ERDOGAN: PERMINTAAN MAAF ISRAEL AKAN BANTU SELESAIKAN KONFLIK TIMTENG

Ankara, 12 Jumadil Awal 1434/24 Maret 2013 (MINA) – Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan permintaan maaf Israel akan membuka jalan untuk menyelesaikan masalah Timur Tengah.

“Keinginan saya dalam proses ini bersifat permanen untuk mengakhiri penderitaan yang bertahun-tahun dengan penarikan perbatasan 1967,” kata Erdogan kepada wartawan. 

Turki mengusir duta besar Israel di Ankara, dan mengatakan bahwa hubungan itu tidak akan kembali normal kecuali pemerintah Israel membuat permintaan maaf secara resmi, membayar ganti rugi kepada keluarga korban dan menghapus blokade pada Gaza. 

Sebuah pernyataan Jumat (22/3) dari kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kata “Hasil tragis dari insiden Mavi Marmara bukan ditujukan oleh Israel dan Israel menyesalkan hilangnya nyawa dan cedera.”  

Pernyataan itu juga menyebutkan, dalam penyelidikan Israel atas insiden yang menunjuk sejumlah kesalahan operasional, Perdana Menteri menyatakan Israel meminta maaf kepada orang-orang Turki untuk setiap kesalahan yang menyebabkan hilangnya nyawa atau luka dan sepakat atas perjanjian kompensasi/nonliability kewajiban,”kata pernyataan itu. 

 Pernyataan itu juga menambahkan bahwa Israel secara substansial mengangkat pembatasan pada masuknya barang sipil yang masuk ke wilayah Palestina, termasuk Gaza dan hal ini akan terus berlanjut selama mencapai kemenangan. 

Pada Jumat (22/3) Menteri Luar Negeri Turki Ahmet Davutoglu mengatakan langkah untuk normalisasi hubungan hasil dari negosiasi keras tiga tahun. “Pada akhirnya tuntutan tersebut dipenuhi. Jika tidak, masalah ini tidak akan selesai  bahkan itu berlangsung selama satu abad,” kata Davutoglu dalam wawancara televisi.

Tentang masalah ganti rugi untuk keluarga korban Mavi Marmara, Erdogan mengatakan kepada wartawan para pejabat dari kedua negara akan bekerja pada dalam sebuah kesepakatan kompensasi. 

Erdogan mengatakan proses menghapus embargo terhadap Gaza telah dimulai, menambahkan bahwa masuknya barang sipil masuk ke wilayah Palestina harus diperluas untuk mencakup semua gerbang perbatasan.

” Kita perlu melihat pelaksanaan dalam proses ini. Selama pelaksanaan dilakukan dengan cara yang sehat, kita bersedia untuk memberikan kontribusi positif, “kata Erdogan.   
Erdogan juga mengatakan ia mungkin membayar kunjungan di Gaza dan di Tepi Barat Maret nanti.

Komentar ‘disalahpahami’

Netanyahu menghargai wawancara Erdogan dengan Koran Denmark di mana ia mengatakan ia salahpaham dalam sambutannya pada konferensi PBB di Wina. Erdogan mengatakan Islamophobia harus dianggap sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan “seperti Zionisme, seperti fasisme anti-Semitisme.” Komentarnya mendapat  kecaman yang luas. Erdogan kemudian mengatakan kepada Politiken, ia salah paham dan mengkritik kebijakan Israel.

Kantor Erdogan mengatakan, “Perdana menteri kami menerima permintaan maaf atas nama orang-orang Turki.”

Al Jazeera, melaporkan dari Istanbul, mengatakan Hamas, kelompok bersenjata Palestina, telah mengirimkan pesan bahwa mereka kecewa karena Turki menerima permintaan maaf itu. Israel dan Turki adalah sekutu dekat. Hubungan mulai menurun setelah Erdogan, yang partainya memiliki akar dalam gerakan Islam Turki. Diaman ia menjadi perdana menteri pada 2003. Ketegangan berkobar setelah Erdogan ‘menyerang’ Israel atas tingginya angka kematian warga Palestina pada musim dingin 2008.

Sementara itu, permusuhan memuncak pada 31 Mei 2010 ketika pasukan komando Israel naik enam armada kapal kemanusiaan dalam perjalanan mereka ke Gaza. Sembilan aktivis Turki tewas di kapal utama Mavi Marmara yang memicu kecaman internasional dan sengketa diplomatik perdebatan antara Israel dan Turki.  

Penyelidikan atas insiden tersebut mengatakan Israel melanggar hukum kemanusiaan internasional dan hak asasi manusia. Penyelidikan, yang kemudian didukung oleh United Nations Human Rights Council, menemukan bukti jelas untuk mendukung penuntutan untuk kejahatan termasuk pembunuhan yang disengaja, penyiksaan atau perlakuan tidak manusiawi, dengan sengaja menyebabkan penderitaan atau luka serius pada tubuh atau kesehatan.

Al Jazeera Anita McNaught, melaporkan dari Kairo, mengatakan Turki akhirnya memperoleh apa yang ia inginkan yaitu permintaan maaf, termasuk pengakuan kesalahan operasional Israel dan menawarkan kompensasi.    

“Ini merupakan peristiwa yang luar biasa dan yang benar-benar tak terduga,” kata McNaught. “Ini menjadi perpecahan yang merugikan antara kedua negara [Israel dan Turki]” lanjutnya. Israel telah memberlakukan blokade di Jalur Gaza sejak Juni 2007 setelah Hamas mengambil alih wilayah itu. Meskipun pembatasan Israel mereda, Israel masih memberlakukan blokade laut di wilayah tersebut. Pencabutan blokade Turki juga menuntut dari Israel, tidak tercakup dalam permintaan maaf itu, menurut McNaught Al Jazeera. (T/P08/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Leave a Reply