BENCANA TELEVISI

Oleh Bahron Ansori*

Banyak orang tua, menjadikan televisi (TV) sebagai “alat penjinak’ anaknya yang masik kecil. Tujuannya, agar si anak bisa  duduk tenang dan tidak rewel, sehingga orang tuanya bisa  mengerjakan pekerjaan lain. Tidak disadari, jika acara yang disaksikan anak-anak kita tidak sesuai untuk usia mereka. Saat menonton itu sebenarnya orang tua sedang meracuni akhlak dan kepribadian (moral) anak-anaknya.

Hasil penelitian di Universitas Meisure, Amerika Serikat disimpukan sepertiga dari kekayaan hidup manusia didapat dari kalimat-kalimat yang pernah didengarnya ketika berusia 3 tahun. Seorang psikolog ternama, Rose Cambell mengatakan bahwa 80 persen pembentukan moralitas seorang anak terbentuk sebelum usia 5 tahun. Sedangkan 90 persen kepribadiannya terbentuk pada usia 7 tahun.

Dua penelitian tersebut, menyimpulkan bahwa apa yang di dengar dan dilihat pada usia dibawah 5-7 tahun merupakan cikal bakal terbentuknya sikap dan tingkah laku anak pada usia selanjutnya. Jika nilai-nilai yang diterima itu positif, kepribadiannya pun akan bernilai positif, begitu pula sebaliknya.

Sebenarnya, banyak orang tua yang mengetahui betapa bahayanya televise bagi anak-anak. Menurut sebuah penelitian, usia 3-7 tahun, ibarat kayu yang masih lentur, mudah dibentuk dan diarahkan. Pada usia itu, merupakan modal utama dalam keberhasilan pendidikan anak pada usia selanjutnya.

Namun, jika orang tua menyia-nyiakan usia ini (3-7) tahun, dan membiarkan berkembang apa adanya, maka jangan terkejut jika anak setelah dewasa susah diatur dan suka melawan. Serta pandai menghardik dengan kata-kata kasar. Mungkin kita tidak pernah mengajarkan mereka cara menghardik dan berbohong, tapi perlu diingat, TV bisa menjadi mimbar syetan, yang siap mengajari anak kita nonstop 24 jam.

Dampak TV

Berdasarkan penelitian Australian’s Children Television Action Committee (ACTAC), rata-rata setiap hari anak menghabiskan waktu menonton tayangan televisi antara 3-3,5 jam perhari, termasuk satu jam tayangan iklan.

Sedangkan, Prof Dr Sarlito W Sarwono—psikolog yang banyak mencurahkan perhatiannya pada dampak TV terhadap anak-anak—merasa terkejut melihat hasil penelitiannya. Dari risetnya itu terbukti, anak-anak Indonesia menonton TV dalam sehari menghabiskan waktu 6 jam. Padahal batas toleransi menonton TV untuk anak-anak usia 3-7 tahun adalah maksimal 2 jam sehari.

Selama satu tahun, seorang anak menyaksikan 25 ribu iklan di televisi dan 90 persen dari iklan itu ditujukan langsung untuk anak-anak dan menyajikan makanan-makanan bergizi rendah. Hal ini menyebakan anak-anak hidup boros dan banyak menuntut produk yang ditawarkan TV.

Selama masa sekolah, anak-anak diperkirakan menyaksikan 87 ribu tindakan kekerasan di televisi, terutama dalam berita. Bukan hanya film dan sinetron yang menyajikan adegan kekerasan, bahkan film animasi anak (kartun) sebut saja Sin Chan, Doraemon, Naruto, Hatorri dan lainnya juga banyak menyuguhkan kekerasan, bahkan ada yang menggambarkan 84 adegan kekerasan perjam.

Tayangan kekerasan semacam itu, setidaknya menimbukan tiga dampak negatif bagi anak; pertama, timbulnya rasa ketakutan yang berlebihan terhadap faktor-faktor yang disebutkan dalam acara tersebut.

Ketakutan terbesar anak-anak dan remaja saat ini, khususnya remaja putri adalah terjadinya kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan seksual oleh keluarga atau kerabat dekat dan maraknya kejahatan di luar rumah. Pemicu terbesar timbulnya ketakutan ini adalah banyaknya tayangan TV yang menayangkan pemerkosaan, penculikan, perampokan, penipuan, hipnotis, dan kriminalitas sejenis lainnya.

Kedua, anak-anak menjadi kebal dan terbiasa dengan tindakan kriminal. Seseorang yang sering meyaksikan tayangan kekerasan dan kriminal, baik dalam film maupun berita akan menganggap hal itu biasa-biasa saja. Akibatnya, kepekaan anak-anak terhadap masalah kemanusiaan menjadi tumpul.

Di Amerika Serikat, negara yang paling banyak memiliki stasiun televisi misalnya, telah diteliti pada tahun 1948, pengaruh TV terhadap penyalahgunaan narkotika. Kesimpulannya, medium itu mempunyai peranan besar dalam peningkatan kecanduan obat bius tersebut.

Pada tahun 1960 diteliti pula pengaruh televisi terhadap kerusakan moral di Inggris. Hasilnya, sebagaimana dikemukakan oleh psikolog Hans Eysencl, TV benar-benar telah menurunkan standar moralitas dan meningkatkan kriminalitas orang muda. Tentu saja keadaan ini tidak muncul mendadak, tetapi berproses, dimulai sejak masa kanak-kanak (Majalah Panji Masyarakat No. 743).

Ketiga, peniruan. Tidak mustahil, seorang anak akan meniru hal negatif yang ada dalam adegan kekerasan, misalnya memukul, mencaci dan tindakan kasar lainnya. Berdasarkan penelitian ACTAC, Anak-anak yang menyaksikan televisi tanpa kontrol dapat dikaitkan dengan meningkatnya kekerasan, prilaku agresif, dan hasil akademik atau belajar yang jelek. Menyaksikan televisi sebelum sekolah dapat menurunkan daya tangkap anak terhadap pelajaran di sekolah. Pendapat senada banyak dikemukaan ahli komunikasi lainnya. Sedangkan anak-anak di bawah usia 4 tahun menghadapi kesulitan membedakan antara fantasi (khayalan) dan kenyataan.

Stephen R Covery dalam bukunya, “The Habits Of Highly Effetive Families” (1999), mengatakan, kebayakan keluarga akan mengalami  kesulitan ketika harus memilih dan memilah siaran TV yang cocok, khususnya bagi keluarga yang memiliki anak-anak dan remaja. Memilih acara yang cocok, lanjut Stephen, sama halnya dengan memilih salad yang bercampur aduk di tumpukan sampah. Mungkin ada sedikit salad yang enaktetapi cukup sulit memisahkan antara salad itu dengan sampah, kotoran dan lalatnya.

Stephen juga menyatakan, anak-anak menonton TV tanpa pengawasan dari orang tua, sama halnya dengan mengundang orang asing berjam-jam setiap hari ke dalam rumahnya. Ia senantiasa mengajarkan kejahatan pada anak-anak.

Meskipun demikian, harus diakui TV telah memperluas cakrawala pemirsanya, menyuguhkan pelajaran dan pendidikan; akan tetapi efek negatifnya secara cermat harus diwaspadai oleh orang tua. Sebab, menurut ahli pendidikan, kebiasaan menonton TV tanpa kendali dan pengawasan orang tua, akan menggantikan kebiasaan membaca buku, menghambat kreativitas, analisis, dan bahasa anak-anak.

Peran Keluarga

George Gabner, ahli ilmu komunikasi, pernah memperingatkan bahaya TV terhadap pemirsanya dengan ungkapan, “Saat ini televisi cenderung menjadi agama baru bagi manusia (the new religion).”

Disinilah orang tua dituntut untuk jeli memilihkan acara TV yang sesuai untuk anggota keluarganya. Melihat dampak TV, orang tua harus mengambil tindakkan tegas terhadap media massa yang satu ini, jangan sampai TV menjadi agama baru bagi anak-anaknya; kapan TV boleh dinyalakan dan dimatikan, acara apa saja yang boleh dan tidak boleh ditonton. Jika tidak ingin menyesal, jangan pernah membiarkan anak-anak berusia dibawah 7 tahun memilih dan menonton acara TV sendiri. Orang tua harus konsisten dengan peraturan yang ditetapkannya, agar peraturannya tidak dinilai hanya main-main.

Keluarga sebagai ‘lembaga pendidikan’ anak mempunyai peranan dan fungsi yang penting, terutama dalam menciptakan ge-nerasi-generasi tanggunh pembela dinullah (Islam). Pembinaan keluarga yang baik akan menempatkan ajaran Islam sebagai landasan dan rujukannya. Maksudnya, disamping mengajarkan dan memperkenalkan Islam sedini mungkin, juga menjadikan Islam sebagai keyakinan hidup, pengendalian akhlak, sekaligus menjadi alat kontrol atas setiap tindakan yang akan dilakukannya.

Dengan demikian, dienullah akan bersifat preventif dan konstruktif bagi akhlak anak-anak. Hal ini mungkin terjadi manakala aqidah Islam masuk ke dalam pribadi dirinya. Untuk itu peran orang tua dalam hal ini sangat penting, bagaimana ajaran Islam ini dapat masuk bersama dengan pembinaan anak sejak dini.

Sehingga tantangan yang begitu kompleks dan global itu, dengan peran keluarga yang aktif akan menjadi tameng bagi anak-anak kita. Karena itu, keluarga sebagai sekolah pertama anak, jangan sampai kehilangan fungsinya, yaitu mencetak dan melahirkan generasi tangguh yang memahami ajaran Islam. Wallahua’lam.(R2/R1).

*Redaktur MINA


Mi’raj News Agency (MINA)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rate this article!

BENCANA TELEVISI,0 / 5 ( 0votes )

Leave a Reply