MUSLIM ROHINGYA ALAMI KRISIS MEDIS AKUT

Rakhine, 27 Rabiul Awal 1434/8 Februari 2013 (MINA) – Lembaga medis Internasional, Doctors Without Borders (Medecins Sans Frontieres/MSF) telah memperingatkan kondisi darurat kemanusiaan di negara bagian Rakhine, Myanmar.

MSF memperingatkan pada Kamis (6/2), puluhan ribu pengungsi Muslim yang teraniaya di Rakhine tidak mendapat perawatan medis darurat. “Hal ini terjadi terhadap orang-orang yang tinggal di kamp-kamp darurat di sawah atau kelompok lain yang disambangi MSF, mereka mengalami kebutuhan medis yang paling akut,” ungkap Direktur Umum MSF, Arjan Hehenkamp.

PressTV melaporkan, Hehenkamp menyatakan bahwa alasan ketidak amanan telah berdampak pada pengiriman peralatan dan kebutuhan perawatan medis MSF.

MSF menyebutkan, beberapa wanita hamil harus mengalami persalinan tanpa bantuan dokter di dalam kamp berlumpur. MSF juga menambahkan, survei menunjukkan jumlah anak kurang gizi di daerah tersebut mencapai tingkat yang mengkhawatirkan.

“Kolam air minum yang kita miliki harus berbagi dengan ternak dari desa terdekat. Lima menit dari sini ada kolam dengan air jernih tapi kami tidak berani pergi (karena takut diserang),” kata salah seorang pengungsi.

Para pengungsi juga mulai terjangkiti penyakit infeksi kulit, cacingan, batuk kronis dan diare.

MSF mendesak pemerintah dan pemimpin masyarakat Myanmar untuk memastikan bahwa semua orang dari Rakhine dapat hidup tanpa rasa takut kekerasan, penyiksaan dan pelecehan, dan juga memastikan semua organisasi kemanusiaan dapat membantu mereka yang paling membutuhkan”.

Pada tanggal 25 Desember 2012, Majelis Umum PBB mengeluarkan resolusi yang mengungkapkan keprihatinan atas penganiayaan terhadap umat Islam di Myanmar. Resolusi tersebut meminta pemerintah Myanmar untuk melindungi semua hak asasi manusia ummat Muslim tersebut, termasuk hak mereka untuk mendapatkan kewarganegaraan yang sah.

Pemerintah Myanmar menolak mengakui Muslim Rohingya sebagai warga negara dan menyebut lebih dari sekitar 800.000 warga Muslim Rohingya sebagai imigran gelap.

Muslim Rohingya yang merupakan warga minoritas mengalami berbagai penyiksaan, penelantaran, dan penindasan di Myanmar sejak negara tersebut mencapai kemerdekaan pada tahun 1948.

Pada bulan November 2012, lembaga hak asasi manusia internasional, Human Rights Watch melaporkan jumlah korban yang sangat mengerikan karena kekerasan etnis di Rakhine, termasuk pembunuhan perempuan dan anak-anak.(T/P01/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply