AL-MOALLEM, TOLAK CAMPUR TANGAN PIHAK ASING MASALAH SURIAH

Teheran,  21 Rabiul Akhir 1434/3 Maret 2013 (MINA) – Menteri Luar Negeri Suriah, Walid al-Moallem, Sabtu menekankan Suriah tidak akan mentolerir pergeseran kedaulatan negaranya atau menerima perintah dari campur tangan pihak asing karena mereka berpegang teguh pada kemerdekaan politik dan menolak kekerasan.

“Kami, di Suriah, menghadapi krisis di mana sebagian besar dunia ikut ambil bagian,” kata al-Moallem dalam konferensi pers setelah pembicaraan dengan rekannya dari Iran Ali Akbar Salehi di Teheran.

Dia mencatat dialog berjalan dengan lancar. Ia percaya solusi krisis politik dapat diselesaikan melalui dialog komprehensif dan jajak pendapat dari masyarakat Suriah.

“Setiap kali dialog berjalan, kekerasan meningkat, kelompok-kelompok oposisi yang menumpahkan darah Suriah dan menghancurkan infrastruktur ekonomi dan budaya,” katanya.

Dia bertanya-tanya pada AS untuk memberikan 60 juta dolar dan menghentikan bantuan kepada kelompok-kelompok oposisi yang membunuh rakyat Suriah.

“Ini adalah standar ganda kebijakan. Siapa yang ingin solusi politik di Suriah tidak menghukum orang-orang Suriah dan tidak mendanai sekelompok dari mereka dengan menghentikan bantuan. Kami mendukung segala upaya yang tulus yang ditujukan untuk solusi politik. Mereka memiliki peran masing-masing, dimana sebenarnya bisa menghentikan kekerasan dan pertumpahan darah di Suriah,” tegasnya.

Al-Moallem meminta Suriah untuk mengadakan dialog. Dia menambahkan bahwa konflik Suriah hanya akan menimbulkan banyak korban. “Mari kita bergandengan tangan dalam membangun masa depan demokratis plural Suriah,” ajaknya.

Dia menambahkan bahwa Suriah akan aman dan pulih seperti sediakala bila sudah tidak kontak senjata antara Suriah dan pasukan oposisi. Dia menegaskan bahwa orang-orang yang mengangkat senjata tidak akan pernah bisa membangun masa depan Suriah, sebab kekerasan dan pembunuhan akan hanya akan memperburuk kondisi Suriah. 

Luar Negeri menggambarkan pembicaraan dengan rekannya dari Iran behasil dan mengatakan berbagi sudut pandang yang sama, dia juga mencatat alasan pertama kunjungannya ke Iran untuk menawarkan kepemimpinan Suriah dan masyarakat terima kasih kepada pemerintah dan rakyat Iran.

Sementara itu, menteri luar negeri Iran, Ali Akbar Salehi mengatakan bahwa salah satu alasan di balik penyebaran krisis di Suriah adalah dukungan dari negara lain untuk orang bersenjata, kebanyakan dari mereka adalah tentara bayaran asing untuk melakukan kejahatan di Suriah.

“Solusi untuk krisis di Suriah tidak bisa melalui militer, melainkan melalui dialog antara oposisi dan pemerintah Suriah. Kami berharap lembaga-lembaga internasional dan negara regional dan internasional ikut berpartisipasi menghentikan kekerasan sesegera mungkin dan menghentikan konflik yang kita saksikan sekarang,” tambahnya.

Salehi menambahkan mereka yang bersikeras untuk mengangkat senjata bertanggung jawab atas pertumpahan darah dan kejahatan di Suriah, menyerukan kepada negara-negara berpengaruh untuk bekerja sama untuk menghentikan kekerasan di Suriah dan menempatkan perbedaan mereka.

Menurutnya, pemerintah Suriah menyatakan kesiapannya untuk dialog. Pemerintah juga akan menahan mereka yang menghalangi dialog atas pertumpahan darah di Suriah. Oleh karena itu, tidak ada dalih lain kecuali berdialog, katanya kepada SANA yang dipantau oleh Miraj News Agency (MINA).

Dia menambahkan bahwa menteri al-Moallem mengumumkan di Rusia bahwa ia siap untuk berdialog bahkan dengan oposisi bersenjata.  Dia tidak mengklasifikasikan oposisi dan ini merupakan langkah luar biasa yang dibuat oleh pemerintah Suriah dan proposal yang baik mengenai metode keluar dari krisis. “

Menghentikan dukungan kepada orang-orang bersenjata di Suriah dan yang akan menekan Qatar, Turki dan negara-negara Arab lainnya untuk menghentikan pertumpahan darah di Suriah untuk mendorong solusi politik. “Kami menangani semua orang yang ingin solusi politik di Suriah dan ini sejalan dengan resolusi Dewan Keamanan PBB dalam memerangi terorisme,” tambahnya.(T/P08/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply