KELOMPOK HAM : ROHINGYA HADAPI KRISIS KEMANUSIAAN

Rakhine, 16 Jumadil Awal 1434/28 March 2013 (MINA) – Muslim Rohingya menghadapi krisis kemanusiaan yang disebabkan oleh keputusan pemerintah Myanmar yang secara sistematis membatasi bantuan kemanusiaan dan memaksakan kebijakan diskriminatif terhadap Muslim Rohingya di negara bagian Arakan, ungkap Kelompok Hak Asasi Manusia (Human Rights Watch/HRW) dalam situs resminya.

Kelompok hak asasi yang berbasis di New York tersebut mengatakan, pemerintah harus mengizinkan lembaga-lembaga kemanusiaan memberikan bantuan kepada penduduk Muslim dan merencanakan pengembalian mereka ke rumah masing-masing.

“Pembatasan pemerintah Myanmar dalam membantu Muslim Rohingya akan menciptakan krisis kemanusiaan yang akan menjadi bencana ketika musim hujan tiba,” kata Phil Robertson, Wakil Direktur Human Rights Watch Asia. “Alih-alih mengatasi masalah, para pemimpin Myanmar tampaknya berniat membiarkan Rohingya di kamp-kamp terpisah daripada mengembalikan mereka ke rumah masing-masing”.

Puluhan ribu Muslim Rohingya masih kekurangan bantuan kemanusiaan yang memadai dan bisa menyebabkan kematian di kamp-kamp pengungsian yang kumuh. Pasukan keamanan pemerintah yang menjaga kamp tidak mengizinkan warga untuk meninggalkan kamp sehingga berefek buruk pada mata pencaharian mereka, kata HRW.

Pada 20 Maret, Juru Bicara Presiden Myanmar Thein Sein, Ye Htut, menolak peringatan tentang kondisi kemanusiaan yang parah untuk pengungsi Rohingya dengan mengatakan kepada situs berita Australia, “mereka telah kecukupan pasokan makanan untuk musim hujan di penampungan”.

Sementara itu, Komisi Eropa pada 18 Maret memperingatkan situasi akan berubah menjadi “bencana kemanusiaan” jika orang-orang terlantar yang hidup di sawah dan ladang tersebut tidak dipindahkan ke lokasi yang lebih aman dalam beberapa pekan. Badan PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (The United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs/OCHA) juga memperingatkan efek “yang berpotensi merusak” terhadap pengungsi Rohingya jika hujan mulai turun.

Populasi Rohingya di negara bagian Arakan juga menghadapi perlawanan dari mayoritas masyarakat Buddha Burma. Kekerasan di negara bagian Arakan pada bulan Juni antara Buddha Arakan dan Muslim Rohingya yang diikuti oleh serangan terencana terhadap masyarakat Rohingya dan Muslim terjadi di kota-kota Kaman pada bulan Oktober.

Baru-baru ini, perselisihan antara ekstremis Budha dan Muslim mengakibatkan kekerasan di Meikhtila, Myanmar tengah pada tengah pekan lalu yang telah menyebar ke negara bagian yang lain. Selama kekerasan, setidaknya lima masjid dibakar dan sejumlah orang tewas ketika massa dan biksu menyerang warga Muslim dan membakar rumah-rumah Muslim, bisnis, dan tempat-tempat ibadah. Menurut OCHA, kekerasan di Meikhtila telah membuat sekitar 12.000 Muslim kehilangan tempat tinggal. (T/P01/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply