DOKTER ISRAEL JALANKAN MISI KEMANUSIAAN DI PALESTINA

Bethlehem, 19 Rabiul Akhir 1434 /1 Maret 2013 (MINA) – Seorang dokter Israel bernama Micha Shamir pada Rabu (27/2), diam-diam mengunjungi sebuah rumah sakit Palestina di Tepi Barat untuk mengobati para korban luka akibat bentrokan dengan polisi Israel.

Menurut algemeiner.com seperti yang diterima MINA, Micha Shamir sehari-harinya bekerja di  Hadassah Medical Center. Ia pergi ke Palestina tanpa sepengetahuan pihak pemerintah Israel. ”Saya merasa terpanggil untuk menyelamatkan orang-orang yang butuh bantuan. Itu adalah tugas saya dan saya tidak perlu berpikir dua kali untuk melakukannya,” katanya.

Shamir merasa terpanggil untuk memberikan bantuan kepada para korban. Warga Palestina memang sangat membutuhkan bantuan untuk bisa sembuh dari sakitnya, terutama para korban demonstrasi yang terjadi selama dua pekan terkhir.

Saat ini, Shamir sedang menangani  dua warga Palestina yang terkena tembakan polisi Israel saat terjadi demonstrasi di Qusra, Tepi Barat pada sabtu (23/2) lalu di Qusra. Mereka adalah Hilmi Abdul Azizi yang terluka di bagian perut, dan Khalid yang terluka di bagian kaki.

Sebelum menjalankan perawatan kepada para pasien, Shamir melakukan koordinasi dengan walikota setempat agar diijinkan untuk membantu merawat para pasien yang terluka. “Selama sepuluh tahun terakhir ini belum parnah ada dokter yang berkompeten untuk dapat menangani kasus seperti ini dengan baik,” kata Shamir.

“Ketika kami memasuki Palestina , tidak seorang pun yang mengetahui kepergian kami. Ini adalah misi kemanusiaan dan siapa pun bisa melakukannya termasuk kami,”  tambah Shamir.

Demonstrasi di Palestina semakin memburuk menyusul kematian warga Palestina yang berada di penjara Israel. Mereka menuntut pemerintah Israel untuk membebaskan warga Palestina yang saat ini masih berada di penjara Israel. Saat ini ada sekitar 4500 warga Palestina yang berada di sana.

Dari jumlah tahanan tersebut lebih dari 3000 tahanan melakukan aksi mogok makan. Mereka menuntut dilakukannya penyelidikan oleh badan internasional terhadap kasus meninggalnya Arafat Jaradat di penjara Israel.

Pihak berwenang Israel mengatakan bahwa Jaradat tidak mengalami penyiksaan selama berada di penjara. Ia meninggal akibat serangan jantung.

Sementara itu, ayah Jaradat yang mengenali jasad anaknya itu mengatakan bahwa ada luka-luka pendarahan di kepalanya. Ia mengatakan bahwa putranya yang berusia 30 tahun itu dalam keadaan sehat ketika ditangkap oleh polisi Israel minggu lalu. Ia meyakini bahwa kematian putranya itu akibat penyiksaan yang dilakukan selama berada di penjara.

Pemerintah Israel merasa ketakutan dengan situasi buruk di Tepi Barat yang mulai merambat ke semua wilayah Palestina. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu meminta pertolongan agar Pemerintah Palestina membujuk pemuda menghentikan aksi demonstrasi.

”Kami (Israel) sangat berharap (pemerintah) Palestina bertindak mencegah aksi demonstrasi dan penghasutan,” kata Netanyahu melalui juru bicara Mark Regev, seperti dilansir Ahram. Kata dia, kekerasan hanya akan membawa situasi menjadi sulit.(T/P04/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

 

 

Leave a Reply