TIGA PULUH PESAWAT PERANCIS GEMPUR BASIS PEJUANG ISLAM MALI

       Kidal, Mali, 23 Rabiul Awal 1434/4 Februari 2013 (MINA) – Seorang juru bicara militer mengatakan , hari Minggu, 30 pesawat tempur melakukan serangan udara  dengan membom tempat pelatihan dan pusat logistik basis pejuang  Islam di daerah Tessalit utara dekat Kidal, GlobalPost dikutip Miraj News Agency (MINA)

melaporkan Minggu (3/2).

      Serangan utama ini dilakukan setelah kunjungan Presiden Perancis Francois Hollande di ibu kota Mali, Bamako dan kota Timbuktu. Pesawat pesawat  tempur Perancis tersebut menyerang tempat yang diduga adalah benteng terakhir kelompok perjuangan Islam yang terus didesak mundur dari gurun Mali Utara.

       Hollande mengatakan Perancis akan melanjutkan misi tempurnya di Mali dan akan tinggal di negara itu selama diperlukan.

       Sumber kantor berita Perancis melaporkan bahwa sudah ada 150 tentara Chad di kota Kidal. Penduduk mengatakan tentara Perancis dan Chad telah berpatroli di kota timur laut untuk pertama kalinya, Sabtu sebagai daerah Mali  yang tersisa.

       “Kami tidak tahu apa yang akan terjadi. Kami tidak menginginkan perang di sini,” kata seorang pegawai balai kota.

        Sementara itu Hollande merayakan kemenangan dengan berkeliling setelah sukses melakukan invasi selama tiga minggu menggulingkan kedudukan  kelompok pejuang Islam yang berkuasa di Mali Utara selama 10 bulan.

        Pasukan pimpinan Perancis  menemukan  sedikit perlawanan. Pejabat militer mengatakan, “Kelompok Islamis  kemungkinan besar  melarikan diri ke daerah pegunungan sekitar Kidal.”
        Pihak kelompok oposisi Gerakan Nasional Pembebasan Azawad  (MNLA) yang telah bersekutu dengan pemerintah Mali dan Perancis mengatakan telah terlibat bentrok dengan pejuang Islam di seluruh Tessalit, Jumat. MNLA awalnya bersekutu dengan kelompok Al-Qaeda sebelum melakukan kesepakatan dengan pemerintah.

         Daerah yang ditargetkan dalam serangan udara hari Minggu adalah daerah yang berbatasan dengan Aljazair. Aljazair  tidak mau terseret ke dalam konflik Mali sehingga setuju wilayah udaranya dilalui dan digunakan oleh pesawat tempur Perancis.

         Ketika Amerika dan Israel memuji agresi Perancis yang oleh pengamat dianalisa akan mengalami ancaman perang lintas perbatasan, Taliban di Afghanistan mengutuk tindakan Perancis. Taliban menyerukan agar umat Islam bersatu dan melawan Perancis dan sekutunya.

 

Barat selalu ciptakan negara gagal dan tidak stabil

        “Pemerintah Perancis telah menyerang mujahidin di Mali dan Amerika  telah setuju untuk mendukung Perancis. Saya meminta seluruh dunia Muslim untuk bersatu karena ini merupakan perang ideologi,” Kata juru bicara Taliban Ehsanullah Ehsan.

        Pengamat politik Dan Glazebrook, sebagaimana dilaporkan Press TV (3/2), mengatakan intervensi Perancis di Mali tidak akan menstabilkan negara itu tetapi justeru akan mengarah pada destabilisasi seluruh wilayah.

       “Kekuatan Barat telah terbukti menjadi pendusta dari waktu ke waktu  dan jika kita lihat hasil dari intervensi mereka, mereka secara konsisten telah menciptakan negara gagal, negara yang tidak stabil. Mereka telah mengubah Irak menjadi negara yang gagal, demikian juga di  Afghanistan dan Libya, ketidakstabilan  tidak pernah berhenti,” kata Glazebrook.
       Banyak penduduk  etnis Arab dan Tuareg  melarikan diri karena khawatir dengan serangan balasan yang akan meningkat. Menurut laporan PBB, krisis ini telah menyebabkan 377.00 orang mengungsi, termasuk 150.000 orang yang mencari suaka di perbatasan Mali. (T/P09/E1)

 

Miraj News Agency (MINA)

Leave a Reply