KESEMPURNAAN SHALAT YANG TERABAIKAN

KESEMPURNAAN SHALAT

KESEMPURNAAN SHALAT

Oleh : Nur Rahmi*

Seorang muslim yang baik akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyempurnakan setiap amal perbuatan yang dilakukannya dan diniatkan semata-mata mengharapkan ridha Allah Swt, bukan karena yang lainnya. Melaksanakan perintah dan menjauhi larangannya adalah kewajiban yang harus dipenuhi oleh seorang diri yang mengakui dirinya sebagai Muslim.

Kewajiban Muslim yang paling dasar dan amalan yang sangat diperhitungkan pertama kali adalah shalat. Banyak dalam Al-Qur’an menyebutkan kewajiban mendirikan shalat, di antaranya adalah Surat Al-Baqarah: 43, An Nisa:103, Al-Ankabut: 45, dan lain sebagainya.

Ada satu hal yang menarik tentang perintah Allah dalam sebuah hadis menyatakan bahwa shalat adalah tiang agama, yang dewasa ini banyak orang mengabaikannnya, padahal itu adalah salah satu kesempurnaan shalat.

Dari Anas bin Malik ra, dari Nabi saw bersabda, “Luruskan shaf-shaf kalian, karena sesungguhnya meluruskan shaf termasuk kesempurnaan shalat.” (HR. Muslim no. 433).

Dari dalil di atas sangat jelas, bahwa meluruskan shaf dalam shalat (berjama’ah) merupakan salah satu kesempurnaan shalat. Dalam riwayat lain, meluruskan shaf dalam shalat merupakan tegak dan baiknya shalat seseorang. Namun jika kita lihat realita yang terjadi ditengah kaum muslimin saat ini justru sebaliknya.

Anas bin Malik ra berkata, “Adalah salah seorang kami menempelkan bahunya ke bahu kawannya, kakinya dengan kaki temannya.” Dalam satu riwayat disebutkan, “Aku telah melihat salah seorang kami menempelkan bahunya ke bahu kawannya, kakinya dengan kaki temannya. 

Meluruskan dan merapatkan shaf dalam shalat adalah kewajiban seorang imam untuk meluruskannya. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Rosulullah saw dalam sabdanya, dari Nu’man bin Basyir ra berkata,”Adalah Rasulullah saw meluruskan shaf kami. Seakan-akan beliau meluruskan anak panah…” (HR Muslim).

Adalah Umar bin Khattab ra mewakilkan seseorang untuk meluruskan shaf. Beliau tidak akan bertakbir hingga dikabarkan, bahwa shaf telah lurus. Begitu juga Ali dan Utsman melakukannya juga. Ali sering berkata, “Maju, wahai fulan! Ke belakang, wahai fulan!” (Lihat Jami ‘Tirmidzi, 1/439; Muwaththa’, 1/173 dan Al Umm, 1/233.)

Anggota tubuh yang mesti bertemu satu dengan yang lainnya dari hadits diatas adalah bahu dengan bahu, kaki dengan kaki (tumit dengan tumit).

Namun, kita masih sering menemukan seorang imam langsung takbir ketika muadzin selesai iqomat tanpa memeriksa dan memperhatikan terlebih dahulu barisan (shaf) yang dibelakangnya. Dan mirisnya, imam biasanya hanya berkata, “Luruskan dan rapatkan shaf” atau “istawu, istawu”.

Parameter Persatuan 

Perlu diketahui bahwa persatuan dan kesatuan umat Islam dapat kita lihat dari rapat dan lurusnya shaf dalam shalat . Maka tak heran jika kita lihat kondisi umat saat ini berpecah belah dan saling berselisih.

Tentang hal ini, Rasulullah saw pernah bersabda, “Harus kalian luruskan shaf kalian, atau Allah akan memecah belah persatuan kalian.” (HR Muslim). Ini artinya, perpecahan itu bisa bermula dari tidak rapatnya shaf dalam shalat.

Dalam hadis lain Rasulullah saw bersabda, “Rapatkanlah shaf-shaf kalian, saling berdekatanlah, dan luruskanlah dengan leher-leher (kalian), karena demi Dzat yang jiwaku berada di dalam genggamannya, sesungguhnya aku melihat setan masuk dari celah-celah shaf seakan-akan dia adalah kambing kecil.” (HR Abu Dawud).

Diriwayatkan Bukhari dan Muslim Rasulullah saw bersabda, “Benar-benarlah kalian meluruskan shaf-shaf kalian atau Allah akan membuat berselisih di antara wajah-wajah kalian.” Berkata Imam An Nawawi, “Makna hadis ini adalah akan terjadi di antara kalian permusuhan, kebencian dan perselisihan di hati.”

Perselisihan antara wajah, bisa kita artikan dengan perbedaan cara pandang dalam berbagai masalah kehidupan. Bisa jadi apa yang sekarang menimpa umat Islam yang semestinya bersatu, saling tolong-menolong justru sebaliknya. Satu sama lain saling bunuh-membunuh, perang, memfitnah, dan terjadilah perpecahan di tubuh umat Islam sendiri.

Lebih jauh Rasulullah saw mengingatkan kepada umatnya, terutama kepada imam yang memiliki wewenang dan tanggungjawab kepada makmumnya agar bisa tegas dalam meluruskan dan merapatkan shalat.

“Siapa menyambung suatu shaf, niscaya Allah menyambungnya (dengan rahmatNya). Dan siapa yang memutuskan suatu shaf, niscaya Allah memutuskannya (dari rahmatNya). “(HR An-Nasa’i).

Dari beberapa hadis di atas, bisa kita tarik kesimpulan bahwa ternyata ada keterkaitannya antara kondisi shaf shalat yang saat ini diabaikan khususnya imam shalat dengan persatuan dan kesaatuan umat Islam sangat erat. Tugas kita, apakah itu imam yang memimpin shalat atau makmum yang tugasnya mengingatkan imamnya untuk memperbaiki shaf dalam shalat kita. Wallahu’alam bissawab. (T/P08/R2).

*Wartawan Mi’raj News Agency (MINA)

 

Mi’raj News Agency (MINA)

Rate this article!

Leave a Reply