MAHASISWA PALESTINA MENINGGAL AKIBAT TEMBAKAN ISRAEL

Ramallah, 27 Rabiul Akhir  1434/8 Maret 2013 (MINA) –  Seorang mahasiswa Palestina yang menderita luka parah pada saat terjadi demonstrasi pada 23 Februari 2013 lalu akhirnya meninggal pada Kamis (7/3) di rumahnya di desa Aboud, sebelah Utara Ramallah.

Muhammad Asfour  (22 ) seorang mahasiswa jurusan ilmu psikologi di al-Quds University, meninggal akibat luka serius di tubuhnya akibat terkena tembakan pasukan Israel.

Asfour terkena peluru di bagian kepala dan beberaba bagian tubuhnya. Dia pertama kali dirawat di sebuah rumah sakit Rafidiya di Nablus. Tetapi kemudian pindah ke rumah sakit di Israel karena peralatan di rumah sakit tersebut yang dianggap tidak memadai untuk melakukan tindakan medis lanjutan.

Sumber-sumber lokal melaporkan bahwa ketika itu tentara menembakkan puluhan bom berisi gas beracun dan menembakkan peluru berlapis logam kepada ratusan mahasiswa yang melakukan aksi demonstrasi di Penjara Ofer Israel, sebelah barat Tepi Barat.

Para mahasiswa sebenarnya melakukan aksi secara damai dan hanya meneriakkan slogan-slogan menentang pendudukan Israel. Mereka tidak melempari batu kepada pasukan Israel. Tapi Israellah yang memulai kerusuhan dengan menembakkan peluru dan gas beracun kepada para demonstran.

Ketua Senat Mahasiswa universitas tempat Asfour belajar menyatakan bahwa mereka bertekad untuk melanjutkan protes mereka dalam rangka mendukung semua tahanan Palestina, terutama mereka yang sedang melakukan aksi mogok makan.

Kepala Pengacara Tahanan Palestina (PPS), Jawad Boulos, melaporkan bahwa Pengadilan Negeri Israel di Yerusalem menolak pengajuan banding untuk tahanan Palestina atas nama  Samer Al-Eesawy.

Boulos mengatakan bahwa Al-Eesawy dibawa ke ruang sidang di kursi roda, dikelilingi oleh puluhan penjaga bersenjata Israel, dan ketika hakim bertanya tentang apa yang ia rasakan, dia hampir tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun karena kondisinya yang semakin kritis akibat tidak makan selama beberapa pekan.

Pada Selasa (5/3) tahanan bernama Ayman Sharawna, dari Hebron, dilarikan ke rumah sakit  Soroka Be’er As-Sabe ‘ , Israel  karena kondisi kesehatannya yang semakin kritis.

Dia memulai aksi mogok makan pada 16 Januari 2013 lalu.  Pada Juli 2012 lalu, ia juga melakukan aksi serupa selama 140 hari sebelum dokter penasehatnya dari badan HAM internasional memintanya menghentikan aksi tersebut.(T/P04/R2).

Mi’raj News Agency (MINA)

Leave a Reply