NETANYAHU AKUI KESULITAN BENTUK KABINET

 Jerussalem, 7 Rabi’ul Akhir 1434/17 Februari 2013 (MINA) – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu membujuk Yair Lapid, pemimpin partai runner-up dalam pemilihan bulan lalu, untuk membentuk kabinet koalisi pada Kamis(14/2).

Netanyahu mengajaknya bergabung dalam kabinet dengan tujuan agar kebijakan-kebijakan yang diambil dalam masa pemerintahannya tidak banyak mendapat kritikan dan perlawanan dari pihak oposisi.

Dalam pemilu 22 Januari lalu, partai koalisi Lapid mendapat jatah kursi sama dengan partai koalisi bentukan Netanyahu.  Lapid, seorang mantan penyiar TV yang memimpin partai Yesh Atid, menantang  perdebatan terbuka dengan Netanyahu, bahkan ia menyatakan akan menjadi pemimpin Israel berikutnya jika Netanyahu gagal untuk membentuk pemerintahan yang stabil.

Netanyahu, yang ingin segera membentuk kabinet yang solid setelah Presiden George Shoros melantiknya menjadi Perdana menteri.

“Pertemuan antara Netanyahu dan Lapid dilakukan dalam suasana yang sangat baik. Mereka sepakat untuk mengadakan pertemuan berikutnya guna membahas kabinet segera setelah tercapai kesepakatan politik,” kata Yisrael Beitenu, dari partai Yesh Atid dalam pernyataan singkatnya.

Netanyahu membutuhkan setidaknya 61 kursi di parlemen dan mempunyai waktu 42 hari untuk melakukan koalisi dengan partai lainnya. Dia memiliki beberapa pilihan, mulai dari koalisi dengan mitra sayap kanan , atau dengan partai sayap tengah dan kiri untuk aliansi yang lebih luas .

Sebuah pemerintahan dengan koalisi partai sebanyak-banyaknya dapat membantu Netanyahu memperoleh citra yang lebih baik dimata rakyat Israel. Saat ini ia tengah mempersiapkan sambutan atas rencana kunjungan Presiden AS Barack Obama ke negaranya pada musin semi ini.

Saat ini hanya Amerika Serikat saja yang masih setia memberikan dukungan penuh kepada Israel. Sementara negara-negara Eropa, Asia dan Amerika Latin mulai mencabut dukungan mereka terhadap negara yang masih menjajah Palestina itu.

Dua isu internasional saat ini yang berkaitan dengan Israel adalah perjanjian damai Israel -Palestina yang tidak berjalan dan kemungkinan aksi serangan Israel terhadap program nuklir Iran karena kekhawatiran sosial dan ekonomi domestik negara itu.

Netanyahu menyatakan bahwa partai-partai oposisi saat ini mengusung isu agama dan kebijakan luar nederi Israel yang membuatnya sulit mendapatkan dukungan dari rakyatnya sendiri.

“Netanyahu ingin menjadikan Lapid sebagai partner dalam kabinetnya,” kata Wakil Perdana Menteri Silvan Shalom dari partai Likud-Beitenu di kediamannya di Yerusalem.

“Kami rakyat Israel ingin melihat pemerintahan yang solid. Kami ingin setiap partai memahami bahwa zaman telah berubah, dan sesuatu harus dilakukan”, tambahnya.

Setiap pria dan wanita Israel diharuskan mengikuti wajib militer selama tiga tahun ketika mereka sudah berusia 18 tahun. Namun, pengecualian dibuat untuk sebagian besar warga Arab-Israel, serta ultra-Ortodoks pria dan wanita.

Sekitar 60 persen dari warga partai ultra-Ortodoks terlibat penuh dalam studi tentang agama Yahudi, mereka tidak diperbolehkan keluar ke pasar atau bekerja di luar. Hal ini sangat membebani perekonomian negara.(T/P04/R2).

Miraj News Agency(MINA)

 

Leave a Reply