SOMALIA HALANGI KEBEBASAN PERS

Mogadishu, 17 Rabiul Akhir 1434/27 Februari 2013 (MINA) – Lembaga advokasi media di Somalia mengkhawatirkan wartawan yang mengekspos pemerkosaan yang melibatkan anggota pasukan keamanan nasional dapat menghalangi kebebasan pers di negeri itu, seperti dilaporkan media allafrica.com, Senin (25/2).

Wartawan Abdiaziz Abdinur Ibrahim ditangkap 10 Januari karena mengekspos  kasus pemerkosaan wanita (27) oleh lima tentara keamanan Somalia, Agustus 2012 lalu.

Ibrahim ditahan selama satu bulan tanpa tuduhan. Kemudian beserta korban didakwa menghina pasukan keamanan negara. Awal Februari pengadilan regional di Mogadishu menyatakan  kedua terdakwa bersalah dan dihukum satu tahun penjara.

Lalu, keduanya naik  banding, dengan harapan ada putusan baru pada Rabu 27 Februari oleh Pengadilan Banding Mogadishu.

“Ini akan membuat wartawan takut mengadakan investigasi ke daerah-daerah karena dianggap berisiko seperti yang satu ini,” kata Abdulahi Elmi, advokat media di Mogadishu.

Menurut Elmi siuasi seperti ini memiliki dampak besar bagi kebebasan pers di negeri ini, serta berpengaruh negatif dan memperburuk situasi bagi kalangan media, ujarnya.

Kasus ini pun memicu kecaman internasional. Seperti Organisasi Hak Asasi Manusia Internasional Human Rights Watch (HRW) yang meminta pemerintah Somalia membebaskan kedua korban. Menurut HRW tuduhan itu dianggap tidak berdasar.

Persatuan Jurnalis Nasional Somalia menyebutnya sebagai suatu kemunduran serius bagi kebebasan pers.

Sementara pemerintah Somalia berulang kali mengelak dari kasus tersebut dengan dalih bahwa itu adalah masalah hukum dan diserahkan sepenuhnya pada peradilan negara.

Menyusul penangkapan Ibrahim, Presiden Hassan Sheikh Mohamud mengatakan bahwa pemerintahannya tidak akan mentolerir liputan negatif dari pers lokal.

Wartawan lokal pendukung Ibrahim mengatakan kepada Kantor Berita IPS bahwa mereka sekarang berpikir dua kali sebelum mewawancarai pejabat pemerintah atau melaporkan kasus penyimpangan yang melibatkan pasukan keamanan.

“Ini menjadi peringatan bagi kami,” kata seorang wartawan yang tidak mau disebut namanya karena takut menjadi sasaran tindakan pembalasan. (T/P09/R1)

Mi’raj News Agency (MINA)

Rate this article!

Leave a Reply