ERDOGAN BERENCANA KUNJUNGI PALESTINA

Istanbul, 16 Jumadil Awwal 1434/27 Maret 2013 (MINA) – Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan pada Selasa (26/3) ia berencana mengunjungi wilayah Palestina, termasuk Gaza, untuk memantau status dari blokade Israel di Jalur Gaza. Pencabutan blokade merupakan salah satu dari tiga tuntutan Ankara yang diajukan untuk menormalkan hubungan dengan Tel Aviv.

Erdogan mengatakan dihadapan anggota parlemennya dalam pertemuan kelompok parlemen pada Selasa (26/3) ia akan mengunjungi Tepi Barat dan Gaza dengan organisasi-organisasi bantuan Turki untuk melihat situasi terakhir sehubungan dengan blokade yang dilakukan Israel di Gaza dan bekerja untuk memperbaiki kondisi kemanusiaan.

Kunjungan ini diperkirakan akan berlangsung bulan depan meskipun Wakil Perdana Menteri Bulent Arinc memperingatkan bahwa hal itu tidak mungkin terjadi. “Kunjungan oleh perdana menteri kami ke Gaza pada April ada di agenda, tetapi mungkin juga tidak terlaksana. Kemungkinan ini juga harus dipertimbangkan “, kata Arinc pada konferensi pers setelah pertemuan rutin kabinet pada Senin malam (25/3).

Jumat lalu (22/3) selama percakapan telepon dengan Erdogan, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu meminta maaf kepada Turki untuk serangan 2010 pada kapal bantuan Mavi Marmara yang mengakibatkan kematian delapan warga Turki dan seorang Turki-Amerika. Ankara mengatakan semua tuntutan mendasar Turki telah bertemu dengan permintaan maaf dari Israel. Namun Erdogan mengatakan selama akhir pekan bahwa tidak akan ada normalisasi antara Turki dan Israel kecuali Israel memenuhi janjinya.

Israel, bagaimanapun, mengatakan kesepakatan dengan Turki tidak menuntut mengakhiri blokade Gaza. Seorang pejabat senior Israel mengatakan pada Ahad (24/3) negaranya tidak berkomitmen untuk mengakhiri blokade Gaza sebagai bagian dari rekonsiliasi dengan Turki dan bisa menekan Palestina jika keamanan terancam, Today’s Zaman yang dipantau MINA melaporkan.

Sebuah pernyataan dari kantor Netanyahu mengumumkan permintaan maaf dan Netanyahu mencatat dalam percakapan telepon dengan Erdogan “Israel telah secara substansial mengangkat pembatasan masuknya barang sipil ke wilayah Palestina, termasuk Gaza, dan bahwa hal ini akan terus berlanjut selama ketenangan berlaku”, tanpa menyebutkan blokade.

“Kami memiliki tiga kondisi untuk normalisasi hubungan, yaitu permintaan maaf, kompensasi (bagi keluarga korban serangan) dan pencabutan blokade,” kata Menteri Luar Negeri Ahmet Davutoglu kepada wartawan di Doha, Selasa (26/3). “Seperti yang Anda ketahui, Perdana Menteri Israel Netanyahu secara resmi meminta maaf dan mengatakan langkah-langkah yang diperlukan akan diambil dan blokade akan dicabut,” katanya.

Hamas, yang mengadakan serangan besar-besaran sejak delapan hari perang dengan Israel pada November mengatakan Jumat (22/3) Perdana Mentari Erdogan mengatakan kepada pemimpinnya, Khaled Mashaal, bahwa Israel telah berjanji untuk mencabut blokade terhadap rakyat Palestina.

Davutoglu mengatakan di Doha, pihak Palestina telah berjanji untuk bekerja dengan Turki untuk memperbaiki kondisi di Gaza tanpa merinci bentuk kerjasamanya. Ia juga mengatakan Erdogan telah berbicara dengan Presiden Palestina Mahmoud Abbas dan pemimpin Palestina lainnya sebelum panggilan telepon permintaan maaf oleh Netanyahu, dan ia bertindak sesuai dengan reaksi positif mereka.

Israel telah lama menawarkan pernyataan penyesalan tetapi menolak keras meminta maaf atas insiden Mavi Marmara dengan mengatakan penyesalan tersebut akan menjatuhkan tindakan defensif maritim sebagai tidak bermoral dan menarik tuntutan terhadap angkatan lautnya.

Erdogan mengatakan Ankara menolak semua pilihan lain dan bersikeras permintaan maaf dan pencabutan blokade.

“Serangan Mavi Marmara merupakan kesalahan besar, dan kami menegaskan kesalahan ini harus diperbaiki,” kata Presiden Abdullah Gül pada permintaan maaf Israel pada Selasa (26/3). “Israel melakukan apa yang harus dilakukan, Kami lega”.

Diplomat Israel dan Turki sekarang diharapkan memulai pembicaraan tentang kompensasi bagi keluarga korban serangan Mavi Marmara. Menteri Kehakiman Israel Tzipi Livni dan Menteri Luar Negeri Turki Ahmet Davutoglu membahas masalah tersebut dalam pembicaraan telepon pada Senin (25/3) dan setuju bahwa pejabat dari kementerian luar negeri kedua negara akan segera memulai pembicaraan mengenai kompensasi.

“Pejabat yang ditugaskan oleh pemerintah dari kedua belah pihak akan bekerja pada masalah ini. Proses ini mulai berlangsung hari ini”, kata Deputi Perdana Menteri Arinc mengatakan, Senin (25/3), yang merujuk pada pembicaraan telepon antara Livni dan Davutoglu. (T/P011/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)


 

 

Rate this article!

Leave a Reply