MENJADI HAMBA YANG BERSAUDARA

 

Oleh Andri Lupias Satedy, Lc*

Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu.(Qs. Al Mulk :19 ).

Sahabatku Pernahkah Kita memperhatikan bagaimana segerombolan burung terbang di atas Kita? Pernahkah kita mentafakuri bagaimana kebersamaan Mereka ketika terbang? sering kita melihat burung bangau atau angsa dan sejenisnya terbang disore hari membentuk pola huruf “V” dan fenomena ini juga terjadi pada burung-burung yang berada dinegara-negara empat musim tepatnya pada musim gugur, subhanallah, fenomena membuat kita bertanya-tanya kenapa ya?

Para ahli menemukan fakta ilmiah berikut di balik formasi “V” ini:

1. Saat setiap angsa mengepakkan sayapnya, burung yang terbang tepat di belakang akan     terdukung karena udara di depannya menjadi terbuka: ia tidak perlu bersusah payah menembus “dinding udara”. Dengan terbang dalam formasi “V”, seluruh kawanan dapat menempuh jarak terbang 71 % lebih jauh daripada kalau setiap burung terbang sendirian.

2. Kalau seekor angsa terbang keluar dari formasi rombongan, ia akan merasa berat dan sulit terbang sendirian, dan ia segera akan kembali ke dalam formasi untuk memanfaatkan udara yang telah ditembus oleh burung di depannya.

3. Ketika angsa pemimpin yang terbang di depan menjadi lelah, ia akan terbang memutar ke  belakang formasi, dan angsa lain akan terbang menggantikan posisinya.

4. Angsa-angsa ini mengeluarkan suara riuh-rendah dari belakang, memberikan semangat kepada angsa yang terbang di depan sehingga kecepatan terbang dapat dijaga.

5. Kalau ada seekor angsa sakit, terluka atau tertembak jatuh, dua angsa lain akan ikut keluar formasi bersama angsa tersebut dan mengikutinya terbang turun untuk membantu dan melindungi.

Mereka tinggal dengan angsa yang jatuh itu sampai ia mati atau dapat terbang lagi. Setelah itu mereka akan terbang dengan kekuatan mereka sendiri atau dengan membentuk formasi lain untuk mengejar rombongan mereka.

Sahabat, marilah kita belajar banyak dari mereka. Bagaimana mereka bekerjasama untuk memecahkan sulitnya perjalanan menembus dinding udara. Bagaimana mereka menyadari sulitnya terbang sendiri sehingga seekor burung yg keluar dari rombongannya akan segera kembali kepada komunitasnya.

Bagaimana ketika burung yg memimpin merasa lelah dia akan minta diganti oleh temannya dalam memimpin perjalanan. Kemudian bagaimana burung-burung yang dipimpin mengeluarkan suara yang riuh menyemangati pemimpin mereka. Bagaimana kesetiakawanan mereka ketika temannya tertembak maka dua ekor burung lainnya akan keluar dari rombongan dan menemani temannya yg sakit sampai ia sembuh atau mati? Sungguh Luar biasa cara kerja mereka yang penuh cinta dan kebersamaan.

Sahabat, seandainya umat ini seperti mereka, kita tidak akan pernah melihat Rakyat menderita sedangkan Pemimpinya Bergelimang harta, Kita tidak akan melihat orang miskin menangis kelaparan sedangkan orang kaya di antara mereka tertawa-tawa di tempat hiburan.

Kita tidak akan pernah melihat anak Yatim meminta-minta dijalanan sedangkan Pemimpinnya menghabiskan anggaran untuk jalan-jalan, dan kita tidak akan pernah melihat bagaimana saudara kita ditempat lain dirampas hak hidupnya di embargo ekonominya seperti di Gaza, Suriah yang menelan Ribuan Korban jiwa sedangkan orang-orang kaya di Negara tetangganya disibukan dengan pembelian klub-klub sepak bola di Negara lainnya.

Sahabat, mungkin kita masih ingat bagaimana seorang Mu’tashim Billah (khalifah Bani Abbasiyah) mengerahkan puluhan ribu pasukan untuk menyerbu kota Ammuriah (Turki) demi membela kehormatan seorang wanita yang di lecehkan. Sehingga diriwayatkan bahwa panjangnya barisan tentara ini tidak putus dari gerbang istana khalifah di kota Baghdad hingga kota Ammuriah (Turki) karena besarnya pasukan.

Sahabat, seperti itulah seharusnya ummat ini hidup, seperti itulah seharusnya bersikap, seperti itulah seharusnya ummat ini bekerja yang dilandasi cinta dan kebersamaan. Karena Inilah sumber kekuatan dan kemuliaan yang telah dibuktikan oleh generasi pendahulu.

Sahabat, marilah Kita melandasi seluruh interaksi kita dengan saudara kita dengan iman dan cinta, sebagaimana Dua ekor burung akan keluar dari rombongan dan menemani temanya yang terluka atau tertembak ketika dalam perjalanan. Sehingga Rasulullah saw. bersabda, “Tidak sempurna iman seseorang diantara kamu hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.“ (HR. Bukhari dan Muslim).

Begitu erat hubungan antara keduanya (Iman dan cinta). Pohon Iman tidak akan pernah tumbuh subur dan berbuah lebat tanpa adanya perawatan dari sang pecinta. Dan inilah yang berhasil dilakukan Rasulullah, dan generasi awal, para generasi terbaik yang pernah diturunkan oleh Allah ke muka bumi.

Merawat Iman dengan cinta, atau sebaliknya mencintai dengan iman. Cintalah yang membuat perbedaan menjadi Indah, cintalah yang membuat sesuatu yang jauh menjadi dekat, dan cintalah yang merubah kekurangan menjadi kekuatan yang luar biasa.

Sahabat, Marilah kita melangkah selangkah lagi demi mengembalikan kekuatan Ummat ini. Langkah yang bisa membuat pemimpin menjadi bijak, membuat yang lemah menjadi kuat, membuat orang berilmu menjadi tawadhu, langkah yang membuat orang kaya menjadi dermawan. Langkah itu adalah “Membangun Kebersamaan”, sehingga Rasulullah saw. bersabda, “

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( لا تحاسدوا ، ولا تناجشوا ، ولا تباغضوا ، ولا تدابروا ، ولا يبع بعضكم على بيع بعض ، وكونوا عباد الله إخوانا ، المسلم أخو المسلم ، لا يظلمه ولا يخذله ولا يحقره ، التقوى هاهنا – ويشير إلى صدره ثلاث مرات – بحسب امرئ من الشر أن يحقر أخاه المسلم ، كل المسلم على المسلم حرام : دمه وماله وعرضه ) رواه مسلم .

Hadis riwayat Abu Hurairah ra. “Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Hindarilah oleh kamu sekalian berburuk sangka karena buruk sangka adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kamu sekalian saling memata-matai yang lain, janganlah saling mencari-cari aib yang lain, janganlah kamu saling bersaing (kemegahan dunia), janganlah kamu saling mendengki dan janganlah kamu saling membenci dan janganlah kamu saling bermusuhan tetapi jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Muslim).

sahabat, burung telah memberi contoh kepada kita bagaimana mereka menghadapi segala kesulitan dalam menempuh perjalanan dengan kebersamaan, karena mereka tahu bahwa kebersamaan adalah sumber kekuatan. Kekuatan yang menjadikan sesuatu yang berat menjadi ringan, kekuatan menjadikan golongan yang kuat menjadi bijak, dan menjadikan golongan yang malas menjadi semangat.

Sahabat, poin-poin inilah yang bisa kita ambil hikmahnya dari sekelompok burung yang senantiasa menjalani kehidupanya dengan modal Cinta dan Kebersamaan. Marilah kita Menjadikan Cinta dan Kebersamaan menjadi asas kita dalam berinteraksi dengan sesama kita, jangan jadikan Perbedaan Golongan, perbedaan Mazhab, Perbedaan Organisasi, perbedaan Fikrah, Perbedaan Suku, dan seabreg perbedaan lainya menjadi sudut pandang kita dalam melihat sesuatu sehingga menyebabkan kita Berpecah belah, saling membenci, saling melemahkan, saling berprasangka sehingga Ummat dan bangsa ini akan semakin terpuruk kedalam kehinaan sedangkan musuh akan tertawa dan bersorak kegirangan.

Sahabat, Marilah kita merubah “mind set” kita yang selama ini kurang bijak, demi mengembalikan kemuliaan ummat dan kesejahteraan bangsa, semoga kita bisa mengambil pelajaran. Wallahu ‘alam.(R2).

*Ketua PPMI Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia Persatuan Pelajar dan Mahasiswa IndonesiaSudan

Mi’raj News Agency (MINA) 

 

Rate this article!

Leave a Reply