DEMI KEADILAN, 260 HARI MOGOK MAKAN

Oleh Bahron Ansori & Rana Setiawan

Bayangkan, bila Anda masuk dalam sel berukuran 1,5 m x 2 m dengan satu jendela hanya berukuran 50 cm x 100 cm, dimana cahaya dan udara sangat sulit sekali masuk. Tidak ada toilet, panas, kecil, di mana tak seorang pun bisa mendengar panggilan Anda atau merasakan sakit yang Anda rasakan. Begitulah kondisi penjara penjajah Israel. Dalam penjara-penjara itu pula para mujahid Palestina di tahan.

Salah satu dari sekian ribu tahanan itu bernama Ayman Sharawna (38). Ia Lahir di Deir Samet di Dura-Hebron, sebelah selatan Tepi Barat, Palestina. Ia sudah menikah dan dikaruniai sembilan anak. Ayman adalah salah satu warga Palestina di antara ribuan warga lainnya yang dipenjarakan Israel tanpa alasan jelas.

Ayman, begitu dia biasa disapa. Sebelumnya, ia pernah ditangkap Israel pada 5 Oktober 2002 silam. Saat itu, ia dijatuhi hukuman selama 38 tahun. Namun, ia hanya menjalani 10 tahun penjara sebab penjajah Israel berniat untuk menukarnya dengan seorang prajurit Israel Gilad Shalit yang ditangkap oleh mujahid HAMAS pada 2006 lalu.

Pada 26 Feb 2013, Sharawna berada dalam sel isolasi di Penjara Ayalon di Beer al-Saba ‘, dan mengalami perlakuan kasar dan merendahkan oleh sipir penjara dan pasukan khusus Israel.

Pada 20 Februari 2013, Mahkamah Agung Israel menilai banding atas nama tahanan Ayman Sharawna mengenai kebijakan Militer 1651 Pasal 186. Pengadilan memutuskan untuk mengembalikan kasus ini ke Komisi Militer untuk membuat keputusan, sebelum dapat diangkat kembali di Mahkamah Agung.

Ia dipenjara di sebuah sel kecil di mana tak seorang pun bisa mendengar panggilannya atau merasakan rasa sakitnya. Dia bertahan dalam rasa sakit akibat kelaparan dan kepahitan serta keheningan masyarakat internasional. Pada pertengahan Maret 2013, Kementerian Urusan Tahanan Palestina menyatakan bahwa ia kehilangan 80% dari penglihatannya.

Israel memang kejam, sadis dan wajar jika Erdogan menyebutnya sebagai fasis. Setelah Gilad Shalit dibebaskan, Ayman serta 1027 warga Palestina lainnya yang ditahan Israel pun dibebaskan pada 18 Oktober 2011. Ayman dan ribuan tahanan lainnya dibebaskan bersyarat dengan pembebasan seorang prajurit militer Israel Gilad Shalit. Artinya, bagi Israel satu prajuritnya berarti dibanding ribuan Muslim Palestina.

Setelah mereka membebaskan Ayman, empat bulan kemudian tepatnya pada 31 Januari 2012 pukul dua pagi waktu setempat, pasukan militer Israel menyerbu dan melakukan penggeledahan ke dalam rumah Ayman Sharawna. Anda bisa bayangkan betapa kurang ajarnya para penjajah Israel terhadap Muslim Palestina itu.

Para penjajah itu menghancurkan seluruh harta benda milik Ayman. Mereka juga menyita dokumen pribadi dan dokumen lain yang berisi tentang berita acara pembebasan bersyarat yang dilakukan pada pertukaran tahanan 2011 lalu.

Tidak puas sampai disitu, penjajah-penjajah Zionis lalu mengambil komputer Ayman, dimana komputer itu biasa ia gunakan untuk mengerjakan tugas sekolah anak-anaknya. Bisa jadi, tentara Zionis mengira bahwa komputer Ayman berisi data-data penting yang berisi tentang penantangan terhadap rezim Zionis.

Dimana ada kesepakatan, disitu ada  pelanggaran. Itulah moto umum yang biasa dan sering kali dilakukan oleh Israel. Pada 2011 lalu, Ayman dan beberapa tahanan lainnya dibebaskan. Namun, ia dan beberapa tahanan yang baru bebas itu ditangkap kembali tanpa alasan yang jelas, tanpa tuduhan  atau pengadilan.

Menurut klaim penjajah Israel, Ayman dan beberapa tahanan lainnya ditangkap kembali karena mereka dianggap melanggar beberapa kesepakatan sepihak yang dibuat oleh Israel. Diantaranya; para tahanan yang dibebaskan itu harus melapor kepada badan intelijen Israel selama 2 bulan sekali terkait dengan aktifitas yang mereka lalukan sehari-hari.

Namun, Ayman dan beberapa warga Palestina lainnya tidak mau melaksanakan apa yang diminta oleh penjajah Israel tersebut. Akibatnya, penjajah Israel kembali menangkap mereka atas tuduhan melanggar dokumen administrasi rahasia yang menurut penjajah  Israel sudah dibuat atas kesepakatan bersama.  

Kebohongan dokumen administrasi rahasia Israel itu semakin nyata, saat Ayman dan pengacaranya tidak diizinkan untuk mengakses dokumen administrasi rahasia tersebut atau sekedar ingin mengetahui perihal pelanggaran pembebasan bersyaratnya.

Bahkan, jaksa penuntut di Pengadilan militer Israel ‘Ofer’ menuntut Ayman Sharawna untuk menyelesaikan 28 tahun sisa hukuman yang dijatuhi sebelumnya karena dugaan pelanggaran pembebasan bersyarat itu tadi.

Melihat ketidakadilan itu, Ayman melakukan pembelaan diri. Ia tidak terima atas perlakukan penjajah Israel padanya. Sejak bulan Juli 2011 ia melakukan aksi mogok makan. Tak tanggung-tanggung, aksi itu ia lakukan hingga bulan Maret 2012 lalu. Menurutnya aksi itu sebagai upaya protes terhadap penangkapan kembali dirinya atas dasar tuduhan yang tidak jelas.

Beberapa waktu lalu, tepat 17 Maret 2013 Ayman kembali dibebaskan dengan cara di deportasi paksa oleh penjajah Israel ke Gaza. Pada hari-hari pertama pembebasannya itu, petugas intelijen Israel sebenarnya menawarkan dia untuk diasingkan ke Gaza atau Yordania, tapi dia menolak sebab hal itu sama saja menjauhkannya dari keluarga.

Menurut Fariz Mehdawi, Duta Besa Palestina untuk Indonesia yang diwawancarai oleh MINA Selasa (19/3) mengatakan bahwa pemerintah Palestina menolak keras penawaran Israel untuk membebaskan tawanan Palestina dengan cara deportasi paksa. Ia menambahkan, deportasi paksa Ayman ke Gaza selama 10 tahun tak beda dengan hukuman yang dilakukan Israel  pada 203 tawanan yang dibebaskan tahun 2011.

Mehdawi menegasakan bahwa hukuman dalam bentuk deportasi paksa itu sama saja secara psikologis sangat menyakitkan. Sebab, para tahanan itu dibuat jauh dari orang-orang terdekat yang dicintainya. “Ayman, dipisahkan selama 10 tahun dari anak dan istrinya serta keluarga lainnya. Ini tentu merupakan hukuman yang amat berat,” tegas Mehdawi.

Banyak tahanan Palestina yang diasingkan ke Gaza dan negara-negara lain sebagai cara hukuman lain yang dilakukan penjajah Israel, mereka ditolak kembali ke kampung halamanny sebagai akibat dari kebijakan yang tidak adil.

Dalam konteks kesepakatan pertukaran tahanan 2011 lalu, Israel sudah melakukan deportasi paksa pada 40 tahanan Palestina ke negara lain, dan 163 lainnya ke Jalur Gaza.

Sebenarnya, Ayman juga menandatangani ketentuan pembebasan bersyarat dengan melarangnya meninggalkan distrik Hebron tempat dimana ia tinggal dan juga memintanya untuk menghadiri pertemuan interogasi dengan pihak intelijen Israel setiap dua bulan sekali. Namun, saat itu, ia menolak untuk dideportasi paksa ke Jalur Gaza.

Kebijakan Gila

Kebijakan Militer Israel 1651 Pasal 186 memperbolehkan bagi sebuah komite militer khusus Israel untuk menghukum tahanan yang sudah dibebaskan secara bersyarat dengan menjalani sisa hukuman mereka sebelumnya berdasarkan bukti rahasia yang disediakan oleh pengadilan militer tanpa mengungkapkan bukti-bukti kepada tahanan atau pengacaranya.

Kebijakan militer Israel itu mulai berlaku pada tahun 2009, terutama mempengaruhi para tahanan yang telah dibebaskan dalam kesepakatan pertukaran tahanan dengan seorang prajurit militer Israel bernama Gilad Shalit pada tanggal 18 Oktober 2011. 

Sejak kesepakatan pertukaran, militer Israel telah menahan puluhan mantan tahanan, termasuk delapan mantan tahanan yang dibebaskan dalam kesepakatan pertukaran tersebut. Sejak saat itu pengadilan militer telah mencoba menggunakan Pasal 186 untuk menghukum Ayman selama 28 tahun sisa hukuman sebelumnya.

Pasal 186 Orde Militer 1651 menjadi benar-benar tidak dapat dibenarkan dan merusak perlindungan tahanan dan mantan tahanan, serta menempatkan kehidupan para tahanan mogok makan dalam kondisi bahaya.

Lembaga-lembaga HAM urusan tahanan menyeru masyarakat internasional dan semua organisasi hak asasi manusia untuk datang bersama-sama menghilangkan kebijakan militer 1651 yaitu undang-undang gila yang tidak adil dan sewenang-wenang itu.

Mogok Makan

Sebagai tanggapan atas penangkapan dan pengadilan ulang tanpa dasar hukum, Ayman mengumumkan aksi mogok makan terbuka pada tanggal 1 Juli 2012 dalam protes penangkapan kembali di bawah Kebijakan Militer Israel 1651 Pasal 186 yang memberikan kewenangan penahanan kembali tahanan yang sudah dibebaskan serta menuntut atas pembebasannya.

Segera, administrasi penjara Israel itu menempatkan Ayman di sel isolasi di penjara Ramon dengan mengisolasi dirinya dari dunia luar. Setelah satu bulan melakukan mogok makan, Ayman dipindahkan ke Rumah Sakit Penjara Ramleh karena kesehatannya yang kian memburuk. 

Dari awal saat penangkapannya, ia menderita rasa sakit pada punggung dan kaki. Sebagai akibat dari aksi mogok makan, dia juga sekarang menderita masalah kesehatan pada ginjalnya.

Selama mogok makan, sidang di pengadilan Israel terhadap dirinya masih dilanjutkan. Namun, jaksa penuntut Israel belum mengungkapkan salah satu tuduhan pun terhadap dirinya dan kadang-kadang menolak kehadiran keluarganya dengan mengklaim bahwa sidang itu adalah sidang tertutup dan rahasia.

Saat melakukan aksi mogok makannya, hingga kini Ayman menderita banyak masalah kesehatan karena aksi mogok makannya seperti gagal ginjal, kehilangan penglihatan di mata kirinya, rasa sakit kembali, dan mati rasa pada kaki kanannya.

Israel menolak memberikan obat untuk  Ayman hingga ia menghentikan aksi mogok makan, namun ia tidak akan melakukan permintaan Israel itu kecuali keadilan dan kebebasan bagi dirinya dan para tahanan terpenuhi.

Karena kesehatan yang semakin memburuk , Ayman dilarikan ke pusat medis penjara Ramleh. Ayman mengalami masalah kesehatan pada kaki kanannya, sendi, ginjal, kulit dan kehilangan memori. Ia juga tidak mampu berdiri, berbicara dengan mudah atau pun buang air kecil. Pada saat itu, Ayman mengambil cairan melalui suntikan, meskipun banyak intervensi medis yang dilakukan oleh Dinas Penjara Israel (IPS) telah menyebabkan dia sakit dan infeksi.

Dokter mengatakan kepadanya bahwa ada penyumbatan pada pembuluh darah yang menuju ke matanya. Ia menolak penawaran IPS untuk memindahkannya ke rumah sakit sipil untuk menjalani pemeriksaan mata karena IPS berniat untuk membelenggu tangan dan kaki ayman selama dalam kendaraan dan pada saat prawatannya, meskipun ia tidak mampu untuk berdiri.

Club Tawanan melaporkan, Ayman telah benar-benar kehilangan fungsi ginjal kanannya, 50% dari ginjal kirinya dan penglihatan pada mata kirinya. Selain itu, ia juga begitu banyak kehilangan berat badannya. Pada saat aksi mogok makan, kesehatannya semakin hari semakin memburuk.

Dia telah dipindahkan dari satu penjara ke penjara yang lain dan beberapa kali dimasukkan ke dalam sel isolasi untuk mematahkan keteguhannya. Ayman dipindahkan dari pusat penahanan Etzion ke Penjara Ofer sebelum ditahan di Penjara Ramon di Selatan wilayah Palestina yang dijajah Israel.

Sharawna pernah menangguhkan sesaat atas aksi mogok makannya pada bulan Desember 2012 dengan adanya janji dalam sidang pengadilan untuk menyelesaikan kasusnya. Dia kemudian melanjutkan kembali aksi mogok makan pada tanggal 17 Januari 2013 setelah mengetahui bahwa sipir/Pelayanan Penjara Israel (Israeli Prison Service/IPS) menipunya dengan melanggar janji mereka.

Pada 9 Februari 2013, pengacara Kementerian Tahanan, Akram Ajwah, mengatakan, Ayman Ismail Sharawna dipindahkan ke penjara isolasi Be’er Sheva. Ayman bukanlah satu-satunya yang menderita kepahitan tawanan, pada 10 Februari 2012, Samer Al-Issawi telah memasuki hari ke-202  atas aksi mogok makannya tanpa penangguhan/suspensi apapun.

Selain Ayman yang melakukan aksi mogok makan itu, masih ada dua tahanan lagi, Tareq Qa’adan dan Ja’far Ezeddine. Keduanya melakukan aksi mogok makan karena memprotes hukum Israel yang  tidak adil yaitu “Penahanan Administrasi”.

Mi’raj News Agency (MINA)

 

 

 

Rate this article!

Leave a Reply