KOTA IRAK DILANDA SERANGKAIAN PEMBOMAN MASJID

Baghdad, 18 Jumadil Awal 1434/30 Maret 2013 (MINA) – Serangkaian bom mobil dekat masjid Syiah menargetkan jamaah yang menghadiri shalat Jum’at dan menewaskan sedikitnya 18 orang, yang terbaru dalam kerusuhan menjelang pemilihan pertama Irak sejak 2010.

Ledakan pada Jumat, yang juga melukai lebih dari 100 orang itu, terjadi beruntun ditempat yang berbeda di Baghdad Binook, Qahira, Zafraniyah dan Jihad, serta di daerah kota Kirkuk selatan. Belum ada kelompok yang bertanggungjawab atas serangan tersebut, namun pejuang Sunni yang terkait dengan al-Qaeda sering menargetkan kaum Syiah yang mereka anggap sebagai murtad dan pendukung pemerintah pimpinan Syiah, demikian laporan dari Aljazeera yang dipantau MINA.

Di Baghdad, empat bom mobil yang meledak di dekat masjid Syiah di ibukota menewaskan setidaknya 14 orang tewas dan 35 lainnya terluka, petugas keamanan dan medis mengatakan. Sementara itu di Kirkuk, yang terletak 240 km utara ibukota, empat orang tewas dan 71 terluka, akibat bom mobil yang menargetkan masjid Syiah, kepala kesehatan provinsi Sadiq Omar Rasul mengatakan.

“Aku sedang berdoa di dalam Husseiniyah (masjid Syiah) saat shalat Jumat,” kata Salim Aziz al-Bayati, salah satu jamaah yang terluka dalam serangan tersebut. Korban lainnya adalah Mohsen al-Battat, seorang wakil yang paling dihormati dari ulama Syiah Irak Ayatollah Ali Husseini al-Sistani, yang telah memimpin doa. Sumber rumah sakit mengatakan Battat tidak mengalami luka yang serius.

Penuh Darah

Di Qahira Baghdad, seorang reporter berita kantor AFP melaporkan, di daerah tersebut terlihat genangan darah di tanah dan kerusakan parah pada mobil, rumah dan toko. Serangan itu terjadi di tengah meningkatnya kekerasan di seluruh negara yang tengah mempersiapkan pemilu pertama dalam tiga tahun, pemilu tingkat provinsi yang akan diselenggarakan di 12 dari 18 provinsi Irak pada 20 April.

Jajak pendapat dipandang sebagai barometer kunci atas dukungan untuk Perdana Menteri Nuri al-Maliki saat ia berdebat mengkritik kabinet persatuan dan protes di masyarakat minoritas Sunni Arab. Serangan di Kirkuk juga cenderung meningkatkan ketegangan di kota dimana sengketa berjalan lama di wilayah antara pemerintah pusat di Baghdad dan wilayah otonomi negara Kurdistan.

Kekerasan menurun pada 2006 dan 2007, tapi serangan masih terjadi. Kekerasan terbaru ini terjadi beberapa hari setelah ulang tahun ke-10 dari invasi pimpinan AS ke Irak, yang menggulingkan diktator Saddam Hussein dan berusaha untuk membangun sekutu untuk stabil, demokratis di tempatnya tapi kekerasan brutal dan perselisihan politik yang tak ada habisnya.(T/P08/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Leave a Reply