BANK DUNIA : TEMBOK ISRAEL HAMBAT EKONOMI PALESTINA

Bethlehem, 2 Jumadil Awal 1434/14 Maret 2013 (MINA) – Tembok yang dibangun Israel yang mengelilingi beberapa wilayah di Palestina telah menyebabkan terhambatnya pertumbuhan ekonomi rakyat Paestina.

Hal itu diungkapkan oleh  Mariam Sherman, direktur Bank Dunia yang diterbitkan pada Selasa (12/3) dalam sebuah pernyataan persnya di Bethlehem.

Dalam laporannya yang berjudul “Tantangan Ekonomi dan Keuangan Palestina” yang dirilis menjelang Rapat Komite Ad Hoc (AHLC), yang akan diselenggarakan di Brussels, Belgia pada 19 Maret mendatang.

Menurut Bank Dunia,  mereka mengungkapkan bahwa upaya Israel dalam membangun tembok yang memisahkan wilayah-wilayah Palestina telah kerusakan permanen pada perekonomian rakyat Paalestina.

“Penutupan dan pembatasan wilayah-wilayah itu menyebabkan kerusakan permanen pada daya saing perekonomian rakyat Palestina. Mereka kesulitan mendapatkan akses untuk bisa keluar dari wilayahnya, demikian juga para pedagang dan investor kesulitan untuk bisa masuk ke wilayah Palestina,” kutip wafa seperti diterima Mi’raj News Agency(MINA).

“Situasi tersebut juga berdampak pada stabilitas politik Palestina, sehingga rakyatnya sering mengadakan demonstrasi dan berujung pada kerusuhan,” ungkapnya lagi.

“Jika keadaan ini dibiarkan terus menerus, maka Palestina akan mengalami kehancuran ekonomi dan politik,” tambahnya.

Sejak akhir 1990-an, produktivitas sektor pertanian rakyat Palestina mengalami penurunan disebabkan karena ladang-ladang para petani terpisah oleh tembok Israel. Mereka harus melewati pos-pos pemeriksaan yang ketat agar bisa sampai ke ladang mereka.

Ekspor Palestina disektor pertanian turun menjadi 7 persen pada tahun 2011, dan itu adalah angka paling rendah di dunia. Ekspor mereka terkonsentrasi hanya untuk keperluan-keperluan dalam negeri Israel.

Sarana pengairan dan infrastruktur transportasi juga sangat buruk. Hal itu berdampak langsung pada  produktivitas pertaniannya. Sarana-sarana itu tidak mendapat perhatian yang serius dari pemerintah Palestina karena minimnya anggaran pembangunan infrastruktur mereka. Daerah yang paling parah kerusakannya terjadi di Gaza Israel sejak tahun 2007 silam.

Sementara itu, tingkat pengangguran di Palestina terbilang sangat tinggi. Mereka tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkan keterampilan di wilayah mereka. ” Fenomena ini menegaskan bahwa kondisi Palestina saat ini sedang kritis. Penurunan tingkat ekonomi warga, pengangguran berlarut-larut terutama di kalangan anak muda, cenderung menyebabkan kerusuhan yang semakin memperburuk kondisi sosial negara tersebut,” ungkap direktur Bank Dunia itu.

“Namun, banyak upaya yang bisa dilakukan untuk memperbaiki kondisi perekonomian Palestina. Dengan bantuan negara-negara sahabat, Palestina pasti akan bisa bangkit dan sejajar dengan negara-negara di Timur Tengah,” tambah Sherman.(T/P04/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

 

 

Leave a Reply