KONFERENSI MUSLIM TERBESAR DI AUSTRALIA

         Melbourne, 1 Jumadil Awal 1434/13 Maret 2013 (MINA) – Mendatangkan ulama Muslim dari seluruh dunia, Muslim Australia akan menyelenggarakan konferensi muslim terbesar di Australia pada minggu ini sebagai tujuan membangun hubungan dengan para penganut agama selain Islam dan masyarakat yang lebih luas.

       “Acara Islam terbesar dan terbaik dalam sejarah Australia ini akan berlangsung di Melbourne dengan lebih dari 20 pembicara internasional dan lokal yang dinamis,” website konferensi tersebut menjelaskan, demikian menurut laporan OnIslam net(12/3) yang dipantau Mi’raj News Agency (MINA) Rabu.

         “Hampir semua organisasi Islam bersatu bersama-sama Insya Allah untuk konferensi ini.”

 

           Diselenggarakan oleh Riset Islam dan Akademi Pendidikan (IREA), konferensi yang berlangsung selama tiga hari ini akan dimulai pada hari Jumat, 15 maret 2012.

            Dengan bertemakan “Konferensi Perdamaian Islam Australia”, acara ini bertujuan untuk menjembatani kesenjangan antara Muslim dan penganut agama lain dan masyarakat luas di Australia.

          “Mendidik massa, membangun hubungan dan mempersempit kesenjangan antara masyarakat,” kata website konferensi tersebut.

           Hampir 1.000 relawan akan membantu dalam pelatihan dan manajemen konferensi.

          Pertemuan tersebut membawa petugas dari masjid yang berbeda di Sydney, Brisbane, Canberra dan Adelaide serta ulama dari seluruh dunia.

         Acara akan dipandu oleh Imam Masjidil Haram di Makkah, Abdul Rahman Al-Sudais.

         Tamu-tamu lainya antaralain Br Imran dari Riset Islam & Yayasan Pendidikan di India, Sheikh Mishary Alaffasy dari Kuwait, Ahmed Bukhatir dan Sheikh Mohammed Ismail dari UEA.

         Br Imran, pada konferensi akan memberikan materi tentang isu-isu sensitif seperti Islam dan kekerasan dan pesan perdamaian Nabi Muhammad SAW.

         Cendekiawan Muslim dari Barat lainnya adalah Sheikh Abdulhadi, seorang pembicara Inggris di PERDAMAIAN TV, Abdullah Rolle dari Inggris, Sheikh Yusuf Estes dan Sheikh Yasir Qadhi dari Amerika Serikat.

        Muslim di Australia telah ada selama lebih dari 200 tahun, sekarang mewakili 1,7 persen dari 20 juta penduduk Australia.

Kritik

       Namun konferensi yang direncanakan tersebut telah mengundang kritik dari Yahudi atas keberadaan ulama ulama tersebut.

       “Penyelenggara acara bertanggung jawab atas perilaku individu atau pembicara (berdasarkan Undang-Undang negara Toleransi Rasial dan Agama),” kata Menteri Urusan Multikultural dan Kewarganegaraan, Nick Kotsiras.

       Nick Kotsiras mengatakan bahwa ia telah mengarahkan Chin Tan selaku Komisaris Multikultural Victoria untuk berbicara pada panitia penyelenggara acara mengenai retorika inflamasi acara tersebut.

       “Saya sudah minta dia untuk menjelaskan kepada mereka bahwa kita hidup dalam keadaan multikultural dan bahwa tujuan kami adalah untuk memastikan bahwa individu-individu, dan kelompok masyarakat dapat hidup damai dan harmoni antara satu sama lainnya”.

         Sarjana Saudi Abdul Rahman Al-Sudais menjadi sasaran utama protes dari Yahudi atas sepak terjang Al-Sudais yang kerap kali mengkritik Israel atas praktik penjajahanya atas tanah di Palestina.

         Kelompok Yahudi dan Kristen telah menyerukan untuk menolak masuknya imam Saudi ke Australia.

        Tapi para pemimpin Muslim menolak hal tersebut, menolak setiap perbandingan antara al-Sudais dan politisi Belanda Geert Wilders yang mengunjungi Australia bulan lalu.

       “Satu orang mungkin telah membuat komentar dengan kemarahan,” kata Keysar Trad, asisten sekretaris Federasi Dewan Islam, pada The Australian.

        “Yang lain telah membuatnya menjadi misi pribadi untuk pergi ke seluruh dunia dan berbohong tentang Muslim.”

        Al-Sudais aktif berbicara menentang penganiayaan terhadap warga Palestina oleh pemukim Israel dan tentaranya di tanah yang dijajah. Dia juga menyerukan upaya untuk memerangi terorisme. (T/P015/E1).

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply