PENERAPAN ASURANSI SYARIAH DI INDONESIA

Jakarta, 22 Rabiul Akhir  1434/4 Maret 2013 (MINA) – Sesuai dengan market share, peran asuransi syariah yang diterapkan di Indonesia baru 3,7 persen.

“Banyak kendala dalam penerapan asuransi syariah di Indonesia, misalnya kurangnya sosialisasi, Sumber Daya Manusia yang sedikit dan permodalan yang kurang sehingga asuaransi syariah kurang cepat pertumbuhannya” Kata Syakir Sula, Sekjen Masyarakat Indonesia (MES) kepada Mi’raj News Agency Kamis beberapa waktu lalu (28/02).

“Memberi pemahaman kepada masyarakat tentang asuransi syariah dengan mengadakan perlombaan menulis cerpen, blog dan berkeliling ke masyarakat supaya masyarakat tahu dan paham tentang asuransi syariah”,  tambahnya.

Dalam bukunya Syakir Sula “Asuransi Syariah (Life and General) – Konsep dan Sistem Operasional, dalam konteks Asuransi syariah dengan akad tabarru (hibah/pemberian) bermaksud memberikan dana kebajikan dengan niat ikhlas untuk saling membantu satu sama lain sesama peserta tafakul (asuransi syariah).

Apabila ada diantarnya yang mendapat musibah, dana klaim yang diberikan diambil dari rekening dana tabarru  ` yang sudah diniatkan  oleh semua peserta ketika akan menjadi peserta asuransi syariah, untuk kepentingan dana kebajikan atau dana tolong menolong.

Karena itu dalam akad tabarru`, pihak yang memberi dengan ikhlas memberikan sesuatu tanpa ada keinginan untuk menerima apapun dari orang yang menerima, kecuali kebaikan dari Allah swt. Hal ini berbeda dengan akad muawwadah dalam asuransi (konvensional) dimana pihak yang memberikan sesuatu kepada orang berhak menerima penggantian dari pihak yang diberinya.

Sekjen MES mengusulkan draft asuransi syariah ke DPR, agar draft UU Asuransi tersebut dapat mendudukkan konsep dan operasional asuransi syariah sejajar dengan operasi asuransi konvensional dalam regulasi.(L/P013/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

 

  

 

Leave a Reply