PASUKAN MALAYSIA SERANG KELOMPOK BERSENJATA SULU

Cotabato city, 23 Rabiul Akhir 1434/5 Maret 2013 (MINA) – Pasukan Malaysia, Selasa (5/3), melancarkan serangan menggunakan artileri udara dan darat terhadap kelompok bersenjata Filipina, dalam upaya untuk mengakhiri konflik yang sedang berlangsung di Sabah. Demikian berita yang dilansir oleh Xinhua dan dipantau MINA.

Serangan terjadi setelah kekerasan dalam beberapa hari terakhir yang menewaskan sedikitnya 27 orang, kata seorang pejabat pemerintah Malaysia. 

Raja Muda Agbimuddin Kiram, adik dari Sultan Sulu dan pemimpin kelompok dari Mindanao mengatakan jet tempur Malaysia menjatuhkan bom di posisi mereka di Sabah.

“Kita bisa melihat jet tempur. Memang benar bahwa mereka melancarkan serangan udara. Mereka tidak mendengarkan kami, pemerintah Filipina dan Malaysia,” kata Raja Muda yang tiba dari Mindanao 12 Februari lalu.

Raja mengatakan, dia tidak yakin apakah ada korban di pihak mereka dalam serangan terbaru yang dilakukan oleh pasukan Malaysia.  

Operasi untuk mengambil alih wilayah Malaysia yang ditempati oleh sekitar 180 orang Filipina, terjadi sekitar pukul 07:00 pagi waktu setempat di Lahad Datu melawan kelompok Muda Rajah.

Dua belas pengikut Sulu Sultan Jamalul Kiram III, tewas dalam bentrokan dengan pasukan Malaysia. Pasukan Kiram yang pergi ke Sabah tiga minggu lalu untuk menegaskan klaim mereka atas sumber daya mineral dan minyak yang saat ini dikuasai Malaysia.

Kantor Berita Malaysia Bernama, melaporkan Ahad (3/3), satu polisi Malaysia tewas dalam serangan oleh kelompok penyusup bersenjata di Kampung Sri Jaya, Siminul, Semporna, Sabah, sehingga jumlah polisi Malaysia yang tewas dalam serangan itu mencapai enam orang.

Inspektur Jenderal Kepolisian Malaysia Tan Sri Ismail Omar mengatakan, lima petugas dari markas kepolisian distrik Semporna ditugaskan untuk melakukan investigasi, setelah pihak polisi menerima informasi tentang adanya sekelompok orang bersenjata di desa itu. Polisi ditembak saat mendekati salah satu rumah warga dan mereka menembak kembali untuk membela diri.

Pada konferensi pers pada pukul 21.00 yang diadakan di Felda Sahabat, Kampung Tanduo, di Lahad Datu, Ismail juga mengatakan, mayat enam polisi tersebut telah dibawa ke Rumah Sakit Semporna.

“Identitas mereka akan diungkapkan kepada keluarga masing-masing sebelum diposting di situs resmi Kepolisian Kerajaan Malaysia,” katanya.

Pada konferensi pers malam itu, Ismail membantah bahwa polisi disandra dalam insiden itu dan dipenggal oleh para penyusup. “Ini hanya rumor dan saya meminta masyarakat untuk tidak percaya ada rumor mengenai insiden tersebut,” katanya. Dia menambahkan bahwa situasi di desa tersebut kini telah kembali normal.

Seruan perdamaian

Pemerintah Filipina Sabtu pekan lalu kembali mendesak Kesultanan Sulu untuk menarik pasukannya di Sabah. “Menyerah sekarang, tanpa syarat,” kata Presiden Benigno Aquino.

Filipina menegaskan bahwa permasalahan ini harus diselesaikan tanpa ada pertumpahan darah dari kedua belah pihak. Pemerintahan Aquino juga menekankan, mereka tidak menghiraukan klaim Kesultanan Sulu atas Sabah. 

“Tidak pernah sekalipun kami menghiraukan klaim mereka. Kami tahu bahwa keluarga Kiram mengklaim Sabah dan kami tidak menghiraukannya,” kata Sekretaris Komunikasi Strategis Istana Malacanang Ricky Carandang kepada Radyo Inquirer kemarin.

Seruan untuk berdamai juga datang dari berbagai organisasi Muslim di Filipina. Salah satunya adalah Komisi Nasional Warga Muslim Filipina (NCMF) yang menyerukan seluruh pihak di Filipina dan Malaysia untuk menahan diri dan melakukan langkah diplomatis tanpa kekerasan.

Ketua Front Pembebasan Nasional Moro (MNLF), Nur Misuari, mengatakan, kedua pihak harus berkepala dingin dan segera menyudahi konflik tersebut. Dia juga menyerukan kepada Perdana Menteri Malaysia Najib Razak untuk berhenti mengirimkan pasukannya dan melunakkan suaranya dalam menghadapi masalah ini.(T/P014).

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Leave a Reply