50 PEJUANG ISLAM MALI TEWAS SEJAK 1 MARET

Bamako, 22 Rabiul Akhir 1434/4 Maret 2013 (MINA) – Satu sumber militer Mali mengatakan sedikitnya 50 pejuang Islam Mali telah terbunuh sejak awal Maret (1/3) dalam bentrokan pasukan Prancis dan Mali dekat kota Gao di Mali utara, media Modern Ghana (GM) melaporkan Minggu (3/3).

“Pertempuran berlanjut Minggu pagi sekitar 60 kilometer (37 mil) utara Gao antara Islamis dan pasukan Mali yang didukung tentara Perancis. Kami menguasai keadaan,” kata seorang sumber militer Mali yang dihubungi melalui telepon oleh sumber GM dari ibukota Bamako.

“Setidaknya 50 MUJAO Islam tewas sejak Jumat kemarin,” tambahnya, mengacu Gerakan Kesatuan dan Jihad di Afrika Barat.

Sementara Chad melaporkan tentara yang tewas adalah Mokhtar Belmokhtar, dalang dari serangan bulan Januari pada pabrik gas Aljazair yang menewaskan 37 sandera asing, serta pimpinan Al-Qaeda di Maghreb Islam (AQIM) Abdelhamid Abou Zeid, namun belum dikonfirmasi oleh sumber lainnya.

Pejabat Perancis dan Mali mengatakan bentrokan meningkat di wilayah tersebut dalam beberapa hari terakhir.

“Seorang tentara Perancis tewas dalam beberapa pertempuran terberat yang kita lakukan di wilayah Mali,” kata Menteri Pertahanan Perancis Jean-Yves Le Drian.

Prancis mengatakan salah satu tentaranya tewas pada Sabtu malam di utara Mali, kematian ketiga dari Perancis sejak intervensi dimulai. Perancis sejauh ini telah menderita korban relatif sedikit selama operasinya di Mali. Seorang legiun tewas dalam bentrokan pada 19 Februari dan pilot helikopter tewas di awal operasi.

Tentara Perancis mengatakan sedikitnya 15 pejuang Islam telah “dinetralkan” – terbunuh atau terluka – di hari Sabtu pertempuran yang menyebabkan kematian prajuritnya. Peningkatan bentrokan terjadi saat Chad mengumumkan terbunuhnya Belmokhtar pada  Sabtu dan Abou Zeid, Jumat.

“Ini adalah laporan dari tentara Chad yang telah melakukan banyak pertempuran di bagian utara Mali. Saya menekankan, kita tidak bisa benar-benar mengkonfirmasi pada saat ini,” kata menteri luar negeri Inggris kepada BBC menanggapi berita itu.

Tentara Chad mengatakan Belmokhtar seorang warga Aljazair yang memisahkan diri dari AQIM untuk membentuk sebuah kelompok yang disebut ‘Signatories in Blood’ (Penandatangan Berdarah), ia tewas dalam operasi di pegunungan Mali Ifoghas.

Pada Januari, beberapa hari setelah keputusan mengejutkan  itu, Perancis mengirimkan jet tempur dan pasukannya untuk membantu pemerintah Mali merebut kembali bagian utara, Belmokhtar mengklaim serangan terhadap pabrik gas Amenas di selatan Aljazair.

Serangan spektakuler di pabrik gas yang dioperasikan oleh Inggris, Amerika Serikat dan perusahaan-perusahaan minyak Norwegia itu berakhir dengan pertumpahan darah, 38 sandera dibunuh saat serangan Aljazair berakhir krisis. Di antaranya 37 warga asing dari Inggris, Norwegia dan Jepang.

Laporan kematian pria berjuluk “The Uncatable” itu mencuat setelah Presiden Chad Idriss Deby Itno mengumumkan, Jumat, pasukannya telah membunuh Abou Zeid, komandan tinggi AQIM di Mali.

Deby mengatakan pasukannya membunuh Abou Zeid dalam pertempuran besar 22 Februari yang juga menewaskan 26 tentara Chad, tetapi beberapa media lokal melaporkan ia tewas dalam serangan udara Perancis.

Abou Zeid (46), diyakini menahan sejumlah sandera Barat, termasuk empat warga Perancis yang diculik di Niger tahun 2010. Dia dan Belmokhtar terlibat langsung di sebagian besar penculikan terhadap orang asing yang telah melanda wilayah tersebut dalam beberapa tahun terakhir. Laporan pembunuhan mereka telah menimbulkan kekhawatiran atas nasib sandera Perancis  yang mungkin digunakan sebagai perisai bagi kelompok Islam.(T/P09/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply