UMKM INDONESIA PUNYA POTENSI BESAR

Jakarta, 27 Rabiul Awal 1434/8 Februari 2013 (MINA) – UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah)  Timur Tengah bagi UMKM Indonesia mempunyai potensi lebih besar utamanya saat Eropa dan Amerika terjadi penurunan daya beli. Eropa dan Timur Tengah mempunyai hubungan yang lebih erat untuk bekerjasama dengan Indonesia. Demikian dikatakan Syahnan Phalipi kepada MINA.

Menurut Syahnan, hubungan Indonesia dan Timur Tengah dalam memasarkan produknya terbilang cukup baik. Tak heran, produk-produk Indonesia bisa diterima di luar negeri. Hal ini tentu tak pernah lepas dari peran negara sahabat terutama melalui kedubes yang memperkenalkan ke daerah-daerah dan mempromosikan ke negara lain.

Indonesia dan Timur Tengah tidak hanya memiliki hubungan bilateral saja, tapi juga membangun kerja sama dalam bidang ekonomi utamanya dalam hal pemasaran produk. “Hubungan para pengusaha Indonesia dengan pengusaha-pengusaha di negara tetangga merupakan langkah yang baik untuk memasarkan produk masing-masing negara yang bekerja sama,” kata Syahnan Phalipi ketua umum Fokus UKM kepada wartawan MINA.

Dibandingkan negara Asia lainnya, Syahnan mengungkapkan pertumbuhan UMKM di Indonesia masih rendah terutama bila dibanding Cina. Cina memiliki penanganan yang cukup baik dengan memberikan fasilitas dan memiliki order yang besar. “Saat ini, jumlah penduduk yang berwirausaha masih berkisar 1,2 persen dari jumlah penduduk Indonesia,” lanjut Syahnan.

“Ditargetkan minimal 2 persen, namun saat ini masih jauh. Dua persen itu juga masih rata-rata saja, sedangkan negara lainnya sudah mencapai lima persen dari jumlah penduduk,” paparnya.

Untuk meningkatkan perkembangan UMKM terhadap saingan negara lain dengan sosialisasi ke negara-negara lain melalui kedubes. Biasanya cara lazim digunakan adalah dengan cara memperkenalkan kualitas produk Indonesia dan membangun kerja sama dengan perbankan dan lembaga keuangan atau perusahaan besar untuk bantuan dana.

Menurut Syahnan yang juga sering tampil sebagai pembicara Radio Camajaya mengatakan bahwa untuk mengembangkan UMKM negara, memerlukan pengusaha-pengusaha yang bisa mendorong produk-produk dalam negeri menjadi produk-produk internasional. “Tentu produknya bukan hanya kebutuhan yang bisa diterima dalam negeri saja tapi juga diterima di luar negeri dengan bantuan menejemen, sesuai produk pasar, promosi, serta memiliki modal .

Syahnan yang juga sebagai Ketua DPP Himpunan Pengusaha Mikro dan Kecil Indonesia mengungkapkan, suku bunga perbankan maupun lembaga keuangan di Indonesia terbilang cukup tinggi di antara negara-negara di Asia ditambah sulitnya untuk mendapat akses finansial.

Dia menambahkan, bila suku bunga perbankan maupun lembaga keuangan bisa ditekan, secara otomatis akan ikut mendorong pertumbuhan UMKM, seperti halnya di beberapa negara di Asia. Tak hanya itu, upaya untuk memperoleh jaminan dari asuransi pun tidak mudah.

“Jadi pengusaha UMKM tak sanggup, belum lagi bunganya yang cukup tinggi ditambah dengan asuransi, perbankan UMKM syariah sebagai solusi yang efektif untuk mengurangi suku bunga ” tegasnya.(L/P-010/R2).

Miraj News Agency (MINA)

Rate this article!

Leave a Reply