TENTARA ISRAEL TANGKAP WARTAWAN PALESTINA

 Ramallah, 12 Rabiul Akhir 1434/21 Febuari 2013 (MINA) – Wartawan Palestina, Amir Abu Arafah dan kartunis Muhammad Sabanah dipenjara oleh Israel atas aksi mereka untuk mogok makan dari pusat penahanan Timur di Ramallah, kamis (20/2). Sementara itu, pengadilan Israel mengadakan sidang dalam kasus ditahannya wartawan Palestina.  

Para demostran melambaikan foto para jurnalis Palestina yang dipenjara Israel serta bersama poster yang dibawah mereka dengan mengecam penahanan wartawan dan yang mengakibatkan serangan terhadap wartawan Palestina oleh tentara Israel, demikian laporan Ma’an yang dterima Mi’raj News Agency (MINA).

Aksi mogok makan yang dikordinir oleh Sindikat Wartawan Palestina Abdul Nasser al-Najjar mengatakan, bahwa tentara Israel mengintensifkan serangan terhadap wartawan Palestina baru-baru ini.

Dia mengatakan beberapa wartawan menjadi sasaran target konfrontasi oleh tentara Israel dan pengunjuk rasa Palestina di lokasi yang berbeda, Al-Najjar menambahkan “bahwa puluhan wartawan Palestina yang dipenjara Israel”.

Tentara Israel bentrok dengan para pengunjuk rasa di dekat pusat penahanan dalam upaya untuk membubarkan mereka. Serangan tersebut merupakan upaya Israel menyembunyikan informasi dan mencegah wartawan untuk diketahui penderitaannya di penjara-penjara Israel.

Sementara itu, direktur pengawas media Palestina, Mada Mousa Rimawi, mengatakan Israel menahan wartawan palestina yang berlangsung selama puluhan tahun, dua pulu tujuh wartawan Palestina ditahan dalam dua tahun terakhir.

Istri Muhammad Sabanah mengatakan, ia tidak memiliki informasi tentang keberadaan suaminya yang menyoroti keberadaan dari kedua wartawan tersebut. Hal itu dia katakan kepada petugas medis dan perwakilaan komite palang Merah mengunjungi tahanan Palestina.

Athar Sabanah menambahkan, bahwa ia percaya suaminya ditahan oleh tentara Israel, karena baru-baru ini menerbitkan kartun para tahanan Palestina yang ditahanan tentara Israel.(T/P012/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply