PERANG PERANCIS TIMBULKAN BANYAK MASALAH DI MALI

Mali, 7 Rabiul Akhir 1434/17 Februari 2013 (MINA) – Pengamat Mali Dr Salif Kone mengatakan kepada Press TV, Ahad (17/2) bahwa perang di Perancis di Mali telah menyebabkan kekurangan makanan dan obat-obatan yang parah serta menciptakan banyak masalah bagi rakyat Mali, sebagaimana diterima Miraj News Agency di Jakarta.

Perang pimpinan Perancis di Mali telah menyebabkan krisis kemanusiaan yang serius di daerah utara negara itu dan telah membuat ribuan orang mengungsi yang kini hidup dalam kondisi menyedihkan.

Orang-orang dari  Mali Utara mengatakan perang Perancis dan junta militer yang berkuasa menghalangi suplai  bantuan kemanusiaan ke daerah perang yang terkena dampak, koresponden Press TV Daniel Arapmoi melaporkan dari Mali Utara hari Sabtu. 

“Blokade daerah oleh pasukan Perancis dan Mali telah merusak kegiatan pekerja kesehatan di beberapa kamp pengungsi. Sebagian besar kamp memiliki kekurangan kebutuhan yang parah seperti makanan dan obat-obatan,” kata warga Mali Utara. 

Perancis meluncurkan perang di Mali pada 11 Januari dengan dalih untuk menghentikan kemajuan pejuang Islam di negara itu. 

Tanggal 1 Februari, Amnesty International mengatakan telah terjadi  pelanggaran hak asasi manusia yang serius, termasuk pembunuhan anak-anak  yang terjadi dalam perang Perancis di Mali. 

Kekacauan pecah di negara Afrika Barat tersebut  setelah Presiden Amadou Toumani Toure digulingkan dalam kudeta militer tanggal 22 Maret 2012. Para pemimpin kudeta mengatakan mereka melakukan  kudeta dalam menanggapi ketidakmampuan pemerintah untuk membendung kelompok  Tuareg di bagian utara yang telah berlangsung selama dua bulan. 

Namun, setelah terjadi  kudeta, para gerilyawan Tuareg mengambil alih seluruh wilayah gurun utara, tetapi kelompok pejuang Islam  Ansar Al-Din  kemudian mendorong mereka ke samping dan mengambil alih wilayah yang lebih besar dari Perancis atau Texas  itu.(T/P09/R2).

Mi’raj News Agency (MINA).

Leave a Reply