KONDISI TAHANAN MOGOK MAKAN KIAN BURUK

Samir Al-IsawiRamallah, 20 Rabiul Akhir 1434/2 Maret 2013 (MINA) – Menteri urusan Tahanan Palestina, Issa Qaraqe, menyatakan, kondisi kesehatan seorang tahanan Palestina yang melakukan aksi mogok makan, Samer Al-Isawi, semakin memburuk,  sehingga diperlukan pemindahan dari klinik penjara ke rumah sakit.

“Samer Al-Isawi, dipindahkan ke Rumah Sakit Rambam di Haifa pada Rabu malam (27/2),” kata Qaraqe seperti dilansir Quds Media yang dipantau Mi’raj News Agency (MINA), Sabtu pagi (2/3).

Selama konferensi pers di Ramallah, ibunda Al-Isawi menyatakan, tidak ada kata-kata yang cukup kuat untuk menggambarkan rasa sakit dan penderitaan saat anaknya sedang melakukan aksi mogok makan terpanjang dalam sejarah.

Dia menambahkan, keluarga Isawi menandai kematian putra mereka Fadi yang dibunuh oleh tentara penjajah Israel, Selasa (26/2), dan sekarang keluarga Isawi khawatir tentang nasib Samer Isawi.

Samer Isawi, 33 tahun, telah ditahan tanpa dakwaan selama lebih dari tujuh bulan oleh penjajah Israel. Ia dibebaskan dari penjara pada Oktober 2011 sebagai bagian dari pertukaran tahanan seorang perwira Israel Gilad Shalit dan kemudian ditahan lagi tanpa tuduhan pada tanggal 7 Juli 2012.

Issawi telah melakukan mogok makan sejak Agustus 2012 untuk memprotes penahanan atas dirinya. Kini Samer Isawi alam kondisi kritis : kehilangan penglihatannya, muntah darah, dan hampir kehilangan kesadaran. Demikian yang dilaporkan Quds Media yang dikutip MINA.

Pada Kamis (21/2), Pengadilan Distrik penjajah Israel di Al-Quds (Yerusalem) menghukum Al-Isawi hingga delapan bulan penjara. Al-Isawi masih menghadapi kemungkinan hukuman penjara jangka panjang yang dapat diaktifkan kembali oleh Pengadilan Militer penjajah Israel.

Disamping itu, Lembaga Tahanan Palestina melaporkan, tahanan Palestina yang melakukan aksi mogok makan lainnya, Ja’far Iz-Iddin dan Tareq Qa’daan menangguhkan mogok makan mereka hingga enam Maret mendatang, tanggal dimana ditetapkannya oleh pengadilan militer penjajah Israel ‘Ofer’ untuk membicarakan proses permintaan Penahanan Administrasi mereka.

Pengadilan akan mengadakan sidang pada Rabu mendatang (6/3), pukul 13:00 waktu setempat, untuk menentukan apakah penjajah Israel melepaskan kedua tahanan tersebut atau mengaktifkan kembali perintah penahanan terhadap mereka, meskipun fakta bahwa tidak ada biaya jaminan yang diajukan terhadap mereka.

Iz-Iddin dan Qa’daan memulai aksi mogok makan pada 27 November 2012 untuk menuntut pembebasan karena mereka ditahan tanpa tuduhan.

Satu lagi tahanan Palestina yang melakukan aksi mogok makan, Ayman Sharawna yang melanjutkan mogok makan pada tanggal 1 Juli 2012, namun berhenti pada 23 Desember setelah yakin akan ada perkembangan dalam kasus ini. Namun kemudian dia memulai kembali mogok makan tersebut pada Januari 2013 kemarin.

Seperti Samer Al-Issawi, yang telah mogok makan selama lebih dari 200 hari, Sharawna kembali ditahan setelah sempat dibebaskan saat pertukaran tawanan Oktober 2011 lalu. Sharawna dipindahkan ke Soroka University Medical Center

Tuntutan Utama Aksi Mogok Makan

Lebih dari 1.600 tahanan melakukan aksi mogok makan sejak 17 April 2012 lalu. Tuntutan utama mereka adalah membuka kembali kunjungan keluarga dari Gaza dan menghentikan penahanan di sel isolasi, serta memprotes penjajah Israel karena menahan tanpa dakwaan atau proses pengadilan,  memberikan setiap tahanan atas hak mereka untuk menggugat legalitas penahanan mereka dan hak mereka untuk mendapatkan bantuan hukum. Penjajah Israel menghentikan kunjungan keluarga bagi para tahanan yang melakukan aksi mogok makan.

Organisasi Hak Asasi Manusia Urusan Tahanan Palestina, AdDameer, melaporkan, total tawanan warga Palestina yang kini berada di penjara-penjara penjajah Israel berjumlah 4.743 tawanan.

Pada akhir September 2012, terdapat sekitar 60 tahanan Palestina yang ditahan di dalam sel isolasi, termasuk dua diantaranya ditempatkan secara terpisah untuk alasan negara atau keamanan penjara.(T/P02/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

 

 

 

 

Leave a Reply