JEPANG GUNAKAN PRODUK HALAL

Jepang, 13 Jumadil Awal/25 Maret 2013 (MINA) – Populasi Muslim diharapkan menguntungkan perusahaan dan restoran Jepang yang merenovasi pabrik mereka untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar dari produk kue halal.

“Halal adalah paspor untuk negara-negara Islam,” Akmal Abu Hassan (43) warga Malaysia yang tinggal di Jepang, seperti dikutip oleh Star Malaysia dan dipantau MINA pada Minggu, (24).

Hassan menambahkan negara Islam adalah pasar masa depan yang menjanjikan. Ini adalah kesempatan yang baik untuk mengembangkan produk halal.

Selama beberapa tahun terakhir, banyak perusahaan Jepang berjuang mendapatkan otentikasi untuk menghasilkan produk halal.

Banyaknya universitas restoran dan kafetaria Jepang yang menawarkan hidangan halal meningkat tajam.

Perubahan yang luar biasa datang setelah penelitian baru mengungkapkan bahwa jumlah umat Islam di seluruh dunia diperkirakan akan melebihi dua miliar pada 2030.

Dua dari negara-negara Muslim terbesar seperti Indonesia dan Bangladesh, diharapkan akan maju ketingkat 6 persen.

Mereka menanan saham dari kue (pai), banyak perusahaan harus merenovasi lengkap untuk memenuhi persyaratan halal.

“Dalam beberapa kasus, maka perlu untuk benar-benar merenovasi pabrik,” kata seorang pejabat Asosiasi Halal Jepang.

Dengan mengajukan sertifikat halal dari badan otentikasi, hanya lima aplikasi yang disetujui selama tiga tahun terakhir, kata pejabat itu.

Sebuah pembuatan bumbu perusahaan di Ageo, Saitama Prefecture, adalah salah satu pabrik yang direnovasi sebagian dari pabriknya untuk memproduksi produk halal secara eksklusif.

“Pasar muslim sangatdiminati,” kata Kazuto Inoue (73) salah seorang yang menjalankan perusahaan.

Konsep halal, berarti dibolehkan dalam islam yang secara tradisional telah diterapkan pada makanan, Onislam melaporkan.

Muslim hanya makan daging dari ternak yang dipotong oleh pisau tajam dari leher mereka dan dengan nama Allah, bahasa Arab untuk Tuhan, harus disebutkan.

Begitu juga dengan barang dan jasa, juga disertifikasi sebagai produk halal, termasuk kosmetik, pakaian, farmasi, jasa keuangan termasuk hotel.

Menurut Japan National Tourism Organization (JNTO), jumlah wisatawan dari Indonesia tahun lalu meningkat hampir 60 persen dibandingkan 2007.

JNTO mengatakan jumlah restoran yang menawarkan hidangan halal meningkat pesat selama 10 tahun terakhir, sekitar 200 restoran di seluruh bangsa menawarkan makanan halal saat ini.

JNTO sedang mempersiapkan booklet untuk memperkenalkan restoran Jepang yang menawarkan hidangan halal dan tempat-tempat di mana umat Islam dapat berdoa.

Mahasiswa Muslim Jepang juga menawarkan makanan halal mereka di kampus dari tujuh universitas sejauh ini, menurut Koperasi Federasi Nasional Asosiasi Universitas.

“Orang-orang mungkin menjadi lebih tertarik di negara-negara Muslim karena perlambatan ekonomi China,” kata Universitas Chukyo Prof Ryoichi Namikawa yang menulis sebuah buku tentang konsep halal.

Menurutnya, untuk memahami negara-negara Muslim, pemahaman tentang halal sangat penting.”

Islam mulai di Jepang pada 1920 melalui imigrasi beberapa ratus Muslim Turki dari Rusia setelah revolusi Rusia.

Pada 1930, umat Islam jumlahnya mencapai sekitar 1000 dari asal yang berbeda.

Gelombang migran lain meningkatkan populasi Muslim pada 1980-an, bersama dengan pekerja migran dari Iran, Pakistan dan Bangladesh.

Jepang hari ini adalah rumah bagi komunitas Muslim yang berkembang sekitar 120.000 Muslim, di antara hampir 127 juta di negara kesepuluh di dunia yang paling padat penduduknya. (T/P08/R2)

Mi’raj News Agency (MINA)

Rate this article!

Leave a Reply