REKONSILIASI PALESTINA DITEKAN ISRAEL DAN AMERIKA

Jakarta, 29 Rabiul Awal 1434/10 Januari 2013 (MINA) – Ketua Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina (KISPA) Ustadz Ferry Nur mengatakan keberhasilan rekonsiliasi Hamas dan Fatah di Palestina terus mendapat tekanan dari Israel dan Amerika, katanya di Jakarta, Sabtu sore (9/2).

“Sebenarnya Hamas dan Fatah bisa bersatu, buktinya mereka bertemu berkali-kali. Sudah tiga kali rekonsiliasi dan beberapa pertemuan berlangsung. Tapi ketika rekonsiliasi itu akan berakhir dengan baik dan akan ada kesepakatan, Israel dan Amerika melakukan tekanan, terutama kepada Fatah agar menjaga jarak dengan Hamas,” kata Ustadz Ferry kepada Miraj News Agency (MINA).

Namun, menurutnya, rekonsiliasi tetap optimis, apalagi dengan meningkatnya status pengakuan negara Palestina di PBB dan masyarakat internasional. Tentunya menuntut lebih erat rekonsiliasi perjuangan Hamas-Fatah dalam rangka memerdekakan Palestina dan mengembalikan Masjid Al-Aqsha, yang sampai saat ini masih dikuasai Israel.

“Langkah Ini harus diikuti langkah-langkah berikutnya demi cita-cita bangsa Palestina merdeka secara utuh dan berdaulat,” ujar dai yang dua kali pernah mengunjungi Gaza Palestina.

Ia berharap ada langkah-langkah yang lebih konkret dari kedua kelompok terbesar perjuangan Palestina itu. Kemajuan terlihat dari kedua pihak dan mulai tumbuh sikap saling percaya.

“Kita mengharapkan rakyat Palestina dapat memilih pemimpin-pemimpin yang memperjuangkan aspirasi mereka dan akan mengantarkan Palestina menuju kemerdekaan dengan ibu kota Al-Quds.”

Mengenai hasil pemilu Israel, ia berpendapat bahwa pemilu Israel tidak memiliki pengaruh terhadap rakyat Palestina.

“Bagi rakyat Palestina, ada pemilu atau tidak di Israel, tetap rakyat Palestina akan berjuang, karena intinya adalah bagaimana mereka dapat kembali ke kampung halamannya, mereka dapat merdeka dan memiliki ibu kota Al-Quds yang di dalamnya ada Masjid Al-Aqsha,” tegas Ferry.

Dai yang mengadakan sosialisasi Masjid Al-Aqsha antara lain melalui program percetakan Mushaf Al-Qur’an bersampul Masjid Al-Aqsha itu menambahkan bahwa itulah yang diinginkan rakyat Palestina, baik di tanah yang terjajah maupun di kamp-kamp pengungsian di berbagai negara-negara Arab.

Perbedaan pendapat antara Hamas dan Fatah memang menyebabkan pemilu Palestina secara keseluruhan sempat tertunda beberapa tahun. Hamas saat ini menguasai Jalur Gaza, sementara Fatah dominan di Tepi Barat.

Pada Mei 2011 kedua faksi terbesar di Palestina itu menandatangani kesepakatan rekonsiliasi di Doha, Qatar. Dilanjutkan dengan rekonsiliasi lebih konkret pada Januari 2013 di Kairo, Mesir. (T/P09/R1).

Miraj News Agency (MINA).

Leave a Reply