RS INDONESIA DI GAZA SELESAI TAHUN INI

Gaza, 10 Rabiul Akhir 1434/20 Februari 2013 (MINA) – Relawan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Ir. Edy Wahyudi mengatakan, pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza ditargetkan selesai tahun ini. 

“Kita coba kejar target waktu selesai insya Allah tahun ini, meskipun secara hitungan masih diperlukan biaya cukup besar,” ujar Edy yang baru tiba dari Jakarta di RSI Gaza Bayt Lahiya, Gaza Utara, Palestina.

Total donasi dari rakyat Indonesia untuk program pembangunan RS Indonesia di Gaza sudah mencapai Rp 30,7 milyar. Semua donasi berasal dari rakyat Indonesia yang sebagian besar kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke.

“Estimasi dana yang diperlukan berkisar 30 miliar rupiah lagi, terutama untuk anggaran infrastruktur dan peralatan kesehatan,” katanya kepada Mi’raj News Agency (MINA), Selasa malam (19/2).

Menurut relawan yang pernah bertugas tahun lalu di Gaza, pembangunan RSI tahap kedua memerlukan ketelitian, karena lebih kompleks daripada tahap pertama.  

Edy bergabung dengan 27 relawan MER-C asal Indonesia lainnya yang sudah berada di Gaza. Seluruh relawan berasal dari Pondok Pesantren Al-Fatah berpusat di Cileungsi, Bogor, Jawa Barat sebagai mitra dakwah dan ukhuwah MER-C. 

Seluruh relawan berkomitmen melaksankan amanah amal shalih di Gaza hingga pembangunan RSI selesai, ujarnya.

Ia mengatakan, persiapan berikutnya setelah selesai bangunan, adalah mengadakan alat kesehatan beserta obat-obatan, yang memerlukan dana besar.

Tahfidzul Quran

Edy Wahyudi berangkat ke Gaza pada Jum’at (15/2) dan tiba Sabtu (16/2) beserta tiga utusan pesantren Al-Fatah, yang akan mengikuti program Tahfidzul Quran metode Tajul Waqar di Ma’had Tahfidzul Quranul Karim was Sunnah Gaza. 

Ketua delegasi Ustadz M.Sholeh Iskandar, Pengelola Tahfidzul Quran Pesantren Al-Fatah Natar, Lampung, dijadwalkan mengikuti Program Tajul Waqar di Gaza.  

Tajul Waqar (mahkota ketegaran, kemuliaan) merupakan jenis program akselerasi (percepatan) menghafal Al-Quran 30 juz yang dikemas dalam bentuk perkemahan liburan musim panas selama 1-2 bulan.

Pada saat libur panjang, anak-anak di Gaza tidak melakukan acara bermain atau wisata liburan. Akan tetapi justru mengisi liburannya dengan berkumpul di masjid untuk mengikuti program menghafal Al-Qur’an.

Program menghafal Al-Qur’an saat liburan musim panas ini merupakan program unggulan di Gaza. Puluhan ribu siswa siswi dari berbagai tingkatan sekolah bahkan pemuda dan orang tua, mengikuti program yang bernama Tajul Waqar ini. 

Mereka berkumpul dari pagi hingga sore hari di masjid-masjid di Gaza, kemudian menghafal Qur’an selama dua bulan penuh. Selama dua bulan tersebut, sebagian besar dari mereka berhasil mengahafal Al-Qur’an 30 juz.

Program ini sudah ada sejak lama di Gaza. Namun baru ditertibkan dengan dibentuk sebuah lembaga formal bernama Dar Al-Qur’anul Karim was Sunnah sejak 2006. 

Sejak saat itulah lahir puluhan ribu hafidz dan hafidzah (penghafal Al-Quran). Tercatat tahun 2010 diwisuda 24.000 hafidz dan hafidzah, tahun 2011 sebanyak 10.000 hafidz dan hafidzah, serta tahun 2012 sekitar 10.000 hafidz dan hafidzah Al-Qur’an.

Menurut Syekh Abdurrahman Yusuf Al-Jamal, disebut Tajul Waqar karena mereka para penghafal Al-Quran akan mendapatkan mahkota kemuliaan dari Allah kelak di hari akhirat. 

“Mahkota tersebut kemudian disematkan oleh penghafal Al-Quran kepada orang tua masing-masing, untuk bersama-sama masuk ke dalam syurga,” ujar Syeikh Al-Jamal.

Pimpinan program Tajul Waqar Gaza, Syeikh Aburrahman Yusul Al-Jamal Al-Hafidz, pernah berkunjung ke Pesantren Al-Fatah Lampung guna melaksanakan program Tajul Waqar periode Januari-Februari 2012 lalu.

“Dalam waktu dua bulan saja, anak-anak usia SD-SLTA di Lampung waktu itu, dapat menghafalkan Al-Quran rata-rata antara 1-5 juz. Bahkan ada yang lebih,” ujar Ustadz Sholeh.

Untuk itu, lembaganya ingin melanjutkan program Tajul Waqar lebih intensif lagi dengan mengadakan studi banding dan melihat langsung pelaksanaannya di Gaza, paparnya.

Pesantren Al-Fatah ditunjuk oleh Dar Al-Quranul Karim was Sunnah Gaza sebagai perwakilan dan koordinator pengembangan Tajul Waqar di Indonesia.

Relawan Indonesia di Gaza juga memanfaatkan waktu-waktu di luar pekerjaan rutin RSI, dengan mengadakan kegiatan belajar bahasa Arab dan mengikuti program Tahfidzul Quran secara sederhana.

Tercatat, ada relawan yang sudah hafal lima juz selama sekitar setahun bertugas di Gaza, karena mengikuti program Tajul Waqar musim liburan lalu khusus kelas karyawan.

Ikut serta dalam rombongan relawan ke Gaza, Reza Addila Kurniawan dan Muqorrobin Al-Fikri, alumni Pesantren Al-Fatah untuk melanjutkan kuliah di Universitas Islam Gaza. (L.P03/R1).

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply