KONGO: PARLEMEN BELGIA TERLIBAT RENCANA PEMBUNUHAN PRESIDEN KONGO

Kinshasa, 11 Jumadil Awal 1434/23 Maret 2013 (MINA) – Menteri Dalam Negeri Republik Demokratik Kongo (DRC) Richard Muyej mengatakan, Jumat (22/3) di Kinshasa, DRC berhasil gagalkan rencana pembunuhan Presiden Joseph Kabila yang melibatkan anggota parlemen Belgia.

Sumber Press TV yang dipantau MINA, menyebutkan komplotan dokter Belgia keturunan Kongo Jean-Pierre Kanku Mukendi dan mantan perwira polisi Kongo Isidore Madimba Mongombe ditangkap pada Februari di ibukota Kinshasa.

Muyej mengatakan kedua pria itu mengaku merencanakan pembunuhan Kabila dan menggulingkan pemerintahannya. “(Mukendi) mengaku berencana menyerang kota Kinshasa dan menghilangkan fisik kepala negara, rencana ini disetujui pada pertemuan besar yang dipimpinnya pada 20 Januari di Kinshasa,” katanya.

Muyej  mengatakan dengan bantuan dari anggota parlemen Belgia, Mukendi telah membentuk sebuah kelompok yang disebut “Mouvement Debout Congolais” atau Gerakan Bangkit Kongo. “Dengan bantuan dari anggota parlemen Belgia Laurent Louis, dia menambah pertemuannya dengan rekan-rekan Kongonya (di Belgia) dengan tujuan mempersiapkan dan menyelesaikan proyek menggulingkan pemerintah (Kongo),” tambah Muyej.

DRC adalah negara kaya mineral yang luas di Afrika. Negara ini menghadapi banyak masalah selama beberapa dekade terakhir, seperti kemiskinan yang parah, infrastruktur yang hancur, dan perang di wilayah timur yang  berlangsung sejak 1998 dan menyebabkan 5,5 juta orang tewas.

Joseph Kabila Kabange

Joseph Kabila Kabange (umum dikenal sebagai Joseph Kabila, kelahiran 4 Juni 1971) adalah politikus Kongo yang telah menjadi Presiden DRC sejak Januari 2001. Ia menjabat sepuluh hari setelah pembunuhan ayahnya, Presiden Laurent Kabila-Desire. Ia terpilih sebagai Presiden pada 2006. Tahun 2011, ia terpilih kembali untuk masa jabatan kedua hingga sekarang.

Kabila menjadi kepala negara pertama yang lahir di tahun 70-an hingga Roosevelt Skerrit menjadi Perdana Menteri Dominika pada Januari 2004. Di usia 30, ia dianggap masih muda dan belum berpengalaman. Namun ia berusaha mengakhiri perang sipil yang sedang berlangsung dengan menegosiasikan kesepakatan damai dengan kelompok perlawanan yang didukung Rwanda dan Uganda. Tahun 2002 perjanjian perdamaian ditandatangani pada Dialog Inter-Kongo di Sun City, Afrika Selatan, yang mengakhiri Perang Kongo Kedua. Hal itu mempertahankan Joseph Kabila sebagai Presiden dan kepala negara Kongo.

Setelah itu Kabila membentuk pemerintahan sementara dengan merekrut para pemimpin dari kelompok perlawanan utama sebagai wakil presiden. Tanggal 28 Maret 2003 pemerintahannya berhasil menggagalkan upaya kudeta di sekitar Kinshasa. Tanggal 6 Desember 2006, Kabila kembali diresmikan sebagai presiden baru setelah berkompetisi dalam pemilihan umum. (T/P09/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply