklaim tuduhan serupa juga pernah muncul di masa lalu.

Menurutnya, Angkatan Laut Negeri Gajah Putih itu memiliki standar penanganan pengungsi Rohingnya, memberi mereka makanan dan bantuan sebelum membiarkan mereka melakukan perjalanan laut mereka atau mengadili mereka karena masuk wilayah Thailand secara ilegal. “Namun, bukan tidak mungkin bahwa Angkatan Laut Thailand akan melakukan apa yang mereka yang tuduhkan,” katanya.

Shofiulla, yang berlaku sebagai juru bicara karena merupakan satu-satunya korban yang bisa berbahasa Inggris mengatakan, “Kami tidak bisa kembali ke negara kami. Pemerintah membunuh semua umat Muslim. Kami sangat takut untuk kembali. Kami ingin pergi ke tempat yang aman”.

Dia mengatakan mereka ingin pergi ke Malaysia untuk mencari pekerjaan, mengikuti jejak orang lain dari desanya.

Dia menambahkan 25 orang-orang di pusat penahanan sementara delapan masih di rumah sakit.

Pengawas Imigrasi Sri Lanka, Chulananda Perera mengatakan, pihaknya telah memberi tahu kedutaan Myanmar untuk melakukan identifikasi para korban lalu memulai proses mengirim mereka kembali, namun belum ada tanggapan. (T/P01/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply