240 HARI MOGOK MAKAN, KONDISI TAHANAN PALESTINA MAKIN KRISIS

Tepi Barat, 17 Jumadil Awal 1434/28 Maret 2013 (MINA) – Sumber-sumber medis telah memperingatkan penurunan serius kondisi kesehatan salah seorang tahanan Palestina yang melakukan aksi mogok makan, Samer al-Issawi yang dapat menyebabkan “kematian mendadak” bagi dirinya.

Komunitas Tahanan Palestina melaporkan dalam sebuah pernyataan, dokter di rumah sakit Israel ‘Kaplan’ mengatakan, kondisi kesehatan Issawi memburuk setiap jamnya.

“Detak jantungnya telah mencapai 28 detakan per menit sementara tingkat gula dalam darahnya hanya 65,” kata komunitas Tahanan Palestina seperti dikutip kantor berita berbasis di Gaza Al-Ray yang dipantau Mi’raj News Agency (MINA), Kamis (28/3).

Hal itu menunjukkan bahwa dokter telah berulang kali memperingatkan kondisi kesehatan Issawi yang semakin merosot tajam dan mengatakan ia harus segera mengakhiri aksi mogok makan. Issawi telah mogok makan selama lebih dari 240 hari.

Menurut dokter, kondisi Issawi memburuk setelah menghabiskan lebih dari 240 hari tanpa makanan untuk menentang kebijakan ‘penahanan administratif’ penjajah Israel, di mana warga Palestina yang dipenjara dalam waktu yang lama tanpa proses pengadilan.

Issawi adalah salah satu dari beberapa tahanan Palestina yang melakukan aksi mogok makan jangka panjang. Beberapa analis politik internasional telah membandingkan aksi mogok makan tahanan Palestina dengan Bobby Sands, pemogok makan asal Irlandia Utara pada 1970-an.

Dokter mengatakan, Issawi menderita kesulitan bernapas, pusing konstan, selain nyeri di seluruh tubuhnya.

Samer al-Issawi, 33 tahun, telah ditahan tanpa dakwaan selama lebih dari tujuh bulan oleh penjajah Israel. Ia dibebaskan dari penjara pada Oktober 2011 sebagai bagian dari pertukaran tahanan seorang perwira Israel Gilad Shalit dan kemudian ditahan lagi tanpa tuduhan pada tanggal 7 Juli 2012.

Issawi telah melakukan mogok makan sejak awal Agustus 2012 untuk memprotes penahanan atas dirinya.

Ia dilarikan ke rumah sakit sebelum pengadilan militer pada 21 Februari 2013, saat ia sudah melakukan aksi mogok makan selama lebih dari 200 hari, dan pengacaranya menuntut pembebasannya. Namun pengadilan militer Israel menolak, dan menjatuhi hukuman kepada Issawi tambahan delapan bulan penjara.

Ia menghadapi hukuman potensial dua puluh tahun penjara. Setelah dibebaskan pada tahun 2011 sebagai bagian dari kesepakatan pertukaran tahanan, ia dibawa ke tahanan pada tahun berikutnya untuk berada di sebuah kota dekat Al-Quds (Yerusalem) yang dilarang baginya untuk melakukan perjalanan, sesuai dengan ketentuan pembebasannya.

Issawi kemungkinan menjadi tahanan Palestina pertama yang tewas dalam gerakan saat melakukan mogok makan, menurut pengacara dan dokter.

Hingga Tuntutan Terpenuhi

Sementara itu, tahanan warga asli Al-Quds itu mengatakan dalam sebuah pesan yang dikirim melalui pengacaranya bahwa penjajah Israel berada dalam “kebangkrutan nyata” seperti terlihat atas upaya mereka berulang kali memaksa Issawi mengakhiri aksi mogok makan.

Dalam sebuah surat yang dirilis Senin (25/3) seperti dikutip AlResalah, Issawi juga menulis “Saya akan terus melakukan aksi mogok makan terbuka, dan tidak akan menarik kembali langkah-langkah saya. Hidup saya tidak lebih berharga daripada darah para syuhada Palestina.”

Issawi mengatakan, ia tidak akan tunduk pada tekanan penjajahan Israel dan akan terus melakukan aksi mogok makan hingga tuntutannya terpenuhi.

Dimulai oleh Khader Adnan lebih dari setahun yang lalu, gerakan ini telah menarik ribuan tahanan Palestina melakukan aksi mogok makan jangka pendek dan panjang untuk menuntut perubahan dalam sistem peradilan militer Israel yang mengatur warga Palestina di Tepi Barat dan Gaza.

Lebih dari 1600 tahanan melakukan aksi mogok makan sejak 17 April 2012 lalu. Tuntutan utama mereka adalah menuntut penjajah Israel untuk mengakhiri praktek sewenang-wenang penahanan administratif, mengakhiri pemberlakuan sel isolasi, mengakhiri penyerangan di dalam sel, pencabutan semua pembatasan kunjungan keluarga tahanan, peningkatan pelayanan penjara dan perawatan medis, dan mengakhiri keluarga tahanan yang dipermalukan di pos pemeriksaan saat melakukan kunjungan, membuka kembali kunjungan keluarga dari Gaza serta memberikan kehidupan bagi tahanan Palestina yang bebas dan bermartabat. Penjajah Israel telah menghentikan kunjungan keluarga bagi para tahanan yang melakukan aksi mogok makan.

Organisasi Hak Asasi Manusia Urusan Tahanan Palestina, AdDameer, melaporkan, total tawanan warga Palestina yang kini berada di penjara-penjara penjajah Israel berjumlah 4812 tawanan.

Pada akhir September 2012, terdapat sekitar 60 tahanan Palestina yang ditahan di dalam sel isolasi, termasuk dua diantaranya ditempatkan secara terpisah untuk alasan negara atau keamanan penjara.

Banyak tahanan Palestina yang ditahan selama bertahun-tahun tanpa diadili, dan orang-orang yang dikenakan hukuman, lebih dari 99% mereka yang ditahan, seringkali dengan sedikit atau tidak ada bukti atas penahanan mereka. (T/P02/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Leave a Reply