UNICEF: PERANG MALI GANGGU PENDIDIKAN 700.000 ANAK

 Ankara, 19 Rabiul Akhir 1434/1 Maret 2013 (MINA) – The United Nations Children’s Fund (UNICEF) dan otoritas pendidikan Mali melaporkan ada sekitar 700.000 anak-anak yang terkena dampak gangguan dari pertempuran yang terjadi di utara dan selatan Mali, sebagaimana laporan yang diterima MINA di Jakarta, Jum’at (1/3) dari Turkish Weekly.

Meningkatnya pertempuran telah mengganggu pendidikan bagi ratusan ribu anak-anak sekolah di Mali.  Ada 200.000 anak yang tidak memiliki akses ke sekolah sama sekali.

UNICEF mengatakan sekolah di utara telah ditutup dan dijarah serta banyak guru tidak dapat kembali. Di selatan, sekolah menjadi penuh sesak, guru-guru tidak mampu menangani masuknya siswa pengungsi dari utara.

“Pada titik ini ada lebih dari 115 sekolah yang  ditutup, dihancurkan atau dijarah. Salah satu masalah lain yang kita hadapi adalah banyak guru yang masih takut untuk kembali ke bagian utara negara itu. Dan di bagian selatan, kami penuh sesak,  sekolah harus mengatasi masuknya siswa pengungsi dari utara, “jelas Laurent Duvillier, juru bicara UNICEF Afrika barat dan tengah.

Duvillier  mengatakan ini merupakan beban tambahan pada guru dan infrastruktur. Dia menjelaskan di utara hanya satu dari tiga sekolah yang berfungsi. Di Kidal semua sekolah ditutup.

“Itu berarti bahwa seorang anak di Kidal pada tahap ini tidak memiliki kesempatan untuk mendapatkan akses pendidikan.  Jadi itu sangat memprihatinkan,” kata Duvillier.

“UNICEF terlebih dahulu mendistribusikan perlengkapan  sekolah dan materi pengajaran kepada guru dan sekolah-sekolah di bagian selatan  yang dekat ke bagian utara negara itu,” katanya.

Duvillier juga mengatakan mereka memiliki akses ke Mopti di bagian tengah Mali.

“Para guru dan anak-anak sekolah telah tiba di Mopti dan kami akan segera mendistribusikan ke bagian utara, bersama-sama dengan mitra kami dan LSM lokal,” jelas Duvillier.

Tambah Duvillier, bagi sekolah yang telah hancur atau dijarah, pusat  ruang belajarnya  sedang diatur di bawah tenda di mana anak-anak dapat belajar dan bermain di lingkungan yang aman.

Beberapa hari belakangan, pertempuran sengit terus terjadi di utara Mali antara pasukan gabungan Afrika (ECOWAS) yang didukung pasukan Perancis dengan pasukan kelompok-kelompok Islam.

Kematian Jenderal Pasukan Khusus Chad dan terlukanya anak Presiden Chad Mayor Jenderal Muhammad Idris Debby membuat pasukan Chad mundur dari pertempuran.

Sementara itu, Al-Qaedah Negeri Maghrib Islam (AQIM) menyatakan dalam video yang dirilis Yayasan Media Al-Andalus  bahwa AQIM telah siap melakukan perang gerilya meskipun satu abad lamanya.(T/P09/R2).

Miraj News Agency (MINA).

 

Leave a Reply