HANIYA KUTUK KAMPANYE ZIO-AMERIKA

Gaza, 21 Rabiul Akhir 1434/3 Maret 2013 (MINA) – Perdana Menteri Palestina di Gaza Ismail Haniya mengutuk kampanye Zio-Amerika melawan pernyataan Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan.

“Pernyataan Erdogan itu benar dan tepat dengan memperkenalkan kekeliruan gerakan Zionis,” kata Haniya dalam sebuah pernyataan pers seperti dilansir website resmi AlQassam yang dipantau Mi’raj News Agency (MINA), Ahad (3/3).

Haniya menegaskan, pernyataan tersebut mencerminkan posisi stabil Erdogan dan komitmen negaranya pada masalah Palestina.

Pemerintah penjajah Israel dan Amerika Serikat telah mengkritik Erdogan atas pernyataannya pada pembukaan Forum Aliansi Peradaban kelima di ibu kota Austria, Wina, Rabu (27/2), dengan mengatakan, “Persis seperti Zionisme, anti-Semitisme, dan fasisme, menjadi tidak dapat dihindari bahwa Islamophobia harus dianggap sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan”.

Gerakan Zionis merupakan gerakan politik nasional Yahudi yang dipelopori oleh seorang Yahudi Austria Theodore Herzl melalui kongres I Zionis di Basel, Swiss tahun 1897.

Melalui gerakan politik itu yang secara sistematis dibuat oleh Theodor Herzl (1860-1904) dalam bukunya ’der Judenstaat’ (Negara Yahudi), 1896, secara sepihak mendirikan negara Israel tahun 1948 dengan menjajah sebagian besar wilayah Palestina.

Hingga kini, Penjajah Israel memblokade Jalur Gaza, wilayah kantong Palestina sejak Juni 2007 dan membangun permukiman ilegal Yahudi di Tepi Barat serta melakukan kejahatan kemanusiaan terhadap rakyat Palestina.

Turki Minta Akhiri Blokade Gaza

Sementara itu, pada konferensi pers Menteri luar negeri Turki Ahmet Davutoglu dengan Menteri luar negeri AS John Kerry di Ankara, Sabtu kemarin (2/3), Davutoglu membantah para pejabat Turki telah mengucapkan bahasa permusuhan. Dia berulang kali menyebut kematian sembilan warga sipil Turki di tangan pasukan komando penjajah Israel atas kapal bantuan Gaza Turki pada tahun 2010.

“Jika Israel ingin mendengar pernyataan positif dari Turki, perlu meninjau ulang sikap itu. Perlu meninjau sikapnya terhadap kita (Turki), dan juga perlu meninjau sikapnya terhadap orang-orang di wilayah tersebut (Palestina) dan terutama masalah permukiman illegal Yahudi di Tepi Barat, ” tegas Davutoglu.

Memburuknya hubungan Turki-penjajah Israel menjadi kekhawatiran mendalam bagi AS.

Bagi AS, Turki dan penjajah Israel adalah sekutu yang sangat penting, namun hubungan kedua pihak memburuk tajam setelah serangan 2010.

Turki memutuskan semua hubungan dengan penjajah Israel atas terbunuhnya sembilan aktivis Turki pada armada laut untuk bantuan kemanusiaa, Mavi Marmara, menuju Gaza, 31 Mei 2010 lalu. Turki meminta permintaan maaf resmi, membayar kompensasi kepada keluarga para korban dan mengakhiri blokade Jalur Gaza sebagai prasyarat untuk normalisasi hubungan dengan rezim penjajah Israel.(T/P02/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

 

 

 

Rate this article!

Leave a Reply