KOMITE WARTAWAN DESAK MALI SELIDIKI SERANGAN PADA JURNALIS

New York, 1 Jumadil Awal 1434/12 Maret 2013 (MINA) – Komite Perlindungan Wartawan (CPJ) di New York, Senin (12/3) mendesak pihak berwenang di Mali harus menyelidiki serangan terhadap seorang jurnalis radio di kota Niono, Mali.

Seperti yang dilansir Modernghana.com, CPJ mengatakan bahwa serangan itu terjadi dua pekan setelah jurnalis Dramane Traore, presenter stasiun radio oposisi swasta Kayira, menerima ancaman yang memperingatkannya untuk mengundurkan diri dari stasiun.

Menurut laporan, penyerang pergi ke rumah Traore, di kota Niono tanggal 2 Maret dan menikamnya di bagian atas kepalanya. Pria itu pergi ke rumah wartawan dengan dalih memberikan surat kepada stasiun radio untuk disiarkan, kemudian  melarikan diri dari TKP setelah serangan itu. Traore dirawat di rumah sakit setempat dengan cedera kepala.

Traore sering memberikan analisis kritis terhadap situasi politik di Mali. Dia sering membahas isu-isu sensitif seperti korupsi, pemerintah daerah, dan perang sipil yang berlangsung di Mali utara.

Sejak 16 Januari kelompok-kelompok oposisi di negara itu telah berjuang  melawan pemerintah untuk otonomi yang lebih besar di wilayah utara yang  dikenal sebagai Azawad.

“Pihak berwenang di Mali harus berbuat lebih banyak untuk menjamin keselamatan semua wartawan,” tegas Wakil Direktur CPJ Robert Mahoney. “Pelaku serangan itu harus bertanggung jawab sebagai sinyal bahwa perilaku buruk terhadap pers tidak akan ditoleransi.”

Dua minggu sebelum serangan, seorang pria tak dikenal  memperingatkan Traore bahwa ia akan dibunuh dalam satu minggu kecuali ia mengundurkan diri dari Radio Kayira dan memutuskan hubungannya dengan partai politik oposisi SADI. SADI didirikan oleh pemilik Radio Kayira Oumar Mariko.

Tidak jelas apakah Traore anggota dari partai SADI, tapi wartawan setempat mengatakan cakupan Radio Kayira sejalan dengan sikap partai politik. Stasiun ini sering menyiarkan berita terkait isu oposisi.

Sumber CPJ mengatakan serangan dan ancaman telah dilaporkan ke polisi dan Perdana Menteri Django Cissoko. Dia mengatakan penyerang telah diidentifikasi ke pihak berwenang, namun polisi tidak membuat penangkapan. Bally Idrissa Sissoko, asisten media perdana menteri, tidak menanggapi panggilan atau pesan CPJ.

Menurut Agence France-Presse, radio Kayira telah menjadi target ancaman dan serangan sejak kudeta 2012 Maret. Bulan April kantor stasiun dirusak, bulan Mei orang tak dikenal membakar stasiun. Belum ada penuntutan  meskipun keluhan terhadap ancaman dan serangan terhadap staf radio terus ada. (T/P09/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply