PRESIDEN MALI UCAPKAN TERIMA KASIH PADA PERANCIS ATAS PENGHAPUSAN TANDA ISLAM

Timbuktu, 22 Rabiul Awal 1434/3 Februari 2013 (MINA) – Presiden Sementara Mali Dioncounda Traore menyatakan rasa terima kasihnya pada presiden Perancis Francois Hollande atas bantuannya dalam menghapus tanda Islam yang selama ini menajdi perselisihan dengan para oposisi.

“Saya berterima kasih atas dukungan Perancis selama ini karena membantu rakyat Mali dalam melawan tanda-tanda Islam,” kata Traore dalam pidato yang ditujukan pada rakyat Mali di Bamako Jumat sore (2/1) waktu Mali atau Sabtu (3/1) 00.45 WIB.

Pidato yang disiarkan secara live di Al Jazeera tersebut mengundang antusiasme para pendukung pemerintah yang juga dihadiri langsung presiden Perancis Francois Hollande yang datang ke Timbuktu, Mali, untuk menemui para tentaranya yang ditempatkan di sana. Dalam kunjungan itu, Presiden Perancis juga memberikan sambutannya yang disambut tepuk tangan ratusan rakyat Mali yang hadir.

Hollande mengatakan perang di Mali belum berakhir, karena masih banyak pihak pelawan yang belum menyerah.   Hollande juga mengatakan akan terus membantu pemerintah Mali sampai mendapatkan kemenangannya.

Di akhir pidatonya, presiden sementara Mali itu mengungkapkan terima kasihnya kepada Perancis yang mendukung Mali sampai hari ini, ia meneriakkan, “Hidup Mali, hidup Perancis!”

Traore juga mengatakan membuka jalan dialog dengan pihak oposisi untuk meredam konflik. Meskipun usaha meredam konflik diserukan kedua belah pihak, para tentara pemerintah masih mengejar rakyat yang diduga memiliki keterkaitan dengan al Qaeda.

Salah satunya adalah etnis Taureg dan Arab yang harus melarikan diri ke gurun untuk menghindari konflik yang terjadi di Mali.  Kubu rakyat sipil minoritas Muslim menjadi bulan-bulanan tentara pemerintah dan harus tinggal dengan  kondisi memperihatinkan di tanah kering itu.

Salah satu warga Tuareg yang tidak disebutkan namanya mengatakan dia dan keluarganya tidak tahu harus berbuat apa di gurun yang serba kering, kurang persediaan makanan, serta cuacanya yang ekstrim.

Tentara pemerintah banyak dikritik akibat mengeksekusi dan melanggar hak asasi manusia terhadap warga berkulit cerah yang mereka anggap sebagai pendukung al Qaeda, meskipun para tentara mengingkari  hal tersebut.

Human Rights Watch (HRW) mengatakan dalam sebuah laporan yang dikuatkan kelompok-kelompok HRW  lain pasukan Mali menembak setidaknya 13 pendukung  oposisi di Sevare dan dibuang ke dalam sumur.

“Baik Mali maupun Perancis harus mengambil tindakan pencegahan yang diperlukan untuk tidak memukul rakyat sipil,” kata Gaetan Mootoo, peneliti utama Amnesty untuk Afrika Barat, dalam konferensi pers di Bamako.(T/P03/R2).

Miraj News Agency (MINA)

Leave a Reply