UMAT ISLAM INDONESIA-MALAYSIA DUKUNG PALESTINA

Kuala Lumpur, 29 Rabiul Awal 1434/10 Februari 2013. (MINA) – Umat Islam serumpun Malaysia dan Indonesia mendukung sepenuhnya upaya perjuangan bangsa Palestina dalam meraih kemerdekaannya.

Awang Sufian Awang Piut, Ketua Eksekutif Yayasan Aman Palestin Malaysia mengatakan hal itu pada Tablig Akbar “Umat Islam Indonesia Malaysia Bebaskan Masjid Al-Aqsha dan Palestina” di Masjid Jami Kajang, Kuala Lumpur, Malaysia, Ahad (10/2).

Menurutnya, kesatuan umat Islam di seluruh dunia sebenarnya merupakan kekuatan hebat untuk membebaskan Al-Aqsha dan Palestina dari cengkeraman penjajahan Israel. 

“Apalagi soal Palestina dan Masjid Al-Aqsha di dalamnya, merupakan isu sentral yang dapat mempersatukan seluruh umat Islam,” tegasnya.

Pada kesempatan sama, Abul Hidayat Saeroji, Amir Dakwah Jama’ah Muslimin (Hizbullah) dari Indonesia menegaskan, Islam bersifat rahmatan lil alamin, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, dan menolak segala bentuk kezaliman. 

“Jika ingin bebaskan Palestina dari belenggu penjajahan, maka tidak ada cara lain kecuali dengan amal jama’i, bersatu dan terpimpin dalam satu Jama’ah dan satu Imaamnya,” tegas Abul Hidayat, yang juga Pembina Aqsa Working Group Jakarta.

Menurutnya, kesatuan umat Islam bukan untuk hal-hal yang bertentangan. Tetapi justru untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Islam menganjurkan kedamaian, kesejahteraan, dan kebaikan.

“Islamlah satu-satunya solusi dan alternatif dalam menata peradaban dunia,” ujar salah satu Pembina Kantor Berita Islam MINA (Mi’raj News Agency) itu.

Pemimpin Islam

Menyinggung multikrisis yang melanda dunia Islam akhir-akhir ini, Arif Hizbullah, alumni Universitas Islam Antarbangsa Malaysia menyebutkan, semua bergantung pada para pemimpin Islam itu sendiri.

“Jika para pemimpin Islam benar-benar mencintai Allah, meneladani Rasul-Nya, dan mengedepankan ukhuwah islamiyah, tidak akan terjadi krisis,” katanya.

Justru, menurut Pimpinan Pesantren Al-Fatah Cilacap, Jawa Tengah itu, sekarang yang terjadi adalah krisis keteladanan dan krisis kepemimpinan, akibat meninggalkan sistem khilafah yang telah ditetapkan Rasulullah.

Untuk mewujudkan kepemimpinan dan kesatuan umat Islam yang bersifat global dan lintas sektoral memang tidaklah mudah. Pandangan bahwa hal itu akan menjurus pada radikalisme, fundamentalisme bahkan terorisme, memang dihembuskan oleh musuh-musuh Islam, ujar Umar Rasyid Hasan, alumni mahasiswa Abdullah bin Baz Saudi.

“Keterpurukan dunia Islam dalam bidang ekonomi, pendidikan, dan lainnya karena belum seluruh umat Islam menyadari pentingnya wadah kesatuan umat Islam, yaitu Jama’ah Muslimin beserta Imaamnya,” ujar penceramah dakwah Islam  Radio Silaturahim 720 AM Indonesia itu.

Dengan hadirnya Imaam bagi umat Islam, maka dapat mengatur arah perjuangan dunia Islam berdasar Al-Quran dan As-Sunnah, tegasnya. (L/R1).

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Leave a Reply