KETUA MUI PUSAT : HALAL KEWAJIBAN YANG HARUS DITAATI UMAT ISLAM

Semarang, 12 Jumadil Awal 1434/24 Maret 2013 (MINA) – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Dr. KH. MA. Sahal Mahfudz mengatakan, halal merupakan kewajiban yang harus ditaati oleh umat Islam, sehingga harus ditangani dengan baik.

“Halal merupakan kewajiban yang harus ditaati oleh umat Islam, sehingga harus ditangani dengan baik. Salah satunya dengan melakukan pengkajian, baik dari aspek science maupun aspek fiqih,” kata Mahfudz usai penandatanganan kerja sama antara Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika MUI (LPPOM MUI) dengan Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang, Sabtu kemarin (23/03).

Dalam siaran pers LPPOM MUI di website resminya yang dipantau MINA, Mahfudz menambahkan, persoalan produk halal adalah masalah bagi umat Islam, karena itu LPPOM MUI mempunyai tanggung jawab dalam memberikan pengarahan dan sosialisasi pada masyarakat agar dapat mengkonsumsi produk halal.

“Tanggung jawab tersebut sudah dilakukan LPPOM MUI selama 24 tahun lebih dan untuk meningkatkan pelayanan di bidang produk halal, LPPOM MUI mangajak kepada semua komponen Masyarakat untuk ikut serta memperkuat jaminan kehalalan sebuah produk, salah satunya adalah kerjasama antara LPPOM MUI dan Unwahas Semarang,” tambah Mahfudz.

Perpaduan Science dengan Ulama

Selain penandatanganan kerja sama LPPOM MUI dengan Unwahas, pada acara tersebut juga diselenggarkan seminar berjudul “Tantangan Penguasaan Teknologi dalam Penyediaan Produk Halal” serta peluncuran sistem pelayanan sertifikasi berbasis online (Cerol SS 23000) untuk LPPOM MUI jawa Tengah.

Dalam seminar produk halal itu, Rektor Unwahas, Dr. H. Noor Achmad, MA. menegaskan, dunia sedang menghadapi krisis produk makanan halal akibat perubahan iklim global. Oleh karena itu, ketika pangan semakin terbatas, umat Islam tidak boleh mengendur toleransinya terhadap produk makanan halal, karena mengkonsumsi produk halal merupakan kewajiban.

Achmad juga menyatakan, bekerja sama dengan LPPOM MUI, pihak Unwahas telah mempersiapkan diri untuk menjadi lembaga penelitian halal yang kredibel.

Achmad menambahkan, Unwahas telah memiliki Fakultas Teknik Kimia dan Fakultas Farmasi yang dilengkapi dengan laboratorium dan sarana penunjang lainnya yang dapat dimanfaatkan untuk penelitian halal. untuk itu, Unwahas bertekad untuk menjadi pusat penelitian halal di Jawa Tengah.

“Penanganan masalah halal tidaklah mudah, sehingga tidak semua lembaga bisa menangani hal tersebut. Halal tidak hanya menyangkut aspek syariah, melainkan memerlukan penelitian dan kajian secara ilmiah,” ujar Achmad.

Selain Rektor Unwahas yang memberikan sambutan, dalam acara seminar produk halal itu, hadir pula Direktur LPPOM MUI Ir. Lukmanul Hakim, MSi sebagai keynote speaker, serta dua pakar halal sebagai pembicara, Prof. Dr. Ir. Rindit Pambayun, MP. sebagai pakar pangan dan Prof. Dr. H. Sugijanto, MS., Apt sebagai pakar obat dan kosmetika.

Sementara itu, Direktur LPPOM MUI Ir. Lukmanul Hakim, MSi menjelaskan, kerja sama antara LPPOM MUI dengan Unwahas adalah bertemunya aspek science dengan para ulama ahli fiqih, dua aspek penting dalam sertifikasi halal.

Perpaduan antara science dengan ulama, hanya dilakukan di Indonesia, dalam hal ini MUI. Sementara lembaga halal di luar negeri belum melakukan hal itu, sehingga banyak lembaga halal luar negeri yang merujuk LPPOM MUI dalam melakukan sertifikasi halal.

Seiring dengan meningkatnya teknologi pengolahan produk-produk makanan telah memungkinkan masuknya unsur-unsur yang diragukan kehalalannya ke dalam makanan, minuman maupun kosmetika.

“Di sinilah kami berharap, kiranya Unwahas bisa menjadi salah satu pilar yang memberi kontribusi positif dalam menjaga ketenteraman Masyarakat, khususnya dalam hal makanan karena telah terjamin kehalalannya,” tambah Lukmanul. (T/P012/P02)

Mi’raj News Agency (MINA)

 

 

Leave a Reply