PEMIMPIN OPOSISI SURIAH DESAK ASSAD BERUNDING

        Damaskus, 26 Rabiul Awal 1434/6 February 2013 (MINA) –  Pemimpin Oposisi Suriah Moaz Al Khatib mendesak Presiden Suriah Bashar Al Assad  untuk melakukan pembicaraan guna meredam pertumpahan darah yang terjadi dalam konflik di negara itu yang berlangsung sejak 2011 itu.

       “Saya meminta rezim (Assad) untuk mengirimkan Farouq al-Sharaa (Wakil Presiden), jika menerima ide ini untuk  duduk bersama,” kata Khatib kepada al-Arabiya TV yang dimonitor Mi’raj News Agency (MINA), Rabu (6/2).

       Dalam komentar terpisah untuk al-Jazeera TV Khatib berkata, “Rezim Suriah harus mengambil sikap yang jelas (untuk dialog) dan kami katakan kami akan mengulurkan tangan kami untuk kepentingan rakyat dan membantu rezim mundur dengan damai.”

       Pemimpin oposisi itu mendesak Presiden Bashar al-Assad untuk menanggapi tawaran pembicaraan damai, di mana inisiatif ini mendapat dukungan AS.  Namun, sejauh ini belum ada tanggapan dari pihak Assad.

       Khatib melakukan pembicaraan di Munich selama akhir pekan dengan Menteri Luar Negeri Iran Ali Akhbar Salehi dan Menlu Rusia Sergei Lavrov, di mana kedua negara itu dengan tegas mendukung  kepemimpinan Assad. Khatib juga bertemu Wakil Presiden AS Joe Biden.

       Berbicara setelah pertemuan dengan tiga negara itu pada akhir pekan lalu, Khatib mengatakan tidak satupun dari mereka yang bisa mengakhiri perang sipil dan Suriah harus menemukan resolusi mereka sendiri.

      “Negara Negara besar tidak memiliki visi … hanya warga Suriah sendiri yang dapat menjadi solusi,” kata Khatib.  Pria kelahiran 1960 itu mengatakan dalam pertemuannya dengan Menlu Iran ia membahas  perlunya mencegah krisis Suriah menjadi konflik internal Sunni-Syiah.

       Khatib mengatakan bukanlah suatu  “pengkhianatan” untuk berdialog mengakhiri konflik yang telah mengakibatkan lebih dari 60.000 orang tewas, dan 700.000 diusir dari tempat tinggal mereka serta jutaan tunawisma yang kelaparan.

       Assad mengumumkan pada  bulan lalu rencana pembicaraan rekonsiliasi untuk mengakhiri kekerasan tetapi pemimpin Suriah dari Syi’ah itu mengatakan tidak akan berdialog dengan orang-orang yang disebut pengkhianat atau “boneka yang dibuat Barat “.

       Pemberontakan Suriah meletus 22 bulan lalu dimulai dengan protes berlangsung damai, meningkat menjadi perang saudara dengan mayoritas Muslim Sunni  memberontak  terhadap Assad yang berasal dari minoritas Syi’ah Alawit Suriah di mana keluarganya telah memerintah Suriah selama 42 tahun.

        Kekerasan itu telah membagi negara-negara besar, dengan Rusia dan China memblokir  draft  resolusi PBB yang menyatakan sanksi PBB terhadap Assad, di mana kedua negara  itu bersama Iran secara tegas mendukung Pemerintahan Assad.

       Sedang Amerika Serikat, Uni Eropa dan Negara Arab teluk Muslim Sunni mendukung pihak oposisi yang memberontak Assad dengan mengatakan pihak oposisi Suriah  adalah wakil sah Suriah.(T/P03/E1)

 

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply