DUBES PALESTINA : MINTA PEMBEBASAN TAHANAN MURNI

Jakarta, 9 Jumadil Awal 1434/20 Maret 2013 (MINA) – Pemerintah Palestina mempunyai agenda utama tahun ini untuk membebaskan tahanan warga Palestina secara murni tanpa syarat dari penjara Israel. Deportasi yang dialami Ayman merupakan siksaan psikologis karena harus meninggalkan keluarganya, meskipun dia sudah keluar dari penjara Israel.

“Pemerintah Palestina berusaha untuk membebaskan tahanan dari penjara Israel tanpa syarat, bukan deportasi,” ungkap Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Fariz Mehdawi ketika ditemui wartawan Mi’raj News Agency (MINA) di Jakarta, Selasa (19/3).

Deportasi tahanan Palestina yang melakukan mogok makan di penjara Israel, Ayman Sharawna bukanlah sebuah kebebasan murni yang Palestina inginkan karena ia harus meninggalkan keluarganya di Tepi Barat.

“Kebijakan Israel selama ini adalah membuat kita (masyarakat Palestina) merasa tidak nyaman hidup di tanah air sendiri. Mereka (Israel) memboikot dari aspek ekonomi, psikologis, dan aspek lain. Sayangnya, hal ini kadang tidak terungkap media massa internasional,” kata Mehdawi.

Israel telah membagi Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza untuk memastikan Palestina tidak bisa berkembang, tetapi hal itu tidak berhasil karena kuatnya masyarakat dalam mempertahankan tanah airnya.

Ayman tiba di Gaza pada Ahad (17/3) malam setelah menandatangani kesepakatan deportasi untuk mengakhiri aksinya tersebut selama di penjara Israel.

Ayman (38) merupakan warga dari kota Hebron. Ia dibebaskan dalam kesepakatan pertukaran tawanan pada Oktober 2011 lalu antara Israel dan Hamas. Namun kembali ditahan pada Januari 2012 dan dituduh melanggar ketentuan pembebasannya.

Pemerintah Israel menolak untuk mengungkapkan tuduhan bagaimana Sharawna melanggar persyaratan pembebasannya, bahkan kepada pengacaranya sekalipun. Sharawna dipenjara tanpa tuduhan atau pengadilan jaksa Israel.

Akhirnya, Ayman melakukan aksi mogok makan untuk menuntut pembebasan dirinnya. (L/P01/R1).

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply