KERUSUHAN KEMBALI TERJADI DI MYANMAR

Meikhtila, 10 Jumadil Awal 1434/22 Maret 2013 (MINA) – Kerusuhan berbau SARA kembali terjadi antara kaum Buddha dan Muslim di kota Meikhtila, Myanmar yang telah menewaskan sedikitnya 20 orang pada Rabu (21/3) kemarin dan masih berlanjut hingga hari ini.

Menurut laporan Aljazeera yang dikutip Mi’raj News Agency (MINA), jumlah korban tewas masih mungkin meningkat dalam beberapa hari mendatang mengingat kekerasan masih terus terjadi hingga Jum’at (22/3).

“Kekerasan masih terus terjadi pada Jumat pagi dengan adanya kelompok kecil laki-laki yang berkeliaran di sekitar kota serta menyerang satu sama lain dan membakar bangunan,” ungkap Aljazeera.

Rumah-rumah warga Muslim dibakar oleh ekstremis Buddha yang marah dan mencegah petugas memadamkan kebakaran tersebut. Setidaknya ada lima masjid dibakar selama kekerasan kali ini yang dilaporkan terjadi karena adu mulut antara pemilik toko emas Muslim dan seorang pelanggannya yang menganut agama Buddha.

Situasi Masih Mencekam

Meikhtila yang terletak sekitar 550 km di sebelah utara kota Yangon dengan populasi sekitar 100.000 orang yang sepertiga di antaranya merupakan warga Muslim, namun mereka tidak merasa aman di kawasan tersebut.

“Kami tidak merasa aman dan kami sekarang telah pindah,” kata Sein Shwe, seorang pemilik toko. “Situasi ini tidak terduga dan berbahaya”. Kekerasan yang melibatkan masyarakat mayoritas Buddha Myanmar dan masyarakat minoritas Muslim telah terjadi selama beberapa dekade.

Kekerasan di Meikhtila merupakan kerusuhan sektarian terbaru setelah bentrokan antara ekstremis Buddha Rakhine dan Muslim Rohingya tahun lalu di negara bagian Rakhine barat telah menewaskan lebih dari 200 orang tewas dan 100.000 orang lainnya kehilangan tempat tinggal. Ini juga merupakan tantangan terbaru bagi pemerintah dalam mencoba menjaga perdamaian di negara ini.

Kutukan Internasional

Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB), Amerika Serikat, Inggris, dan anggota masyarakat internasional lainnya telah menyatakan keprihatinan atas gelombang kekerasan sektarian terbaru yang meletus di Meikhtila kali ini. Koordinator PBB di Myanmar, Ashok Nigam, pada hari Kamis mengatakan, “Saya sangat prihatin dengan adanya kekerasan dan hilangnya nyawa serta harta benda di Meikhtila”.

“Pencegahan insiden tersebut harus diberi prioritas utama,” katanya. “Selain upaya yang dilakukan oleh para pemimpin agama, politik serta pihak berwenang untuk menenangkan situasi ini, saya mengajak semua pihak dalam kerusuhan di Meikhtila untuk melaksanakan toleransi maksimal dan menahan diri dalam komunitas mereka”.

Komentarnya itu didukung oleh Vijay Nambiar, Penasihat Khusus Sekretaris Jenderal PBB untuk urusan Myanmar yang menyatakan “kesedihan mendalam karena atas hilangnya nyawa secara tragis di Meikhtila.”

Dia mengatakan tindakan tegas oleh pemerintah sangat diperlukan untuk mencegah kerugian lebih parah lagi. Nambiar mendesak para pemimpin agama dan tokoh masyarakat lainnya di Myanmar agar mengajak pengikut mereka dengan “mengharamkan kekerasan, menghormati hukum, serta mengutamakan perdamaian”.(T/P01/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

Rate this article!

Leave a Reply