INDUSTRI PERBANKAN SYARIAH HADAPI TANTANGAN EKONOMI GLOBAL

Jakarta, 18 Jumadil Awal 1434/29 Maret 2013 (MINA) – Industri perbankan syariah menghadapi tantangan ekonomi global dengan pertumbuhan aset perbankan syariah yang semakin naik dan berkembang pesat pada tahun 2013 serta beberapa tahun mendatang.

Hal itu dikemukakan dalam acara seminar ekonomi syariah dalam rangka menghadapi tranformasi industri keuangan era Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dengan tema “Strategi dan Tantangan Pertumbuhan Perbankan Syariah dan Lembaga Keuangan Syariah Non Bank di Era OJK”, di Jakarta, Kamis (28/3).

Direktur Bank Muamalat, Andi bukhari mengatakan, sektor perbankan syariah akan menhadapi tantangan ekonomi global dimana tantanngan itu akan menyebabkan pertumbuhan ekonomi melambat serta terjadinya krisis ekonomi.

“Sektor perbankan syariah sedang menghadapi tantangan dengan krisis ekonomi global yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi melambat dan krisis keuangan di Asia telah berdampak terhadap krisis ekonomi, serta harus bersaing dengan perbankan nasional dan internasional“ kata Andi.

Andi menambahkan Dalam menghadapi tantangan krisis ekonomi global perlu adanya strategi bersaing dengan pemberian layanan yang setara dengan standar industri, juga perlu adanya dukungan kuat serta peningkatan produk dan perluasan jangkauan distribusi.

Kepala Eksekutif Pengawasan Industri Keuangan Non Bank OJK, Firdaus Djaelani mengatakan, produk syariah bukan lagi sebagai produk alternatif melainkan menjadi solusi terhadap produk-produk lembaga konvensional bagi masyarakat.

“Produk-produk syariah bukan lagi sebagai produk alternatif saja tetapi harus menjadi solusi terhadap produk-produk lembaga konvesional bagi masyarakat,“ kata Firdaus Djaelani.

Sementara itu, Ketua Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) juga ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Muliaman D. Hadad, dalam sambutannya mengatakan, perbankan syariah harus membangun sinergi dan integrasi pelayanan jasa keuangan yang harus dibenahi dalam pertumbuhan perekonomian syariah melalui pasar modal, asuransi serta Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).

Selain itu, Direktur Perbankan Syariah Bank Indonesia, Nawawi menyatakan, Indonesia merupakan negara dengan pertumbuhan ekonomi terstabil di dunia.

“Aset Perbankan Indonesia naik menjadi 6,3 persen hingga 6,7 persen pada tahun 2013 dan dalam delapan tahun terakhir pertumbuhan ekonomi  Indonesia sekitar 6,1 hingga 6,2 persen. Indonesia merupakan negara dengan pertumbuhan ekonomi terstabil di dunia,” kata Nawawi.

Stabilnya pertumbuhan ekonomi Indonesia itu juga diiringi dengan pertumbuhan ekonomi syariah yang berkembang pesat dengan terlihat dari meningkatnya pasar modal, asuransi syariah, obligasi syariah dalam membangun sinergi bisnis model dengan pelayanan akses OJK lebih ditingkatkan dan pembiayaan mikro membentuk model bisnis serta pembiayaan ekonomi syariah.

Menurut pengamat ekonomi, Imam Sugema, Indonesia akan menjadi rujukan pertama sebagai sentral ekonomi syariah dunia dan sebagai pusat Industri keuangan syariah.

“Indonesia kedepannya akan menjadi rujukan pertama sebagai sentral ekonomi syariah dunia dan sebagai pusat Industri keuangan syariah jika pertumbuhan ekonomi syariah terus berkembang pesat dan mampu untuk bersaing “ kata Iman Sugema.

Iman sugema yang juga pakar ekonomi makro mengharapkan Indonesia lebih berperan dan dapat bersaing dengan negara-negara berkembang dalam sektor perbankan syariah. “Kedepannya, Indonesia yang merupakan mayoritas  masyarakat Muslim menjadi penggerak utama perbankan syariah,” tambah Iman Sugema.  (L/P010/P02)

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Leave a Reply