MA’RUF AMIN: PENETAPAN FATWA HALAL TIDAK BOLEH DENGAN VOTING

       Jakarta, 26 Rabiul Akhir 1434/8 Maret 2013 (MINA) – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), DR.K.H. Ma’ruf Amin mengatakan,“Penetapan fatwa halal atau haram harus mengikuti ketentuan syariah, dengan landasan Al-Quran dan Al-Hadits serta ijma’ para ulama.”

       “Penetapan fatwa halal atau haram harus mengikuti ketentuan syariah, dengan landasan Al-Quran dan Al-Hadits serta ijma’ para ulama. Bukan dengan pertimbangan suara mayoritas, atau dengan sistim voting. Sangat berbahaya kalau kaidah syariah mengikuti kehendak manusia karena mayoritas dengan voting,” Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), DR.K.H. Ma’ruf Amin menandaskan seperti dikutip oleh Mi’raj News Agency (MINA) dari situs resmi MUI (7/3).

       Penegasan tokoh ulama yang mumpuni ini dikemukakan dalam pertemuan bersama para Pimpinan Pusat (PP) Ormas-ormas Islam Indonesia di Jakarta beberapa waktu lalu dan para tokoh umat yang hadir pada pertemuan itu, pimpinan pesantren, ulama serta cendekiawan Muslim, sepakat mengamini penegasan Ketua MUI ini. 

       Usman Effendi AS., seorang wartawan majalah Halal dan situs Halalmui, dan sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden ini menjelaskan bahwa kalau ada yang menyatakan suara rakyat adalah suara Tuhan, dengan kenyataan yang telah dikemukakan itu lantas perlu diajukan pertanyaan retoris, Tuhan manakah yang “menghalalkan” perilaku homo, praktek prostitusi dan mengkonsumsi khamr?, 

         Semua penyimpangan itu terjadi tak lain karena mempertuhankan syahwat dan hawa nafsu, tegasnya. Kemudian dia mengutip ayat Al-Quran yang artinya: “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (Q.S. 45: 23).

         Sebagian dari penjelasan ayat ini dikemukakannya pula olehnya, maksudnya Tuhan membiarkan orang itu sesat, karena Allah telah mengetahui bahwa dia tidak menerima petunjuk-petunjuk yang diberikan kepadanya. Sudah jelas perilaku homo, praktek prostitusi dan mengkonsumsi khamr terlarang, tapi tetap saja dilakukan, karena memperturutkan atau mempertuhankan syahwat dan hawa nafsu. Na’udzubillahi mindzalik. (T/P015/E1)

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply