KRISIS EKONOMI DAN SOLUSINYA MENURUT ISLAM

 Oleh Widi Kusnadi*

Pendahuluan

Dalam rangka memperingati hari Bank Dunia yang jatuh setiap 1 April, banyak bahasan dan diskusi tentang  ekonomi yang terjadi di beberapa negara dan solusi mengatasinya. Bagi umat Islam, tidak sedikit diantara mereka melakukan diskusi dan kajian tentang bagaimana mengatasi permasalahan krisis ekonomi yang terjadi di negaranya.

Di Indonesia sendiri, Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo pada 25 Maret 2013 lalu menyampaikan bahwa ia bermimpi menjadikan Indonesia sebagai sentra perbankan syariah dunia. Agus bertekad memindahkan center of excellent syariah dari Kuala Lumpur, Malaysia ke Indonesia. Sebagai negara berpenduduk Muslim terbanyak di dunia, BI perlu mencontoh Malaysia yang mendominasi pasar sukuk dan obligasi syariah global.

Agus memaparkan, kebijakan jangka pendeknya ada tiga. Pertama, meningkatkan SDM perbankan syariah secara kuantitatif, dengan cara mendorong keuangan syariah, penelitian, serta link and match dengan dunia pendidikan.

Kedua, inovasi produk dan layanan yang mengedepankan keunikan. Artinya, perlu grup praktisi perbankan syariah untuk inovasi produk syariah yang dikembangkan. Ketiga, sosialisasi dan edukasi syariah kepada masyarakat.

Perbankan syariah di Indonesia tumbuh dengan baik. Total asetnya mencapai Rp 195 triliun dengan pertumbuhan 34 persen tahun per tahun.

Prestasi perbankan syariah nasional mampu menunjukkan akselerasi pertumbuhan yang tinggi dengan rata-rata 40 persen per tahun selama lima tahun terakhir. “Sedangkan pertumbuhan perbankan konvensional saja hanya 16 persen per tahun,” ujar Agus.

Sementara itu Direktur Bank Muamalat, Andi Bukhari mengatakan, sektor perbankan syariah akan menghadapi tantangan ekonomi global dimana tantangan itu akan menyebabkan pertumbuhan ekonomi melambat serta terjadinya krisis ekonomi.

“Sektor perbankan syariah sedang menghadapi tantangan dengan krisis ekonomi global yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi melambat dan krisis keuangan di Asia telah berdampak terhadap krisis ekonomi, serta harus bersaing dengan perbankan nasional dan internasional“ kata Andi.

Al Qur’an Berbicara Tentang Krisis Ekonomi

Memang dalam beberapa dekade, fakta menunjukkan bahwa tidak ada satupun negara Muslim yang berstatus sebagai negara berkembang yang lolos dari jeratan krisis ekonomi. Di Indonesia kita telah mengalami krisis pada tahun 1930, 1940, 1950, 1960, 1970, 1980, 1997, dan 2001, bahkan hingga sekarang. Hal ini belum termasuk inflasi, penurunan nilai mata uang, dan sederet fenomena lain yang menghiasi ekonomi bangsa Indonesia.

Allah berfirman dalam surah Thaha, ayat 124-126 :

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى  

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”

قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيرً ا  ( ) قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنْسَى

“Berkatalah ia : `Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat ?”

Dalam ayat diatas, Imaam Adz-Dzahabi dalam kitab Al Kaba’ir  mengatakan bahwa yang dimaksud dengan kehidupan yang sempit adalah kehidupan di dunia yang tidak ada kelapangan, sulit memenuhi keburuhan hidup, dan tidak merasakan kebahagiaan serta kegoncangan-kegoncangan dalam kehidupannya.

Sedangkan dalam hadist, Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wa Salam bersabda :

حَدَّثَنا مُحَمَّد بن عَلِي الْمَرْوَزِي ثَنَا أبُو الدَّرْداء عَبْد العَزِيْز بن المنيب حدثني إسحاق بن عبد الله بن كيسان حدثني أبي عن الضحاك بن مزاحم عن مجاهد وطاوس عن بن عباس رضي الله عنهما قال قال رسول الله  صلى الله عليه وسلم  خَمْسٌ بِخَمْسٍ: مَا نَقَضَ قَومٌ العَهْدَ إِلاَّ سُلِّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوُّهُمْ وَمَا حَكَمُوْا بِغَيْرِ مَا أَنْزَلَ الله إِلاَّ فَشَا فِيْهِمُ الفَقْرُ وَلاَ ظَهَرَتْ فِيْهِمُ الفَاخِشَةُ إِلاَّ فَشَا فِيْهِمُ المَوتُ وَلاَ طَفَّفُوْا المِيْكَالَ إِلاَّ مُنِعُوْا النَّبَاتَ وَأُخِدُوْا بِالسِّنِيْنَ وَلاَ مَنَعُوْا الزَّكَاةَ إِلاَّ حُبِسَ عَنْهُمُ القَطْرُ.

“Lima (perkara dibalas) dengan lima (perkara): (1) suatu kaum tidak menyalahi janji melainkan musuhnya dimenangkan atas mereka, (2) mereka tidak menghukumi dengan selain yang diturunkan oleh Allah melainkan merata kefakiran, (3) tidak terang-terangan perzinaan pada mereka, melainkan merata kematian pada mereka, (4) mereka tidak mengurangi takaran/timbangan melainkan dihalangi tumbuh-tumbuhan dan dikenai tahun-tahun paceklik, dan (5) mereka tidak menahan zakat melainkan ditahan hujan dari mereka.”  (HR. Thabrani, VIII H. 50 nomor 2080).

Krisis ekonomi merupakan penderitaan tentang materi yang dialami oleh umat manusia tanpa kecuali. Hal itu akan dirasakan siapa saja, baik yang banyak hartanya maupun yang miskin papa. Apakah dia seorang pengusaha besar yang mengalami kebangkrutan, atau juga seorang miskin yang tidak tahu apakah esok hari akan memiliki makan atau tidak. Mungkin juga mereka tidak bangkrut tapi kebutuhannya terus menerus meningkat, sehingga kekayaan yang dimiliki itu tidak dapat menanggulangi kebutuhan hidupnya. Di samping itu, bisa juga orang yang memiliki kekayaan melimpah tapi tidak bisa menikmati kekayaan yang dimilikinya.

Islam telah memberikan suatu kaidah terbaik dalam membentuk sebuah keseimbangan ekonomi dalam masyarakat. Keberhasilan suatu sistem ekonomi dalam sebuah masyarakat atau negeri sangat tergantung kepada seberapa jauh mereka memperhatikan pedoman-pedoman yang telah diberikan Islam yang termaktub dalam Al-Qur’an dan Al-Hadist.

Muhammad Idris, seorang mahasiswa Pascasarjana Universitas Ibnu Khaldun dalam tulisannya mengatakan bahwa sedikitnya ada lima hal yang harus diperhatikan dalam upaya mengatasi krisis yang terjadi, yaitu :

Pertama : Masyarakat, terutama para pemimpinnya harus menyadari bahwa segala sesuatu yang ada di bumi ini adalah milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang diamanahkan kepada manusia. Oleh karenanya mereka harus kembali kepada hukum-hukum yang telah ditentukan oleh Allah Maha Pencipta. Hal ini diperintahkan dalam surah Al Baqarah ayat 284.

Kedua : Status harta yang dimiliki adalah amanah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala sehingga dalam menikmatinya tidak berlebih-lebihan dan penggunaan harta itu harus digunakan sebesar-besarnya untuk kepentingan umum, bukan untuk kepentingan pribadi maupun kelompok tertentu. Hal ini ada dalam surah Ali Imran ayat 14.

Ketiga : Pencarian dan penggunaan harta hendaknya dilakukan dengan cara yang halal, sesuai dengan aturan Allah Subhanahu Wa Ta’ala sehingga tidak menimbulkan kerugian dan penindasan kepada manusia yang lain. Hakekat dari jalan halal itu sesungguhnya adalah keadilan bagi para pelaku ekonomi yang memberikan kemanfaatan dan kemaslahatan bagi semua pihak. Perintah ini terdapat dalam surah Al Baqarah ayat 267.

Keempat : Dalam bekerja dan berusaha, hendaknya tidak melupakan kewajiban-kewajiban terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan manusia. Kewajiban terhadap Allah seperti shalat, puasa, haji, dan lain sebagainya. Sedangkan, kewajiban kepada manusia meliputi zakat, infaq, shodaqoh, menyantuni fakir miskin serta anak yatim, dan lain-lain. Hal ini terdapat dalam surah Al Hasyr ayat 7.

Kelima : Apabila jalan yang ditempuh saat ini masih merupakan jalan riba, berbau kemaksiatan dan hal-hal lainnya yang lagho (sia-sia), maka harus segera dirubah dengan jalan halal dan diridhai Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Hal ini termaktub dalam surah Al Mutaffifin ayat 1-6.

Kesimpulan

Dari uraian diatas dapat kita simpulkan bahwa terjadinya krisis yang terjadi di masyarakat sejatinya adalah atas perbuatan dari mereka sendiri yang mengabaikan rambu-rambu dan perintah  Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Krisis adalah sebagai akibat dari perbuatan mereka sebagai peringatan betapa pentingnya umat manusia untuk selalu tunduk dan patuh terhadap firman-firman Ilahi yang menciptakan bumi ini dan segala isinya.

Krisis juga bisa bersifat sebagai hukuman bagi mereka yang telah menutup hati dan pikirannya terhadap kalam-kalam Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Hal itu merupakan bentuk kehidupan yang sempit di dunia sebagai balasan dari polah tingkahnya yang selalu merusak tatanan kehidupan alam dan manusia yang telah diamanahkan kepadanya.

Islam hadir sebagai solusi dari segala permasalahan umat manusia. Dengan syariat yang lengkap dan paripurna yang dimukjizatkan kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wa yang mulia. Islam pasti mampu menjawab segala permasalahan dan tantangan jaman sampai hari kiamat tiba. Syariat-syariatnya tidak lekang oleh perkembangan jaman dan tidak pula kadaluarsa karena termakan usia.

Dengan kembali kepada ajaran agama Islam, manusia pasti merasakan ketentraman, kemakmuran dan kebahagiaan yang hakiki. Sejarah telah membuktikan betapa cemerlangnya masa-masa ketika manusia mengamalkan ajaran-ajaran dan sunnah Nabi. Sekarang, ketika masyarakat dilanda krisis, maka solusi terbaik adalah kembali mengamalkan tuntunan Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang Maha Suci. Semoga niat dan tekad serta apa yang kita usahakan menjadi amalan ibadah yang diberkahi. (P04/P02)

*Penulis adalah wartawan di kantor berita Islam Mi’raj News Agency (MINA)

Mi’raj News Agency (MINA)

 

Leave a Reply