EDITOR EXECUTIVE INTELLIGENCE: BARAT DUKUNG KEBIJAKAN GENOSIDA AFRIKA

Teheran, 15 Jumadil Awal 1434/27 maret 2013 (MINA) – Pengamat dan Editor  majalah mingguan Executive Intelligence, Lawrence Freeman ketika diwawancara oleh Press TV dan dipantau MINA, Selasa (26/3) mengatakan kebijakan Barat telah menguasai Afrika lebih satu abad dan menciptakan genocida di Afrika lebih dari satu dekade terakhir.

“Kebijakan Barat seperti Amerika, Inggris, dan Perancis membiarkan Afrika mati. Mereka mati karena kurangnya kesehatan, kekurangan makanan, kekurangan air . Itu adalah kebijakan genosida untuk menjarah sumber daya alam Afrika yang kaya,” kata Freeman.

Freeman mengungkapkan sekarang ada 15 juta orang di Sahel yang hampir tidak bisa makan. Hampir 170 juta orang di Nigeria, Ethiopia dan Afrika Selatan. Di seluruh benua Afrika orang diperlakukan tidak manusiawi.

“Afrika memiliki ratusan juta orang hidup dalam kemiskinan dan mereka tidak memiliki cukup makanan. Belum ada pembangunan ekonomi. Ini adalah kebijakan Inggris. Kebijakan Inggris lebih suka membiarkan orang mati dari pada membangun infrastruktur. Sama dengan Presiden Obama,” ungkapnya.

Freeman mengatakan ratusan anggota elit Inggris mengatakan ada terlalu banyak orang di dunia, jadi mereka berpendapat harus mengurangi populasi dunia karena Inggris memiliki kekurangan sumber daya yang sedang dilakukan di Afrika.

“Itulah mengapa saya menyebutnya genosida. Siapa saja yang menganjurkan pengurangan populasi dunia dengan beberapa miliar orang adalah ‘genocidalist’ dan itu benar bagi pasukan di Kerajaan Inggris serta orang-orang di Amerika Serikat dan Eropa,” kata Freeman.

Menurut Freeman, negara-negara Barat menopang para pimpinan di Afrika kemudian menciptakan kondisi di negara-negara yang tidak dapat bertahan hidup, yang tidak bisa eksis dan kolonialis. Negara-negara Afrika dibuat korup dengan obat-obat terlarang dan menghasilkan uang dari praktik terlarang.

“Pasukan imperialis seperti Perancis, Inggris,  dan Presiden Obama juga bergerak dan memanipulasi orang-orang di sekitar, tetapi mereka tidak akan pernah memecahkan masalah,” katanya.

“Mereka menciptakan kondisi ekonomi, mereka menguasai keluarga kerajaan Saudi dan Qatar dengan restu dari Inggris dan Amerika, pendanaan dari mereka, mereka melatih di seluruh Afrika dan Timur Tengah.”

Freeman menyebutkan bahwa sebagian besar negara Afrika rapuh dan tidak stabil, seperti  Republik Afrika Tengah dan Mali yang sedang menjadi perhatian masyarakat dunia, semua negara-negara di Afrika sangat rapuh.

“Mereka (negara Afrika) sengaja oleh para penjajah, Inggris, Perancis dan yang lainnya tidak dikembangkan. Afrika memiliki sumber daya alam besar dan mereka tidak pernah berkembang menjadi menjadi negara ekonomi yang berdaulat, mengembangkan kemampuan ekonomi mereka dengan sumber daya mereka,” kata Freeman.

Masih menurut Freeman,  jika melihat di Republik Afrika Tengah,  Mali, Sahel, Sahara, tidak ada pembangunan ekonomi, orang-orang mati karena kurangnya kebutuhan dasar.

“Itu disengaja sehingga intervensi militer Perancis ke Republik Afrika Tengah hanya untuk melindungi beberapa warga Perancis, mereka tidak ada niat benar-benar membantu orang-orang atau mengembangkan negara,” katanya.

Ketika Freeman ditanya tentang peran Uni Afrika (AU), ia menjawab bahwa semua orang tahu AU sangat lemah. Dewan Keamanan PBB (DK PBB) mendorong AU untuk berperan.

“Tapi DK PBB tidak benar-benar bekerja dengan mereka, tidak menghormati mereka. Jadi mereka bukan kekuatan yang kuat di Afrika meskipun mereka wajib berperan.”(T/P09/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply