43 ORANG TEWAS AKIBAT BENTROKAN DI MYANMAR

Mandalay, 17 Jumadil Awal 1434/30 Maret 2013 (MINA) – Bentrokan baru antara ekstrimis Buddha dan Muslim Rohingya yang memicu kerusuhan di sebuah toko emas di Meiktila, kota Mandalay, mengakibatkan 43 orang tewas dan 86 lainnya luka-luka.

Sebuah laporan yang menjadi berita utama dalam surat kabar di Myanmar memberitakan, kekerasan itu juga mengakibatkan sekitar 11.376 orang kehilangan tempat tinggal.

 “Kekerasan menyebar ke kota-kota di wilayah lain, dan sejauh ini, 163 kasus kekerasan terjadi di 15 kota,” Kementerian Dalam Negeri Myanmar seperti dilansir Kantor Berita ABNA yang dipantau Mi’raj News Agency (MINA), Sabtu (30/3).

Kementerian Dalam Negeri Myanmar juga melaporkan sekitar 1355 rumah, toko dan bangunan hancur. Sedangkan, lebih dari 9000 orang sementara berada di tempat pengungsian.

PBB memperingatkan, terhadap ribuan Muslim Rohingya yang terlantar akibat kekerasan anti Muslim di wilayah bagian barat Myanmar yang kini tengah menghadapi krisis menjelang musim hujan, jika pemerintah gagal untuk memindahkan kamp mereka dan memfasilitasi pengiriman bantuan.

“Puluhan ribu orang terlantar akibat kekerasan di negara bagian Rakhine yang kini dalam situasi bahaya, ditambah  lagi bencana musim hujan melanda,” kata John Ging, direktur Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (UN Office for the Coordination of Humanitarian Affairs/OCHA).

Musim hujan diperkirakan akan dimulai pada Mei 2013 ini, dan membawa curah hujan sekitar 500 cm selama enam bulan berikutnya. Sementara itu, bantuan kemanusiaan ke kamp telah terhalang oleh masyarakat Buddhis lokal yang menginginkan Muslim Rohingya dideportasi ke Bangladesh.

“Kami membutuhkan dukungan pemerintah untuk membangun rasa hormat masyarakat untuk upaya bantuan internasional,” kata Ging, yang mengunjungi negara bagian Rakhine pekan ini.

“Telah ada masalah serius dengan ancaman dan hasutan terhadap badan-badan dan pekerja bantuan kemanusiaan,” tambah Ging.

Para ekstremis Buddha sering menyerang Muslim Rohingya dan membakar rumah mereka. Tentara Myanmar diduga memberikan bensin kepada ekstremis Buddha untuk membakar rumah-rumah penduduk Muslim Rohingya, yang kemudian Muslim Rohingya itu terpaksa harus mengungsi.

Muslim Rohingya merupakan keturunan dari  Muslim Persia, Turki, Bengali, dan Pathan yang bermigrasi ke Myanmar pada awal abad ke-8. Amnesty International dan Human Rights Watch telah menerbitkan laporan, menyerukan pemerintah Myanmar untuk mengambil tindakan melindungi populasi Muslim Rohingya terhadap aksi pembantaian oleh ekstremis Buddha. (T/P014/P02)

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Leave a Reply