GERAKAN SUDAN UTARA SAMBUT BAIK KESEMPATAN DIALOG DAMAI

Khartoum, 10 Jumadil Awal 1434/21 Maret 2013 (MINA) – Gerakan Pembebasan Rakyat Sudan Utara (SPLM-N) menyambut baik perpanjangan waktu kesempatan dialog damai yang ditetapkan oleh pemerintah Sudan, Al Jazeera melaporkan Rabu (20/3).

SPLM-N yang beroperasi di negara bagian Sudan, Blue Nile dan Kordofa Selatan menyatakan perpanjangan tawaran itu adalah “kemajuan”.

“Bagi Khartoum yang ingin bernegosiasi langsung dengan SPLM-N adalah kemajuan, tetapi kesulitan akan ada di dalam rincian pembicaraan,” kata Phillip Neroun, anggota tim negosiasi SPLM-N.

“Masih terlalu dini untuk bicara tentang perdamaian sampai kedua pihak duduk dan menyepakati beberapa masalah,” tambahnya.

Sebelumnya, Menteri Pertahanan Sudan Abdel Rahim Mohammed Hussein, Rabu (20/3), telah memperpanjang tawaran untuk mengadakan pembicaraan langsung dengan kelompok gerakan Selatan, membuka jalan dialog bagi kedua kelompok untuk pertama kalinya.

Hussein mengatakan Khartoum bersedia berdiskusi dengan kelompok SPLM-N, kesediaan dialog didasarkan pada protokol yang ditetapkan dalam perjanjian damai 2005 dengan Sudan Selatan. “Kami siap untuk bertemu dengan sektor utara (SPLM-N), dengan syarat dialog dan diskusi didasarkan pada Perjanjian Komprehensif perdamaian dan protokol kedua daerah sebagai referensi,” kata Hussein.

Membatasi dukungan gerakan pembebasan

Menteri Pertahanan Sudan juga mengatakan bahwa tim pengamat pertama telah disiapkan untuk memantau zona penyangga demiliterisasi antara Sudan dan Sudan Selatan, sebuah langkah untuk mengekang dukungan lintas perbatasan terhadap gerakan pembebasan.

Sudan sebelumnya menolak SPLM-N dan menuduh Sudan Selatan memberi dukungan kepada mereka, yang bertujuan menggulingkan Presiden Sudan Omar Hassan al-Bashir, tak lama setelah Sudan Selatan merdeka tahun 2011.

Interaksi  pergolakan SPLM dengan Khartoum menghasilkan kesepakatan damai 2005 dan kemudian pemisahan Sudan Selatan. Kedua negara sepakat pada batas waktu untuk menarik pasukan dari perbatasan yang disengketakan awal bulan ini, setelah tertunda sejak September tahun lalu. Perang di Kordofan Selatan dan Blue Nile telah memaksa lebih dari 200.000 orang menjadi pengungsi di Sudan Selatan dan Ethiopia. (T/P09/R2)

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply